Bukan Dilihat Dari Produk, Kretek Dari Sisi Pengetahuan dan Keterampilan Kretek Diusulkan WBTB

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:15 WIB
DIKEMBANGKAN: Diskusi tentang Kretek sebagi bagian sejarah dan identitas kebudayaan Indonesia.  (GALIH ERLAMBANG W/ Radar Kudus)
DIKEMBANGKAN: Diskusi tentang Kretek sebagi bagian sejarah dan identitas kebudayaan Indonesia.  (GALIH ERLAMBANG W/ Radar Kudus)

KUDUS - Pengkajian kretek sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) terus dibahas hingga sampai saat ini. Diskusi tersebut membahas kretek dari sisi keterampilan hingga pengetahuan di Ruang Seminar Rektorat Lantai 4 Universitas Muria Kudus, Rabu (26/8). 

Seminar dengan judul Membaca Kembali Kretek Sebagai Bagian dari Sejarah dan Identitas Budaya Indonesia ini menghadirkan dua narasumber. Antara lain, Sejarawan Dr. Sri Margana dan Dr. Edy Supratno.

Sejarawan Sri Margana melihat, kretek perlu dianggap sebagai warisan budaya karena lebih dari sekedar dari produk tembakau. Kretek mempunyai nilai histroris, pengetahuan lokal, kreativitas budaya, praktik sosial, sejarah ekonomi, dan identitas nasional.

Dari beberapa kajian dan riset, Sri Margana menjelaskan, Haji Jambari penemu kretek melakukan eksperimen mengkombinasikan tembakau dan cengkeh. Pada era tersebut, dinilai punya khasiat untuk pengobatan dari unsur cengkeh.

Selain itu, kretek punya sejarah panjang dalam membangun sistem ekonomi di Indonesia. Pengusaha rokok kretek contohnya, pada era kolonial menyumbangkan pendapatannya untuk membiayai membangun negara.

”Kami melakukan pengajuan kretek menjadi warisan budaya tak benda dari sisi keterampilan, mulai dari melinting, membatil, dan lainnya,” katanya.  

Sementara dari sisi pengetahuan, unsur kretek perlu keahlian khusus untuk menghasil kretek yang khas. Salah satunya teknik pencampuran tembakau dan peramauaan.

Margana menjelaskan, dulu kajian ini untuk mengusulkan kretek menjadi warisan tak benda hanya mengerecut pada nilai komuditi produk. Hal tersebut mendapatkan perdebatan dan pertentangan terutama di sisi kesehatan.

”Kami akhirnya mengerucutkan tentang kretek ini lebih khusus, sebagai unsur pengetahuan dan keterampilan. Dan pengenalan sejarah kretek dalam membangun ekonomi dan identitas nasional,” jelasnya. 

Sementara itu, Edy Supratno menyampaikan, tanpa menjelaskan kretek punya ciri khas khusus, salah satunya lewat baunya yang mudah ditandai.

Kretek dilihat dari sisi sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia memiliki sumbangsih. Pengusaha kretek berkontribusi betul untuk membangun ekonomi dan kemajuan negara saat masa kolonial dan paska kemerdekaan tersebut.

”Nasionalisme pengusaha kretek tidak diragukan, karena setiap bulan dulu pasti melakukan perayaan kemerdekaan,” ungkapnya.

Edy menjelaskan dalam warisan ini perlu ada kontribusi dari beberapa pihak. Mulai dari sektor industri, pekerja, keluarga, pelaku tingwe, komunitas, dan masyarakat.

Ia menambahkan, dalam pewarisan ini, kretek bukan hanya dilihat dari pembuatannya. Namun perlu pengembangan dan dilihat dari sisi pengetahuan cara memahami kretek, keterampilan, praktik sosial, dan pemaknaan. (gal)

Editor : Ali Mustofa
kudus identitas budaya produk tembakau warisan budaya tak benda kretek