KOTA - Sebanyak 500 pemain muda yang tersebar dalam jaringan pembinaan sepak bola Akademi Sarana Talenta Indonesia (ASTI) mulai diarahkan untuk melanjutkan karier ke jenjang yang lebih tinggi.
Salah satu targetnya yakni menembus akademi klub profesional, termasuk Elite Pro Academy (EPA) klub Liga 1 dan Liga 2.
Target tersebut menjadi bagian dari evaluasi perjalanan pembinaan yang telah berlangsung selama tujuh tahun.
Hal itu disampaikan CEO ASTI Kudus, Arif Budianto, dalam kegiatan Motive Action Class yang digelar di @Hom Hotel Kudus, belum lama ini.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 pemain berusia 12 hingga 17 tahun.
Momentum itu tidak hanya menjadi bagian dari peringatan tujuh tahun pembinaan, tetapi juga dimanfaatkan untuk menanamkan motivasi dan kesiapan mental kepada pemain sebelum melanjutkan ke jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
Arif mengatakan, pemain muda perlu memiliki tujuan yang jelas selama menjalani proses pembinaan.
Menurutnya, kemampuan teknis di lapangan harus berjalan beriringan dengan mental dan karakter.
“Bagaimana mereka menemukan alasan untuk bergerak,” ujarnya.
Menurut Arif, program Motive Action Class telah berjalan selama empat tahun.
Kegiatan tersebut diperuntukkan bagi pemain baru maupun pemain lama agar kembali mengingat target yang ingin dicapai selama mengikuti pembinaan.
Mulai 2026, semangat pembinaan tersebut dituangkan dalam tagline “Do the Best, Be the Best”.
Namun, menurut Arif, perjalanan seorang pemain untuk menjadi profesional membutuhkan proses panjang dan konsistensi.
Arif menjelaskan, jenjang pemain dalam pembinaan berada pada usia SMP hingga SMA dan umumnya berakhir ketika pemain memasuki usia 17 tahun.
Karena itu, masa transisi setelah usia pembinaan menjadi perhatian penting.
Pemain yang dinilai memiliki kemampuan dan perkembangan sesuai standar diharapkan dapat melanjutkan ke akademi klub profesional.
“Kita menyiapkan agar siswa ini nantinya bisa menjadi pemain profesional. Para siswa ini jenjangnya SMP-SMA dan mentoknya di usia 17 tahun. Tujuan kita nantinya menyalurkan mereka ke tim akademi Liga 1 yang profesional,” jelasnya.
Sejumlah alumni sebelumnya telah melanjutkan karier ke klub profesional.
Beberapa tercatat bergabung dengan klub Liga 1 seperti Borneo dan Persita.
Sementara di Liga 2, terdapat alumni yang melanjutkan karier ke Persis Solo dan Sumsel United.
Keberadaan alumni tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai jalur yang dapat ditempuh pemain setelah menyelesaikan pembinaan usia muda.
Saat ini, jaringan pembinaan telah berada di 10 kota.
Delapan di antaranya telah memiliki badan hukum dan akta, yakni Kudus, Kendal, Tegal, Semarang, Purbalingga, Kulon Progo, Lamongan, dan Ternate.
Adapun Lampung dan Bekasi masih dalam tahap pengembangan.
Dari seluruh jaringan tersebut, jumlah pemain yang mengikuti pembinaan diperkirakan mencapai sekitar 500 anak.
Sistem pembinaan yang diterapkan juga menyesuaikan kondisi masing-masing daerah.
Sejumlah wilayah menerapkan sistem boarding sehingga aktivitas pemain dapat dipantau secara lebih terstruktur.
Arif menilai sistem tersebut membantu proses pembentukan karakter.
Pemain tidak hanya mendapatkan pembinaan saat latihan, tetapi juga diarahkan membangun kebiasaan dan kedisiplinan dalam aktivitas sehari-hari.
Upaya mengembangkan pemain juga dilakukan melalui keikutsertaan dalam berbagai kompetisi.
Tidak hanya turnamen di dalam negeri, sejumlah tim juga mengikuti ajang internasional.
Dalam Bangkok Youth Cup di Thailand, tim U-10 dan U-12 masing-masing berhasil menjadi runner-up.
Sedangkan tim U-18 menempati peringkat ketiga.
Prestasi lain diraih dalam Batam Prime dengan membawa pulang gelar juara.
Sementara dalam Sangju Cup di Korea Selatan, tim berhasil menempati posisi ketiga.
Arif mengatakan, kompetisi tidak semata-mata menjadi ajang mengejar gelar.
Pertandingan juga digunakan untuk mengukur perkembangan pemain dan mengetahui kekurangan yang masih harus diperbaiki.
Evaluasi dilakukan melalui analisis pertandingan.
Kekurangan yang ditemukan kemudian menjadi bahan untuk menentukan materi latihan berikutnya.
Dalam proses latihan, pemain tidak diarahkan untuk menguasai terlalu banyak teknik dalam waktu singkat.
Pengulangan menjadi metode utama agar kemampuan yang diberikan benar-benar dikuasai.
“Metode di latihan kita intinya adalah pengulangan-pengulangan. Mungkin bahasanya lebih baik mengajarkan satu jurus sampai mahir daripada banyak jurus enggak ada yang mahir,” katanya.
Dengan pola tersebut, pembinaan diarahkan untuk membangun kemampuan pemain secara bertahap.
Selain teknik, aspek mental, karakter, pemahaman permainan, dan pengalaman bertanding juga menjadi bagian yang dipersiapkan.
Target akhirnya bukan sekadar menambah jumlah pemain yang meraih prestasi di kelompok usia, melainkan membuka lebih banyak peluang bagi talenta muda untuk melanjutkan karier ke akademi klub profesional. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra