KOTA – Ratusan penggiat sepeda tua di Kabupaten Kudus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara unik.
Mereka menggelar upacara bendera di kompleks Gelanggang Olahraga (GOR) Wergu Wetan, Kudus, dengan mengenakan busana bernuansa perjuangan tempo dulu.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta.
Mereka berasal dari berbagai komunitas sepeda tua di Kudus dan masyarakat umum.
Selain upacara, kegiatan juga dimeriahkan dengan lomba makan kerupuk, bernyanyi, hingga atraksi obor.
Ketua Onthelis Onthelista Indonesia (OOI) Jawa Tengah, Yon Sugiyanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun untuk memperingati kemerdekaan.
Momentum itu sekaligus menjadi sarana mempererat persaudaraan antarpenggiat sepeda tua.
"Tujuannya untuk mempererat persaudaraan, mempersatukan. Tidak ada tendensi apa-apa, untuk menanamkan rasa cinta tanah air," kata Yon, Senin (17/8).
Menurutnya, sekitar 150 penggiat sepeda tua mengikuti kegiatan tersebut.
Jumlahnya bertambah dengan kehadiran 44 anggota paduan suara sehingga total peserta mencapai sekitar 200 orang.
Yon menjelaskan, komunitas sepeda tua di Kudus tidak hanya aktif ketika peringatan hari besar nasional.
Setiap Minggu, para anggota rutin berkumpul di sejumlah lokasi sesuai komunitas masing-masing.
Ada yang berkumpul di Alun-Alun Kudus, GOR, kawasan Oasis, hingga sekitar Menara Kudus.
Setelah berkumpul, mereka biasanya bersepeda bersama dengan rute pendek sebelum kembali ke tempat masing-masing.
"Kalau Minggu kumpulnya bermacam-macam. Ada yang di alun-alun, ada yang di GOR, ada yang di Oasis, sesuai klubnya masing-masing. Setelah itu putar-putar sebentar, kemudian pulang," jelas Yon usai upacara.
Untuk kegiatan rutin, jarak yang ditempuh biasanya sekitar lima kilometer.
Aktivitas tersebut kemudian dilanjutkan dengan berkumpul dan menikmati minuman bersama.
Di tengah semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan bermotor, Yon menilai keberadaan komunitas sepeda tua menjadi bagian dari upaya mempertahankan hobi sekaligus melestarikan nilai historis sepeda.
Menurutnya, ketertarikan terhadap sepeda tua tumbuh dari kesadaran masing-masing anggota.
Selain karena hobi, bersepeda juga dianggap dapat menjadi aktivitas sederhana yang membantu menghemat penggunaan bahan bakar.
"Ini hanya kesadaran. Saya sendiri sudah tua, arahnya ke mana. Kebetulan punya sepeda, kemudian ikut ngonthel. Istilahnya juga bisa menghemat BBM," ujarnya.
Yon menambahkan, sepeda tua memiliki nilai sejarah yang membuatnya berbeda dari sepeda biasa.
Karena itu, para penggemarnya berusaha merawat dan mempertahankan keberadaannya.
Bagi komunitas, sepeda tua juga menjadi sarana untuk mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang.
Perbedaan komunitas tidak menjadi penghalang untuk berkumpul dan membangun persaudaraan.
"Untuk melestarikan sepeda tua, kita memang berusaha untuk bersaudara semuanya, kumpul jadi satu. Melalui sepeda tua, kita tetap bersaudara. Satu rasa, satu sepeda, satu onthel, semuanya saudara," ungkap Yon.
Peringatan HUT RI juga dimanfaatkan untuk mengenang perjuangan para pendahulu bangsa.
Menurut Yon, penggunaan sepeda tua dalam momentum kemerdekaan menjadi simbol untuk mengingat keterbatasan sarana transportasi pada masa perjuangan.
Para pejuang pada masa lalu harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Karena itu, bersepeda menggunakan onthel dianggap menjadi cara sederhana untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan tersebut.
"Seperti peringatan ini untuk mengingatkan. Para pejuang dulu jalan kaki. Paling tidak dengan sepeda, kita ikut merasakan perjuangan," katanya.
Dari sisi koleksi, sepeda yang digunakan para anggota mayoritas merupakan sepeda keluaran sebelum 1960.
Model yang digunakan merupakan sepeda onthel, bukan sepeda jengki, balap, maupun jenis sepeda modern lainnya.
Yon menyebut beberapa koleksi anggota merupakan sepeda keluaran 1954 dan 1956.
Bahkan terdapat sepeda yang usianya jauh lebih tua.
Salah satu koleksi yang dimiliki anggota tercatat dibuat pada 1938.
Sepeda tersebut bahkan pernah ditawar hingga Rp 48 juta, tetapi pemiliknya memilih mempertahankan koleksi tersebut karena berencana menjadikannya bagian dari museum.
"Yang paling tua ada yang tahun 1938. Sudah ditawar Rp 48 juta, tetapi tidak dilepas karena mau dimuseumkan," jelas Yon.
Di Kabupaten Kudus, terdapat sekitar lima hingga enam komunitas sepeda tua yang aktif.
Masing-masing komunitas memiliki lokasi berkumpul sendiri.
Ada yang berada di Alun-alun Simpang Tujuh, Balai Jagong Kudus, Menara Kudus, maupun kawasan Oasis.
Yon mengatakan keberadaan berbagai komunitas tersebut justru memperkuat hubungan antar-penggemar sepeda tua.
Mereka tetap dapat berkegiatan bersama meskipun memiliki kelompok masing-masing.
Rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di GOR Kudus pun ditutup dengan berbagai kegiatan hiburan dan perlombaan.
Suasana kekeluargaan semakin terasa ketika para peserta mengikuti lomba makan kerupuk, bernyanyi, hingga atraksi obor.
Yon menambahkan, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sepeda tua bukan sekadar benda koleksi.
Di tangan para penggemarnya, onthel menjadi sarana menjaga nilai sejarah, mempererat persaudaraan, sekaligus menanamkan rasa cinta terhadap tanah air. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra