UNDAAN – Persoalan ketersediaan air menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kabupaten Kudus dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Di tengah upaya tersebut, pemerintah juga tetap memberi ruang bagi petani untuk mempertahankan komoditas yang telah menjadi bagian dari pola tanam lokal, termasuk ketan.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, tidak semua lahan pertanian harus diarahkan untuk menghasilkan padi.
Petani memiliki pilihan komoditas yang disesuaikan dengan kondisi wilayah dan kebiasaan bercocok tanam yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Salah satunya terlihat di Kecamatan Undaan.
Sejumlah petani di wilayah tersebut masih membudidayakan ketan sebagai bagian dari pola tanam mereka.
Menurut Sam’ani, ketan memang berbeda dengan tanaman pangan utama.
Namun, keberadaannya memiliki manfaat ekonomi karena hasil pertanian tersebut dapat masuk ke rantai produksi makanan dan mendukung aktivitas UMKM.
“Ini kan kearifan lokal. Artinya, ketan ini kan tidak masuk di dalam tanaman pangan, tetapi ini kearifan lokal. Bisa dibuat jajan, jenang, keciput. Ini kan termasuk usaha-usaha UMKM juga, kita dukung,” ujar Sam’ani, belum lama ini.
Ia menilai keberadaan tanaman ketan tidak cukup hanya dilihat berdasarkan jumlah hasil panennya.
Komoditas tersebut juga memiliki nilai tambah setelah diolah menjadi berbagai produk pangan yang mempunyai nilai jual.
Di sisi lain, kebutuhan pangan pokok masyarakat Kudus tetap menjadi perhatian.
Sam’ani memastikan produksi beras daerah masih mampu memenuhi kebutuhan bahkan mengalami surplus.
“Alhamdulillah, Kabupaten Kudus sudah swasembada pangan antara 25.000 sampai 30.000 ton per tahun,” katanya.
Sam’ani menjelaskan, pola tanam petani di Kudus juga tidak selalu sama sepanjang tahun.
Setelah menjalani musim tanam pertama dan kedua, sebagian lahan masih bisa dimanfaatkan untuk musim tanam berikutnya.
Pada musim tersebut, petani dapat memilih berbagai tanaman, mulai dari ketan, jagung hingga kacang hijau.
Keputusan tersebut menyesuaikan kondisi lahan sekaligus peluang ekonomi yang tersedia.
Namun, keberagaman pola tanam tersebut tetap membutuhkan dukungan ketersediaan air.
Pemkab Kudus pun berupaya mengoptimalkan sumber air yang dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian.
Salah satunya melalui penggunaan pompa.
Menurut Sam’ani, petani kini diperbolehkan mengambil air dari sungai menggunakan pompa selama pemanfaatannya memang untuk pertanian.
“Sekarang boleh, asal untuk digunakan untuk pertanian,” jelasnya.
Selain mengandalkan pompa, jaringan irigasi juga terus dioptimalkan.
Pemerintah berupaya memaksimalkan berbagai sumber air agar kebutuhan lahan pertanian tetap terpenuhi.
Sebagai langkah tambahan, pembangunan sumur juga menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat ketersediaan air.
Bantuan pembangunan sumur dari TNI diharapkan bisa membantu masyarakat ketika sumber air mulai terbatas.
Sam’ani menegaskan, persoalan air perlu dipersiapkan jauh sebelum musim kemarau.
Menurutnya, masyarakat harus mulai menyimpan air ketika musim hujan agar cadangan dapat dimanfaatkan saat curah hujan menurun.
Ia mendorong setiap rumah untuk memiliki sarana resapan air.
Jika pembangunan sumur resapan dinilai terlalu berat, masyarakat dapat menggunakan lubang biopori sebagai alternatif.
“Menabung air di waktu hujan. Setiap rumah kalau bisa membuat sumur resapan. Kalau enggak kuat membuat sumur resapan, buat biopori. Menabung air di musim hujan,” katanya. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra