KUDUS – Jawa Pos Radar Kudus resmi mengawali program pelatihan jurnalistik bagi para pelajar dengan menghadirkan metode pembelajaran yang interaktif, komunikatif, dan menyenangkan.
Sebanyak 45 peserta mengikuti sesi perdana pelatihan yang digelar pada Jumat sore, mulai pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, dengan materi pengenalan dasar-dasar jurnalistik.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Jawa Pos Radar Kudus dan Djarum Foundation Bakti Sosial.
Para peserta berasal dari sembilan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) binaan Djarum Foundation Bakti Sosial yang berada di Kabupaten Kudus dan Pati.
Agar proses belajar berlangsung lebih efektif, seluruh peserta dibagi ke dalam dua kelas, yakni Kelas A dan Kelas B.
Masing-masing kelas dipandu oleh narasumber serta fasilitator yang berbeda.
Selain itu, setiap kelas kembali dibagi menjadi empat kelompok kecil sehingga diskusi dan interaksi selama pelatihan dapat berjalan lebih maksimal.
Kelas A berlangsung di ruang redaksi lantai III kantor Jawa Pos Radar Kudus.
Materi disampaikan langsung oleh Pemimpin Redaksi Radar Kudus, Muhammad Ulin Nuha, didampingi wartawan Radar Kudus, Indah Susanti, sebagai fasilitator.
Dalam pemaparannya, Ulin memperkenalkan dunia jurnalistik mulai dari pengertian dasar hingga perkembangan industri media yang terus berubah seiring kemajuan teknologi.
Ia menjelaskan bahwa cara masyarakat memperoleh informasi saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Menurutnya, jika dahulu surat kabar menjadi sumber utama informasi, kini masyarakat, khususnya generasi muda, lebih banyak memperoleh berita melalui telepon seluler dan media sosial.
Perubahan tersebut ikut memengaruhi pola konsumsi informasi di tengah masyarakat.
"Kalau dulu koran menjadi media utama, sekarang sebagian besar informasi diakses melalui ponsel dan media sosial. Perubahan itu membuat cara masyarakat menerima berita juga berubah," jelasnya.
Ia menambahkan, derasnya arus informasi di era digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi insan pers.
Karena itu, kemampuan memilah informasi yang benar dan membedakan fakta dengan informasi yang belum terverifikasi menjadi bekal penting yang harus dimiliki setiap calon jurnalis.
Supaya suasana pelatihan tidak terasa seperti kegiatan belajar formal di sekolah, penyampaian materi diselingi berbagai aktivitas menarik, mulai dari yel-yel, permainan ringan, hingga sesi ice breaking.
Cara tersebut membuat peserta tetap antusias dan mudah kembali fokus saat menerima materi berikutnya.
Salah seorang peserta dari LKSA Darul Hadlonah Pati, Reza, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya mengenai proses pembuatan surat kabar dan bagaimana alur kerja seorang wartawan hingga berita bisa sampai ke tangan pembaca.
Menjawab pertanyaan itu, Ulin menjelaskan bahwa proses produksi koran dimulai dari kegiatan peliputan oleh wartawan di lapangan.
Hasil liputan kemudian ditulis menjadi naskah berita sebelum batas waktu pengumpulan sekitar pukul 17.00 WIB.
Setelah itu, berita akan melalui proses penyuntingan oleh redaktur hingga sekitar pukul 20.00 WIB sebelum diteruskan ke bagian tata letak atau layout.
Selanjutnya halaman koran dikirim ke percetakan, didistribusikan melalui ekspedisi, dan diusahakan sudah berada di tangan pembaca sebelum pukul 06.00 WIB keesokan harinya.
"Koran harus sudah sampai pagi hari agar ketika masyarakat bangun tidur mereka bisa langsung membaca berita. Kalau terlalu siang, pembaca biasanya sudah lebih dulu mendapatkan informasi dari media daring," ujarnya.
Sementara itu, Kelas B dilaksanakan di Joglo Radar Kudus yang berada di area belakang kantor. Kelas ini dipandu General Manager Radar Kudus, Zainal Abidin, bersama wartawan Andika Trisna Saputra sebagai fasilitator.
Seperti di kelas sebelumnya, peserta juga dibagi menjadi empat kelompok kecil untuk mempermudah komunikasi dan diskusi selama pelatihan berlangsung.
Pada kesempatan tersebut, Zainal mengajak peserta memahami pengertian jurnalistik, mengenali perbedaan antara informasi dan berita, serta menjelaskan berbagai contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan bahwa tidak semua informasi yang beredar dapat langsung disebut sebagai berita.
Sebuah berita harus melalui proses pengumpulan fakta, konfirmasi kepada narasumber, serta verifikasi sebelum dipublikasikan kepada masyarakat.
Menurutnya, seorang jurnalis dituntut memiliki kepekaan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar.
Kepekaan tersebut menjadi modal penting untuk menemukan informasi yang layak diberitakan sekaligus menyajikannya secara akurat.
"Dalam dunia jurnalistik, kepekaan terhadap situasi di lapangan sangat penting karena berkaitan dengan kualitas informasi yang nantinya disampaikan kepada masyarakat," tutur Zainal.
Agar suasana tetap hidup, Zainal juga beberapa kali mengajak peserta berdiskusi melalui pertanyaan interaktif dan menyisipkan sesi ice breaking sehingga para peserta tetap bersemangat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.
Salah satu peserta dari LKSA Darul Hadlonah Kudus, Ni'matus Salma, menanyakan perbedaan antara informasi yang beredar di media sosial dengan sebuah karya jurnalistik.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Zainal menjelaskan bahwa berita memiliki unsur konfirmasi, pernyataan dari narasumber, serta proses verifikasi yang menjadi bagian penting dalam kaidah jurnalistik.
"Karena itu, tidak semua informasi yang beredar dapat disebut sebagai berita," pungkasnya. (dik)
Editor : Ali Mustofa