KUDUS — Berkunjung dan menapaki Situs Patiayam seakan seperti masuk ke dalam lorong waktu. Bertualang, merintangi zaman modern yang purba.
Area perbukitan yang ditanami jagung di Kabupaten Kudus berbatasan dengan Kabupaten Pati ini, menyimpan kekayaan cerita. Bahkan jauh lebih tua daripada peradaban manusia hari ini.
Di balik lapisan tanah tersebut, para ahli dan peneliti menemukan jejak kehidupan. Diperkirakan telah berlangsung ratusan ribu tahun lalu.
Pada penelitian tahun ketiga sejak 2024 ini berlangsung 28 Juli hingga 16 Agustus 2026, tim Center for Prehistoric and Austronesian Studies (CPAS) atau Pusat Studi Prasejarah dan Austronesia kembali melakukan penelitian dan ekskavasi di Situs Ngasinan, Patiayam.
Upaya penelusuran jejak-jejak kehidupan purba tersebut berkolaborasi dengan Yayasan Dharma Bakti Lestari. Termasuk dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Fokus penelitian kali ini ialah pencarian dan ekskavasi fosil gajah purba dari genus Elephas.
Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah fosil gajah purba yang relatif utuh. Fosil ini diperkirakan berusia 400.000 hingga 500.000 tahun.
Di balik proses penggalian itu, sejumlah arkeolog muda dan mahasiswa ikut terlibat langsung.
Nurvania Rachmah, Khorine Ridawati, dan Fathul Ulum dari Universitas Gadjah Mada (UGM), serta M. Daffa Alfaridzi dari Universitas Indonesia (UI), menjadi bagian dari tim penelitian yang dibimbing Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak, pendiri sekaligus ketua CPAS.
Bagi mereka, Patiayam bukan sekadar lokasi penelitian. Akan tetapi, menjamah peran sebagai laboratorium terbuka. Terutama untuk mempertemukan teori yang diperoleh di kampus dengan praktik penelitian dan pelestarian warisan budaya.
Empat mahasiswa tersebut dibantu dengan warga setempat, menggali tanah lapis demi lapis. Tampak tekun melewati hari-hari yang terik.
Mereka menggunakan peralatan khusus agar temuan tidak rusak, mencatat posisi setiap temuan, membersihkan dan pengangkatan fosil hingga replika fosil dibuat.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya berupa ekskavasi. Penelitian dilakukan secara multidisiplin, termasuk pemutakhiran data koleksi museum dan pendataan temuan warga.
Pengalaman perdana di Patiayam. Bagi Fathul Ulum, penelitian di Patiayam menjadi pengalaman yang berbeda.
“Kalau saya sendiri, di Patiayam baru kali pertama. Tetapi untuk ekskavasi ini pengalaman kedua saya,” ungkapnya, pada Senin (17/8).
Pengalaman ekskavasi pertamanya dilakukan di Seram, Maluku, pada 2025. Selama sekitar satu bulan, ia turut menelusuri sisa-sisa temuan dan riwayat sejarah migrasi dan persebaran bangsa Austronesia serta Melanesia di Nusantara.
Di Patiayam, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti penelitian yang dibimbing langsung oleh Truman Simanjuntak. Menyaksikan bagaimana penelitian prasejarah tidak dapat ditangani oleh satu bidang ilmu saja.
“Kalau dari saya baru kali ini ikut penelitian yang dibimbing Prof. Truman Simanjuntak. Menggabungkan banyak bidang ilmu, kompleks,” hematnya.
Salah satu hal yang membuatnya terkesan ialah temuan fosil gajah yang relatif utuh.
Menurutnya, temuan semacam itu memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh, termasuk menjadi bagian dari museum situs.
“Kalau temuan situs, amaze-nya ada temuan gajah utuh. Potensial dikembangkan jadi museum situs. Jarang ditemukan fosil yang cukup utuh, meski di lapangan banyak sekali yang terkubur,” imbuhnya.
Bagi Ulum, penelitian di Patiayam juga tidak seharusnya berhenti pada satu kegiatan ekskavasi. Penelitian perlu dilakukan secara berkelanjutan, supaya data yang tersimpan di dalam situs dapat terus diwarisi sebagai ilmu pengetahuan.
Kesadaran masyarakat menurutnya juga menjadi bagian penting dalam pengembangan situs. Lantaran, kebanyakan temuan Patiayam justru berasal dari warga.
Masyarakat yang menemukan fosil biasa melaporkannya kepada pihak museum. Walhasil keberadaan temuan dapat tercatat dan diteliti lebih lanjut.
“Poin utamanya museum dan situs. Banyak sekali temuan. Hampir semua temuan, temuan warga. Warga sudah cukup aware (peduli, red),” ujarnya.
Tahun ini, ia melakukan pemutakhiran data temuan di Desa Terban.
Identifikasi tidak hanya berkaitan dengan jenis tulang, tetapi juga siapa penemunya, lokasi penemuan, verifikasi lokasi, persebaran temuan, maupun jenis temuan di masing-masing lokasi.
Khorine Ridawati menilai penguatan Museum Patiayam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan situs.
Menurutnya, museum membutuhkan tambahan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus di bidang permuseuman.
Kehadiran tenaga ahli dapat membantu museum menyusun storyline, mengelola koleksi, redisplay, hingga memperbaiki sistem penyimpanan.
Pengelolaan koleksi juga masih membutuhkan perhatian. Sejumlah koleksi belum terawat secara optimal.
Keterbatasan ruang penyimpanan membuat sebagian koleksi ditempatkan di luar ruang penyimpanan maupun display.
Karena itu, peningkatan sumber daya manusia dan dukungan pemerintah daerah dinilai penting. Selain menjalankan fungsi konservasi, edukasi, penelitian, dan penyimpanan koleksi secara layak.
Linimasa alam Patiayam terekam jelas, baik saat masih berada di bawah laut hingga sekarang menjadi daratan.
Daffa Alfaridzi melihat penelitian Patiayam sebagai kesempatan untuk memahami situs dari banyak sudut pandang.
Sebelumnya, ia telah mengikuti sejumlah penelitian prasejarah. Pada 2023, ia mengikuti ekskavasi di Ngawi, sekitar 14 kilometer dari Trinil. Ia juga pernah terlibat dalam penelitian di Sangiran pada 2024 dan 2025 dan Liang Bua, Flores, pada 2024.
Berbagai pengalaman tersebut membuatnya sadar, bahwa arkeologi tidak dapat berdiri sendiri.
Dalam penelitian Patiayam, bidang lain diajak berkolaborasi untuk membaca situs secara lebih utuh. Komprehensif. Tim juga melakukan kunjungan ke sejumlah titik dan formasi geologi dengan melibatkan ahli lintas disiplin.
Salah satu perhatian utama ialah mengenai stratigrafi Patiayam yang kompleks.
Lapis-lapis struktur tanah di sini, merekam perubahan lingkungan dalam rentang waktu yang amat panjang.
“Prof. Truman Simanjuntak sebagai ketua tim dan peneliti mendengar dari beberapa sudut pandang. Kami belajar banyak, memahami dan memecahkan permasalahan-permasalahan berkenaan dengan situs,” sambungnya.
Pada Sabtu (15/8), tim juga melakukan tinjauan lapangan bersama sejumlah ahli lintas disiplin, yakni Prof. Dr. Sutikno Bronto, Dr. Harry Widianto, Dr. Herry Jogaswara, Dr. Marlon Ririmasse, Dr. Ferry Karwur, Dr. Eng. Ir. Didit Hadi Barianto serta Dr. Retno Handini.
Termasuk penyiapan museum lapangan yang sebelumnya dilakukan oleh Dr. Ida Bagus Prajna serta peneliti BRIN lainnya.
Tinjauan dilakukan terhadap tatanan stratigrafi Formasi Jambe, yang menjadi formasi tertua yang ditemukan di Situs Patiayam.
Berdasarkan laporan yang disusun oleh M. Mirza Ansyori, M. Ruly Fauzi serta Kasman Setiagama, pada masa ini, sekitar tiga juta tahun lalu, daratan Patiayam masih berada beberapa meter di bawah laut.
Tim kemudian meninjau Formasi Kancilan yang merekam aktivitas vulkanik gunung api. Dari formasi ini tampak wilayah Patiayam pada masa lampau sudah berupa daratan, namun belum sepenuhnya terbentuk.
Tinjauan berikutnya dilakukan di Formasi Slumprit. Pada lapisan ini, bentang alam berupa daratan telah terbentuk.
“Ya, sebetulnya masih ada formasi lain seperti Kedungmojo dan Sukobubuk, namun karena waktu yang terbatas hanya dilakukan tinjauan pada tiga formasi awal,” timpal Prof. Truman.
Selain pengamatan lapangan, tim juga melakukan pengujian sederhana, utamanya terhadap material-material yang terdapat di sejumlah formasi tersebut.
Para arkeolog muda mendapat kesempatan untuk bertanya mengenai waktu, linimasa, hingga proses evolusi alam. Hingga membentuk Patiayam menjadi bentang alam seperti sekarang.
Kekayaan yang terkubur di Patiayam diprediksi masih cukup banyak. Selain gajah purba juga ditemukan fosil rusa, kuda nil, badak, kerbau purba, babi hutan, buaya, reptil, kura-kura, kerang laut, moluska, hingga temuan fragmen manusia purba (Homo erectus) maupun alat berburu meramu.
Jumlah temuan fosil dari Patiayam cukup fantastis, tercatat mencapai lebih dari 10.000 temuan.
Angka ini merupakan temuan yang telah dilaporkan oleh para penemunya. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih banyak, sebab masih terdapat temuan yang belum dilaporkan.
Hal ini menjadi gambaran penting mengenai nilai Patiayam, sebagai kawasan penelitian prasejarah. Kekayaan tersebut juga memperlihatkan perjalanan panjang kawasan Patiayam.
Patiayam memiliki fitur geografis yang tidak dimiliki semua situs prasejarah lainnya.
Karena itu, penelitian tidak hanya penting untuk mengetahui jenis fosil yang terkubur, tetapi juga untuk memahami bagaimana lingkungan dan kehidupan berubah dari waktu ke waktu.
Daffa turut menaruh perhatian terhadap kerja-kerja kebudayaan dan sejarah di Patiayam, agar tidak hanya berhenti pada temuan fosil.
Menurutnya, situs juga menghadapi ancaman terhadap lingkungan dan ekologi.
Kini, lahan di kawasan Patiayam dikelola Perhutani sekaligus digarap oleh masyarakat. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian ketika pengembangan situs dilakukan.
“Perhatian Prof. Truman selaku ketua tim dari CPAS juga mementingkan tidak hanya situs. Situs memang penting, tetapi banyak ancaman terhadap situs, lingkungan, dan ekologi,” ucapnya.
Pengembangan Patiayam, menurutnya, dapat berkaca pada pengelolaan Situs Sangiran.
Untuk itu, diperlukan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan penelitian, pelestarian, pengelolaan museum, lingkungan, hingga kepentingan masyarakat dapat berjalan bersama. Berimbang antara historis, ekologi dan ekonomi.
Persoalan lain yaitu posisi administratif Patiayam yang berada di dua kabupaten, yakni Kudus dan Pati.
Kondisi tersebut kerap menimbulkan pertanyaan mengenai pihak yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan.
Namun, menurut Daffa, persoalan administratif seharusnya tidak menjadi penghalang untuk mengembangkan Patiayam hingga tingkat dunia.
“Secara administratif ada di dua kabupaten, Kudus dan Pati. Tapi ini bukan masalah, bisa mengajukan sampai ke tahap World Heritage UNESCO,” harapnya.
Ia juga menilai perhatian pemerintah menjadi penting, tetapi kesadaran masyarakat juga harus terus dibangun. Dengan demikian, pengembangan situs akan lebih mudah dilakukan.
Patiayam sendiri telah direkomendasikan sebagai Cagar Budaya tingkat Provinsi Jawa Tengah. Status tersebut menjadi pijakan, untuk mendorong Patiayam naik menjadi Cagar Budaya Peringkat Nasional.
Besar harapan, agar Patiayam juga diakui mendapat UNESCO World Heritage Site.
Upaya membesarkan Patiayam juga mendapat perhatian dari berbagai pihak. Terlebih Anggota DPR RI Komisi X, yang memegang jabatan ganda sebagai Wakil Ketua MPR RI 2024–2029 Lestari Moerdijat. Ia terus berupaya mendorong pengembangan kawasan tersebut.
Di satu sisi, Prof. Truman Simanjuntak mengatakan pelibatan arkeolog muda dalam penelitian semacam ini memiliki arti penting.
Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga dilatih mengembangkan keahlian praktis di luar ruang kelas dan kampus.
Dari lapangan pula, generasi muda dapat belajar bagaimana data sejarah dikumpulkan, diverifikasi, dianalisis, hingga kemudian digunakan untuk mendukung pelestarian warisan budaya.
Pelibatan tersebut sekaligus menjadi cara praktis dan strategis, untuk meneruskan pengetahuan tentang pelestarian budaya kepada generasi berikutnya. Membuka peluang ditemukannya data baru mengenai sejarah peradaban masa lalu di Indonesia.
Patiayam menjadi ruang belajar yang mempertemukan arkeologi, geologi, paleontologi, geokimia, lingkungan, permuseuman maupun bidang ilmu lainnya.
Di tempat ini, dari satu fosil tak hanya dapat ditilik mengenai jenis hewan yang pernah hidup ratusan ribu tahun lalu.
Lapisan tanah, posisi temuan, lingkungan, jenis batuan, hingga persebaran fosil ikut menyusun cerita panjang.
Bagi para peneliti, cerita Patiayam belum tuntas. Ribuan temuan masih menunggu untuk diidentifikasi, lapisan-lapisan tanah masih menyimpan informasi, sementara museum dan kawasan situs membutuhkan penguatan.
Penelitian yang berkelanjutan, kesadaran masyarakat, dukungan pemerintah, pengelolaan museum yang lebih profesional. Serta perlindungan terhadap lingkungan, menjadi fondasi penting untuk membawa Patiayam berkembang lebih jauh. Sebagai warisan dunia, seperti halnya Sangiran dan situs lainnya.
Terlebih bila segenap unsur dapat berjalan saksama, asa menjadikan Patiayam sebagai situs warisan dunia bukan bualan belaka.
Namun sebuah babak baru dalam episode panjang. Ihwal ini dapat dilanjutkan dengan penelitian, pelestarian dan kesadaran di tingkat lokal dan nasional.(fik)
Editor : Mahendra Aditya