Gebyar Budaya Nusantara Dimulai dari Kudus, Begini Persiapannya!

Andika Trisna Saputra • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 18:04 WIB
DISKUSI: Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menemui para aktivis kebudayaan yang melakukan audiensi terkait penyelenggaraan Gebyar Budaya Nusantara di Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (3/8). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
DISKUSI: Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menemui para aktivis kebudayaan yang melakukan audiensi terkait penyelenggaraan Gebyar Budaya Nusantara di Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (3/8). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KOTA – Kabupaten Kudus dipilih sebagai titik awal penyelenggaraan Gebyar Budaya Nusantara, sebuah agenda kebudayaan berskala nasional yang bertujuan menghidupkan kembali semangat pelestarian budaya di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Rencana tersebut disampaikan para aktivis kebudayaan saat beraudiensi dengan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris di Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (3/8) siang.

Audiensi tersebut dihadiri budayawan, pegiat seni, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Kudus.

Dalam pertemuan itu, Bupati Kudus memberikan dukungan dan menugaskan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) untuk mendampingi seluruh proses persiapan kegiatan.

Budayawan Jawa Tengah, Agus Mujiyanto, mengatakan Gebyar Budaya Nusantara lahir dari kepedulian para aktivis budaya untuk menjaga harmoni antara agama dan kebudayaan.

Menurutnya, keduanya harus berjalan selaras agar nilai-nilai luhur tetap terjaga sekaligus mampu diwariskan kepada generasi muda.

"Kami ingin menjaga keselarasan antara agama dan budaya dengan tepat selaras. Kami juga ingin memicu semangat masyarakat dan para pemimpin daerah agar bersama-sama membangkitkan kebudayaan di tengah transformasi zaman. Generasi Alpha dan Gen Z harus dikenalkan kembali dengan budaya," ujarnya.

Agus menjelaskan, kegiatan akan menampilkan tari-tarian klasik yang sarat makna filosofis dan spiritual.

Berbeda dengan pertunjukan tari kreasi modern, pentas tersebut mengedepankan nilai-nilai tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Ia menyebut para peserta berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Banyumas, Solo, Blora, dan Sragen.

Menariknya, komunitas yang terlibat tidak hanya berasal dari kalangan seniman, tetapi juga anggota TNI, Polri, aparatur sipil negara (ASN), tenaga medis, hingga paramedis yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya.

Menurut Agus, pemilihan Kudus sebagai lokasi perdana bukan tanpa alasan.

Kota Kretek dinilai memiliki sejarah akulturasi budaya yang kuat, terutama perpaduan budaya Hindu dan Islam yang tercermin dalam perjalanan sejarah Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Kyai Telingsing.

Ia menilai tradisi masyarakat Kudus yang menghormati sapi sebagai bentuk penghargaan terhadap umat Hindu merupakan salah satu contoh nyata nilai toleransi yang telah hidup sejak lama.

"Karena itu kami berharap kebangkitan budaya ini dimulai dari Kudus yang memiliki roh dan falsafah budaya sangat kuat," katanya.

Gebyar Budaya Nusantara dijadwalkan berlangsung pada 11 Agustus pukul 11.00 WIB di Hotel Griptha Kudus.

Penentuan waktu tersebut juga dikaitkan dengan filosofi petungan Jawa yang diyakini memiliki makna simbolis.

Agus menegaskan penyelenggaraan kegiatan sepenuhnya dibiayai secara mandiri oleh para aktivis budaya tanpa melibatkan pendanaan pemerintah maupun pihak swasta.

Meski demikian, acara terbuka untuk masyarakat umum.

Selain menampilkan pertunjukan budaya dari berbagai daerah, panitia juga menyediakan ruang bagi sanggar seni di Kabupaten Kudus untuk ikut tampil memeriahkan acara.

Panitia juga berencana mengundang Menteri Kebudayaan Fadli Zon serta sejumlah tokoh nasional.

Namun hingga kini kehadiran para tamu tersebut masih menunggu konfirmasi.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Kudus Abdul Halil mengatakan Bupati Kudus telah menginstruksikan jajarannya untuk terus berkoordinasi dan mendampingi penyelenggara agar seluruh persiapan berjalan maksimal.

"Pak Bupati menugaskan kami untuk selalu berkomunikasi dan mendampingi karena ini merupakan event nasional. Persiapannya harus benar-benar matang," ujarnya.

Menurut Halil, kegiatan tersebut diperkirakan mampu meningkatkan kunjungan ke Kabupaten Kudus.

Kehadiran budayawan dari berbagai daerah di Jawa Tengah diyakini berdampak positif terhadap sektor pariwisata, mulai dari tingkat hunian hotel, kuliner, hingga usaha pendukung lainnya.

Karena itu, Disbudpar akan berkoordinasi dengan para pelaku usaha untuk memastikan kesiapan fasilitas selama kegiatan berlangsung.

Ia menambahkan, para seniman Kudus juga menyambut antusias penyelenggaraan Gebyar Budaya Nusantara.

Mereka akan menampilkan berbagai tari klasik khas daerah sebagai upaya memperkenalkan warisan budaya lokal kepada masyarakat luas.

"Semangat teman-teman seniman di Kudus sangat baik. Nanti yang ditampilkan adalah tari-tari klasik, sehingga masyarakat bisa melihat kembali kekayaan budaya yang dimiliki Kudus," katanya. (dik)

Editor : Andika Trisna Saputra
aktivis kebudayaan Budaya jawa tengah bupati kudus gebyar budaya