Sosialisasi Empat Pilar, Batik Kudus Rajut Nilai Kebangsaan

Andika Trisna Saputra • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 07:28 WIB
DISKUSI: Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota DPR RI Komisi X, Lestari Moerdijat diskusi bersama audiens dan tamu undangan yang hadir di Sosialisasi Empat Pilar yang digelar di Gedung Setda Kudus lantai empat, Jumat (31/7). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
DISKUSI: Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota DPR RI Komisi X, Lestari Moerdijat diskusi bersama audiens dan tamu undangan yang hadir di Sosialisasi Empat Pilar yang digelar di Gedung Setda Kudus lantai empat, Jumat (31/7). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KOTA – Pelestarian Batik Kudus tidak hanya menjadi upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam Empat Pilar MPR RI.

Pesan itu mengemuka dalam Sosialisasi Empat Pilar yang digelar di Gedung Setda Kudus lantai empat, Jumat (31/7).

Kegiatan tersebut menghadirkan Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota DPR RI Komisi X, Lestari Moerdijat.

Dalam paparannya, ia mengajak masyarakat melihat Batik Kudus bukan sekadar produk budaya, melainkan media pembelajaran mengenai keberagaman, persatuan, dan identitas bangsa.

Lestari mengatakan motif-motif Batik Kudus menyimpan filosofi yang selaras dengan nilai Empat Pilar Kebangsaan.

Menurutnya, kekayaan intelektual yang dimiliki masyarakat Kudus harus dijaga agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

"Yang menjadi diskusi tadi adalah bagaimana memastikan apa yang kita miliki sebagai bagian dari warisan budaya dan kekayaan intelektual masyarakat Kudus tidak hilang. Yang pasti, kita juga harus memastikan generasi muda dapat melanjutkan pelestariannya. Melanjutkan bukan berarti semuanya harus menjadi pembatik, karena banyak cara untuk menjaga dan meneruskan Batik Kudus," ujarnya.

Ia menjelaskan nilai-nilai Pancasila tercermin dalam proses maupun makna batik.

Sila Ketuhanan diwujudkan melalui rasa syukur kepada Tuhan, sila Kemanusiaan terlihat dari penghargaan kepada para perajin, sila Persatuan menjadikan batik sebagai simbol pemersatu bangsa, sila Kerakyatan tercermin melalui semangat musyawarah dan gotong royong dalam pengembangan budaya, sedangkan sila Keadilan Sosial diwujudkan melalui upaya meningkatkan kesejahteraan oelaku industri batik.

Menurutnya, generasi muda memiliki banyak ruang untuk berkontribusi menjaga keberlanjutan Batik Kudus.

Peran tersebut tidak terbatas sebagai pembatik, tetapi juga dapat menjadi desainer, wirausahawan, kreator konten, pelaku pemasaran digital, inovator fesyen, hingga peneliti dan pendidik yang mengembangkan batik tanpa meninggalkan nilai budaya.

Lestari menambahkan pelestarian batik membutuhkan ekosistem yang melibatkan berbagai pihak.

Pemerintah berperan melalui kebijakan, pelaku usaha mengembangkan industri kreatif, akademiisi melakukan riset dan edukasi, komunitas menjaga tradisi, media menyebarluaskan informasi, sedangkan masyarakat mendukung dengan menggunakan dan mencintai produk batik.

"Merawat batik berarti merawat Indonesia. Batik bukan hanya selembar kain bermotif, tetapi simbol sejarah, identitas, dan semangat kebangsaan yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus," tegasnya.

Sementara itu, salah satu pelaku usaha Batik Kudus, Yuli Astuti, mengapresiasi penyelenggaraan sosialisasi tersebut.

Menurutnya, kegiatan seperti ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga Batik Kudus sekaligus memperkuat rasa kebangsaan.

"Alhamdulillah saya sangat senang dengan adanya kegiatan seperti ini. Ini menjadi salah satu upaya melestarikan batik sekaligus mengaitkannya dengan kebangsaan. Motif khas Kudus memang harus dijaga dan diteruskan dari generasi ke generasi agar tidak hilang," katanya. (dik)

Editor : Andika Trisna Saputra
Lestari Moerdijat empat pilar kebangsaan MPR RI batik kudus pelestarian