UNDAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus memperkuat mekanisasi pertanian untuk menjaga produktivitas sekaligus mempertahankan swasembada pangan.
Upaya tersebut dilakukan melalui penyerahan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani (Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan), Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA), dan Brigade Alsintan Kabupaten Kudus.
Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Kudus Sam’ani Intakoris di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Undaan, Senin (24/8).
Alsintan tersebut berasal dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia Tahun 2026 serta dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kudus.
Bantuan dari pemerintah pusat terdiri atas 16 unit traktor roda dua, lima unit traktor roda empat, tiga unit traktor roda empat untuk Brigade Alsintan, sembilan unit pompa air 6 inci, 16 unit pompa air 3 inci, dan satu unit combine harvester.
Sementara itu, dukungan melalui APBD Kabupaten Kudus meliputi lima unit pompa air 8 inci, dua unit combine harvester, serta satu unit traktor roda empat untuk Brigade Alsintan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus.
Sam’ani mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap petani sekaligus bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto.
“Terima kasih Pak Prabowo atas perhatian dan bantuannya kepada para petani di Kabupaten Kudus. Ini merupakan perhatian kepada para petani dalam rangka meningkatkan swasembada pangan,” ujar Sam’ani.
Menurutnya, meski wilayah Kabupaten Kudus relatif kecil, sektor pertaniannya memiliki kontribusi penting terhadap ketersediaan pangan.
Ia menyebut produksi pangan di Kudus telah mencapai sekitar 25 ribu ton per tahun.
“Alhamdulillah, Kabupaten Kudus sudah swasembada pangan. Sekitar 25 ribu ton per tahun. Artinya, kalau kita makan, orang Kudus sudah lebih-lebih. Semangat para petani luar biasa,” katanya.
Sam’ani juga menyoroti munculnya petani dari kalangan generasi muda yang dinilai menjadi modal penting bagi keberlanjutan sektor pertanian di daerah.
Menurutnya, regenerasi petani perlu terus didorong bersamaan dengan pemanfaatan teknologi dan mekanisasi pertanian.
Ia menegaskan, bantuan alsintan yang diberikan pemerintah bukan sekadar tambahan peralatan, tetapi diharapkan mampu mempercepat proses budidaya hingga panen serta meningkatkan produktivitas pertanian.
“Petani adalah pahlawan pangan di Indonesia. Alsintan ini semoga dapat menjadi percepatan produktivitas pertanian. Terima kasih, semoga bisa menjadi petani yang baik dan sukses,” tuturnya.
Sam’ani meminta seluruh penerima menjaga dan memanfaatkan bantuan tersebut secara optimal.
Alsintan yang diberikan merupakan fasilitas untuk kelompok sehingga penggunaannya harus mengutamakan kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi.
“Kami titip alat ini untuk kebersamaan. Jangan saling merasa punya sendiri. Ini untuk kelompok dan kebersamaan para petani,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar setiap kelompok penerima bertanggung jawab terhadap perawatan alat.
Dengan perawatan yang baik, usia pakai alsintan diharapkan lebih panjang sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh para petani.
Selain itu, Sam’ani memastikan seluruh bantuan alsintan tersebut diberikan tanpa pungutan.
Petani diminta segera melapor apabila menemukan pihak yang meminta imbalan dalam proses penyaluran maupun pemanfaatan bantuan.
“Bantuan ini tidak ada pungutan apa pun. Kalau ada yang meminta, silakan laporkan. Jangan sampai bantuan pemerintah justru dibebani dengan pungutan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Didik Tri Prasetiyo menjelaskan, bantuan alsintan diarahkan untuk menjawab kebutuhan mekanisasi di tingkat petani.
Keberadaan alat tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi kerja sekaligus mendukung peningkatan produksi dan produktivitas pertanian.
“Bantuan alsintan ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Poktan, Gapoktan, UPJA, maupun Brigade Alsintan. Mekanisasi sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi, mempercepat proses budidaya, serta menekan kehilangan hasil panen,” ungkap Didik.
Menurut Didik, penggunaan alat dan mesin pertanian juga menjadi bagian penting dalam menghadapi kebutuhan pertanian yang semakin menuntut efisiensi.
Dengan mekanisasi, sejumlah tahapan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar dapat dilakukan dengan lebih cepat.
Pihaknya akan melakukan pendampingan bersama penyuluh pertanian untuk memastikan alsintan digunakan sesuai kebutuhan dan ketentuan.
Pendampingan juga diperlukan agar kelompok penerima mampu mengelola serta merawat alat secara berkelanjutan.
“Harapannya, bantuan ini benar-benar memberikan manfaat bagi petani dan mendukung peningkatan produksi pertanian di Kabupaten Kudus. Kami juga akan terus melakukan pendampingan agar pemanfaatannya sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” katanya. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra