Mbah Riyan Raih Penghargaan MUI, Namun Pilih Tak Hadiri Undangan, Begini Alasannya!

Andika Trisna Saputra • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:52 WIB
TUNJUKKAN: Mbah Riyan menunjukkan dan membacakan hasil karyanya yang berada di kediamannya, Senin (3/8). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
TUNJUKKAN: Mbah Riyan menunjukkan dan membacakan hasil karyanya yang berada di kediamannya, Senin (3/8). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KOTA – Di tengah kesehariannya sebagai buruh serabutan, tak banyak yang menyangka Supriyanto atau yang akrab disapa Mbah Riyan merupakan ulama sekaligus pentahkik (peneliti dan penyunting naskah) kitab klasik yang karyanya diakui hingga tingkat nasional dan internasional.

Pria asal Desa Wates, Kabupaten Kudus, itu baru saja ditetapkan sebagai penerima MUI Award 2026 kategori Karya Tulis Islam, sebuah penghargaan bergengsi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Penetapan penghargaan tersebut dilakukan pada Juli 2026.

Mbah Riyan masuk sebagai salah satu penerima penghargaan sekaliigus diundang menghadiri malam penganugerahan di Jakarta.

Namun, berbeda dengan penerima penghargaan lainnya, ia memilih tidak datang.

Bagi Mbah Riyan, penghargaan tersebut merupakan kehormatan.

Meski begitu, ia lebih memilih tetap menjalani kehidupan sederhana di kampung halamannya daripada tampil di hadapan publik.

"Saya malah tidak tahu. Tiba-tiba dikabari dan ditelepon sampai enam atau tujuh kali dari pihak MUI. Itu sekitar akhir Juli, diberi tahu mendapat penghargaan bidang karya tulis keislaman. Terima kasih sudah diundang, tetapi mohon maaf saya tidak bisa hadir," tuturnya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan.

Sejak kembali ke Kudus pada 2018, lulusan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta tersebut memang berkomitmen menjauh dari sorotan oublik.

Ia menghapus kebiasaan bermedia sosial dan memilih lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, mengerjakan tahkik kitab, bekerja serabutan, hingga memancing.

"Saya hanya memakai WhatsApp. Itu pun nomor tertentu saja yang bisa menghubungi. Biasanya teman mancing atau orang yang meminta saya membantu mentahkik kitab," katanya.

Pria kelahiran 1986 yang kini berusia 40 tahun itu tinggal bersama istri dan empat anaknya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia tidak bergantung pada pekerjaan akademik.

Ia justru menjalani berbagai pekerjaan, mulai menjadi buruh angkut beras, kuli bangunan, pekerja gudang jasa ekspedisi, hingga pekerjaan serabutan lainnya.

Meski demikian, aktivitas tersebut tidak membuatnya meninggalkan dunia keilmuan.

Di sela-sela bekerja, ia tetap meneliti, membandingkan, serta menyunting berbagai manuskrip kitab klasik yang berasal dari Nusantara maupun Timur Tengah.

Perjalanan intelektual Mbah Riyan dimulai sejak menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta pada 2005 hingga lulus pada 2013.

Selama menjadi mahasiswa, kehidupannya juga telah mengemban tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.

"Saya waktu kuliah sudah menikah. Siang jualan donat, malam jualan kebab. Dari situ saya belajar membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan keluarga," kenangnya.

Selain kuliah, ia aktif menulis.

Pada semester empat sekitar 2010, ia mulai menyusun sebuah kitab untuk kepentingan pembelajaran dengan bimbimgan dosen lulusan Universitas Al-Azhar Mesir.

Sementara karya tahkik pertamanya adalah Faroidus Saniyah yang diselesaikan ketika duduk di semester tujuh.

Selepas lulus pada 2013, Mbah Riyan sempat diminta mengajar bahasa Arab di STIBA Ar-Royyan, Sukabumi.

Namun, kecintaannya terhadap manuskrip lama membuatnya semakin serius menekuni dunia tahkik.

Tahkik merupakan proses ilmiah untuk meneliti dan memverifikasi naskah sebelum diterbitkan.

Seorang pentahkik tidak sekadar menyalin tulisan, tetapi harus membandingkan berbagai manuskrip, memperbaiki kesalahan penyalinan, melengkapi tanda baca, menjelaskan istilah, menelusuri sumber kutipan, hingga memastikan setiap oendapat sesuai dengan naskah asli penulis.

"Kalau ada manuskrip yang belum pernah diterbitkan, kami tulis ulang, diberi titik, koma, penjelasan kata, dibandingkan dengan manuskrip lain, termasuk kalau ada perbedaan redaksi dijelaskan semuanya. Setelah itu dilengkapi daftar pustaka agar menjadi kitab yang layak diterbitkan sesuai maksud penulisnya," jelasnya.

Ia mengungkapkan, tantangan terbesar dalam mentahkik adalah ketika penulis kitab mengutip pendapat ulama yang sumbernya juga masih berupa manuskrip sehinga membutuhkan proses penelusuran yang panjang.

"Kadang nama ulama yang disebut penulis masih rancu. Tugas pentahkik memastikan nama itu benar, mencari manuskrip pembanding, kemudian memverifikasi seluruh kutipan," katanya.

Dari pekerjaannya tersebut, Mbah Riyan justru menemukan begitu banyak manuskrip karya ulama Nusantara yang belum pernah ditrebitkan secara ilmiah.

Hal itu mendorongnya untuk lebih fokus menggarap karya-karya ulama Indonesia.

"Awalnya saya mencoba mentahkik kitab. Ternyata saya menemukan banyak sekali manuskrip karya ulama Nusantara. Akhirnya saya berinisiatif mengerjakan karya-karya itu. Kalau selesai saya unggah ke web archive supaya bisa diakses masyarakat luas," ujarnya.

Hasil kerjanya mulai dikenal sejak terbitnya kitab Aqwal Mulhaqod pada 2016 melalui penerbit Turots Ulama Nusantara.

Setelah itu menyusul Farhul Mubin yang diterbitkan Maktabah Turmusy.

Salah satu karyanya bahkan menarik perhatian penerbit di Mesir. Kitab Taufiq al-Jali memperoleh izin diterbitkan oleh Penerbit Darus Sholeh Mesir.

Saat pulang ke Kudus pada 2018, beberapa cetakan kitab tersebut dikirim langsung kepadanya.

Meski memilih hidup jauh dari sorotan, Mbah Riyan hingga kini tetap aktif mengerjakan tahkik berbagai kitab dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi.

Nama pena tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan hidup seorang kakeknya sebagai penggembala kambing yang gigih menghidupi keluarga.

Jenis kitab yang ia tahkik sangat beragam, mulai bidang fikih, ushul fikih, nahwu, tasawuf, hadis, hingga disiplin ilmu Islam lainnya.

Di rumahnya tersimpan berbagai hasil tahkik, di antaranya Umdatul Awam, Qurratul Ain, dan Qohwa Qudsiyah Malbunah.

Meski namanya kini dikenal luas, keseharian Mbah Riyan tetap sederhana.

Ia mengaku lebih senang berbincang santai mengenai kehidupan sehari-hari atau memancing daripada membahas ketokohannya.

"Saya malah senang ngobrol soal mancing atau hal-hal umum sambil ngopi," katanya sambil tersenyum.

Pendidikan formal Mbah Riyan dimulai di SD Wates 3, kemudian melanjutkan ke MTs Nahdlotul Muslimin Undaan Kidul dan MA Nahdlotul Muslimin Undaan Kidul.

Selain itu, ia juga menempuh pendidikan diniyah di Madrasah Hidayatul Mubtadiin.

Meski telah menerima penghargaan nasional, Mbah Riyan mengaku tidak memiliki keinginan menjadi tokoh publik.

Baginya, yang terpenting adalah terus menjaga tradisi keilmuan Islam melalui penyelamatan manuskrip-manuskrip ulama agar tetap lestari dan dapat dimanfaatkan generasi mendatang.

Kesederhanaan itu juga diakui sahabat masa kecilnya, Ropiq.

Menurutnya, Mbah Riyan tidak pernah berubah meski karya-karyanya diterbitkan hingga luar negeri dan kini memperoleh penghargaan dari MUI.

"Dari kecil kami memang sering bersama. Dia orangnya sederhana, kerja seperti masyarakat biasa. Saya teman mancingnya. Kami sering ngobrol di teras rumah. Yang datang ke rumah juga banyak, bahkan ada yang dari Palembang dan Riau hanya ingin bersilaturahmi dan berdiskusi dengannya," ujar Ropiq. (dik)

Editor : Andika Trisna Saputra
mbah riyan pentahkik kehidupan sederhana ibnu harjo al jawi ulama