Museum Lapangan Situs Ngasinan Mulai Disiapkan

Andika Trisna Saputra • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:58 WIB
PROGRES: Tim peneliti dibantu tenaga lokal menyiapkan tembok untuk mengantisipasi erosi akibat air hujan di Situs Ngasinan Patiayam, kemarin. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
PROGRES: Tim peneliti dibantu tenaga lokal menyiapkan tembok untuk mengantisipasi erosi akibat air hujan di Situs Ngasinan Patiayam, kemarin. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

JEKULO – Harapan menghadirkan Museum Lapangan Situs Ngasinan, Patiayam Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, mulai dipersiapkan seiring berlanjutnya penelitian dan ekskavasi fosil gajah purba (Elephas) oleh tim arkeolog.

Museum tersebut nantinya dirancang menjadi sarana edukasi yang menampilkan replika fosil berukuran asli, lengkap dengan informasi proses penggalian hingga lapisan tanah (stratigrafi) tempat fosil ditemukan.

Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Retno Handini, menjelaskan bahwa penelitian di Situs Ngasinan Patiayam merupakan kerja sama antara CPAS, Yayasan Dharma Bhakti Lestari (YDBL), dan BRIN.

Penelitian dimulai pada 2024 dan kini memasuki tahap keempat.

"Tahun ini merupakan tahap keempat. Penelitian pertama dilakukan pada 2024, kemudian dua kali pada 2025, dan sekarang kembali dilanjutkan. Rencananya penelitian di Ngasinan Patiayam selesai pada 2028," ujarnya.

Ia mengatakan, pihak penyandang dana penelitian telah memiliki gagasan untuk membangun museum lapangan di lokasi tersebut setelah rangkaian penelitian selesai.

Museum itu nantinya tidak hanya menampilkan replika fosil di lokasi secara langsung, tetapi juga menjelaskan sejarah penemuan fosil gajah purba, kondisi stratigrafi, hingga proses ekskavasi yang dilakukan para peneliti.

Menurutnya, pembangunan museum lapangan membutuhkan waktu karena harus melalui berbagai tahapan perencanaan.

Meski demikian, konsep pengembangannya telah mulai dipikirkan sejak sekarang.

"Fosil asli sudah kami amankan. Nantinya harus melalui proses konservasi agar tidak mudah rapuh. Yang akan ditampilkan kepada mayarakat berupa replika fosil dengan ukuran asli, dibuat dari bahan resin dan campuran material lainnya," jelasnya.

Retno menambahkan, saat ini tim masih fokus melakukan ekskavasi untuk menelusuri bagian-bagian Elephas yang kemungkinan masih tersimpan di dalam tanah maupun fosil-fosil lain di sekitar lokasi penemuan.

Ia mengungkapkan, dalam proses penggalian kali ini telah ditemukan beberapa fosil baru di area yang sama.

Namun, tim belum dapat memastikan apakah fosil tersebut berasal dari individu gajah purba yang sama atau berbeda karena masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Tahap keempat ekskavasii berlangsung selama 20 hari kalender, mulai 28 Juli hingga 16 Agustus 2026.

Selama kegiatan tersebut, tim tidak menetapkan target jumlah temuan.

"Kami mengalir mengikuti kondisi di lapangan. Fokusnya menelusuri kemungkinan adanya bagian lain dari Elephas ataupun fosil lain yang masih terkubur," katanya.

Selain melakukan penggalian, tim juga mulai melakukan pengamanan situs.

Upaya tersebut dilakukan dengan membangun tembok pelindung di sekitar area ekskavasi guna mencegah erosi akibat air hujan yang dapat merusak lapisam tanah maupun tinggalan purbakala.

Sementara itu, Kepala Desa Terban, Supeno, menyambut baik rencana pembangunan Museum Lapangan Situs Ngasinan.

Menurutnya, pemerintah desa akan terus mendukung keberlanjutan p3nelitian karena dinilai mampu mengangkat potensi sejarah dan budaya desa.

Ia menyebut, berbagai upaya telah dilakukan untuk menggali potensi Desa Terban, termasuk melalui dukungan dari Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat terhadap penelitian situs purbakala dan wacana pengusulan kawasan tersebut sebagai situs cagar budaya tingkat nasional.

"Kalau nanti museum situs benar-benar terwujud, tentu akan menjadi daya tarik wisata baru. Harapannya pengunjung yang datang semakin banyak sehingga UMKM masyarakat juga ikut berkembang," ujarnya.

Supeno menambahkan, hingga kini belum ada keputusan mengenai pihak yang akan mnegelola museum tersebut.

Namun, ia optimistis keberadaan museum akan melengkapi destinasi wisata sejarah di kawasan Patiayam.

Menurutnya, wisatawan yang datang nantinya dapat mengunjungi sejumlah destinasi lain di sekitar Desa Terban, seperti Museum Purbakala Patiayam, gardu pandang, serta objek wisata lainnya sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat. (dik)

Editor : Andika Trisna Saputra
fosil elephas purbakala terban arkeolog Patiayam Kudus