KOTA – Menemukan pasangan hidup ternyata bukan perkara sederhana.
Hal itu menjadi pengalaman yang dihadapi penyelenggara program biro jodoh GEGASH (Golek Garwo Sah) di Kabupaten Kudus.
Di balik antusiasme peserta yang ingin menikah, proses mencocokkan calon pasangan memerlukan pendampingan intensif karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kesiapan pribadi hingga kondisi sosial ekonomi.
Sekretaris LKKNU Kudus, Solikul Huda, mengungkapkan bahwa setiap peserta memiliki latar belakang dan harapan yang berbeda.
Karena itu, proses taaruf tidak bisa dilakukan secara instan ataupun dipaksakan.
Panitia harus memastikan kedua belah pihak memiliki keseriusan dan kesiapan untuk membangun rumah tangga.
"Kalau memang sama-sama memiliki niat baik dan serius, insyaallah ada jalannya. Tetapi prosesnya tetap harus didampingi karena banyak hal yang menjadi pertimbangan," katanya.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar muncul dari komposisi peserta.
Peserta perempuan didominasi kalangan berpendidikan tinggi, seperti ASN, dosen, guru, dan profesional.
Di sisi lain, peserta laki-laki banyak berasal dari sektor swasta, guru madrasah, pengasuh pondok pesantren, hingga pekerja informal.
Perbedaan latar belakang pekerjaan dan kemampuan ekonomi itu kerap memengaruhi kelanjutan proses taaruf.
Tidak sedikit peserta yang memilih mengakhiri komunikasi karena merasa belum menemukan kecocokan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.
Selain faktor pekerjaan, pengalaman hidup juga menjadi perhatian panitia.
Beberapa peserta berstatus duda maupun janda masih menyimpan luka akibat perceraian atau kehilangan pasangan karena meninggal dunia.
Kondisi tersebut membuat mereka lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan.
Meski demikian, program tersebut juga mencatat hasil positif.
Sejumlah peserta berhasil menemukan pasangan yang dianggap cocok meski memiliki latar belakang berbeda.
Bahkan, beberapa pasangan telah menyatakan kesiapan melanjutkan hubungan ke tahap lamaran setelah melalui proses pendampingan.
"Sering kali justru pasangan yang awalnya tidak diduga bisa cocok. Setelah melalui proses perkenalan dan pendampingan, mereka mantap melanjutkan ke tahap yang lebih serius," ujar Solikul Huda.
Agar proses taaruf tetap berjalan sesuai ketentuan, panitia menerapkan sistem pendampingan yang ketat.
Setiap kelompok peserta didampingi dua fasilitator yang berperan sebagai penghubung komunikasi.
Selama proses berlangsung, peserta tidak diperkenankan bertukar nomor telepon maupun mendatangi rumah calon pasangan tanpa izin pendamping.
Kebijakan tersebut diberlakukan setelah panitia menemukan kasus peserta yang mencari alamat calon pasangan melalui daftar hadir, kemudian datang langsung ke rumah tanpa sepengetahuan penyelenggara.
Menurut Solikul Huda, tindakan tersebut berpotensi mengganggu kenyamanan peserta sehingga mekanisme pendampingan diperketat.
Dalam waktu dekat, LKKNU Kudus akan menggelar evaluasi bersama seluruh pendamping untuk mengidentifikasi berbagai kendala selama pelaksanaan program.
Hasil evaluasi itu akan menjadi dasar penyempurnaan pelaksanaan GEGASH pada gelombang berikutnya yang kini mulai menerima pendaftar baru.
Panitia juga menyiapkan pembekalan lanjutan bagi peserta angkatan pertama berupa literasi keuangan keluarga.
Materi tersebut melengkapi pembinaan sebelumnya yang membahas keluarga sakinah, persiapan pernikahan, dan kesehatan keluarga.
Solikul Huda berharap pembekalan tersebut mampu membekali calon pasangan agar tidak hanya siap menikah, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola keuangan rumah tangga.
Dengan demikian, keluarga yang terbentuk diharapkan lebih harmonis, tangguh, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra