Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Climate Smart Sustainable Agriculture: Jalan Tengah antara Produktivitas dan Kelestarian Lingkungan

Ali Mustofa • Rabu, 15 Juli 2026 | 15:00 WIB
Muhamad Imanuddin
Muhamad Imanuddin

Sektor pertanian kini kembali jadi sorotan di tengah tantangan pembangunan yang makin rumit.

Mencapai ketahanan pangan bukan lagi cuma soal mengejar jumlah produksi beras, tapi juga soal menjaga hasil panen tetap stabil di tengah perubahan iklim yang kian terasa.

Pola musim tanam yang berantakan, kekeringan panjang, banjir akibat curah hujan yang tak menentu, hingga serangan hama kini jadi kenyataan sehari-hari yang langsung mengganggu hasil panen petani.

Tantangan ini juga dirasakan oleh Kabupaten Kudus.

Sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Tengah, ketahanan pangan daerah sangat bergantung pada bagaimana Kudus menjaga produktivitas padinya. 

Nah, Kecamatan Undaan jadi andalan utama karena dikenal sebagai sentra produksi padi terbesar di Kudus.

Hamparan sawahnya yang luas menjadikan Undaan sebagai tulang punggung pasokan beras bagi masyarakat. Namun, keunggulan itu justru jadi tantangan berat saat perubahan iklim mulai mengusik stabilitas panen.

Selama bertahun-tahun, keberhasilan sektor pertanian cenderung diukur dari satu indikator utama: total volume produksi gabah. Namun, paradigma ini kini mulai dirasa kurang memadai.

Meskipun produktivitas tetap krusial, peningkatan hasil panen yang mengandalkan penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan irigasi secara berlebihan justru berisiko menurunkan kualitas tanah, membengkakkan biaya operasional, serta meningkatkan kerentanan sistem pertanian dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, diperlukan pergeseran paradigma dalam pembangunan pertanian.

Sektor pertanian masa depan tidak cukup hanya mengejar produktivitas, tetapi juga harus mampu menjaga kelestarian lingkungan serta menjamin keberlanjutan ekonomi bagi petani. 

Konsep yang menjadi solusi atas tantangan ini adalah Climate Smart Sustainable Agriculture (CSSA), yakni pendekatan yang memadukan praktik pertanian cerdas iklim dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Secara sederhana, CSSA menekankan bahwa peningkatan produksi tidak boleh mengorbankan kelestarian sumber daya alam.

Sebaliknya, upaya menjaga lingkungan harus tetap selaras dengan kesejahteraan petani.

Dengan demikian, produktivitas, adaptasi terhadap perubahan iklim, mitigasi emisi, dan keberlanjutan ekonomi dapat berjalan secara seimbang.

Konsep ini sebenarnya bukanlah hal baru bagi petani.

Berbagai praktik sudah lama mereka kenal dan terapkan, mulai dari penggunaan pupuk organik, pengolahan jerami menjadi kompos, rotasi tanaman, penggunaan varietas tahan kekeringan, pengaturan pola tanam yang adaptif terhadap iklim, hingga efisiensi irigasi. 

Tantangannya terletak pada bagaimana mengintegrasikan praktik-praktik tersebut agar lebih sistematis, konsisten, dan didukung oleh kebijakan yang tepat. 

Penelitian yang sedang kami lakukan menunjukkan bahwa keberhasilan CSSA tidak sekadar bergantung pada teknologi budidaya, melainkan sangat ditentukan oleh kekuatan kelembagaan serta kemitraan yang solid antara pemerintah dan masyarakat tani.

Kecamatan Undaan menjadi contoh yang sangat menarik Sebagai sentra produksi padi terbesar di Kabupaten Kudus, wilayah ini memiliki sistem irigasi yang mapan, kelompok tani yang aktif, serta pengalaman panjang dalam budidaya padi.

Seluruh modalitas tersebut menjadikan Undaan sebagai kawasan strategis untuk dikembangkan sebagai percontohan pertanian berkelanjutan yang ramah iklim.

Namun demikian, perubahan iklim menghadirkan tantangan yang melampaui kemampuan petani secara individu. Sebagai contoh, ketika musim tanam bergeser, petani membutuhkan informasi iklim yang cepat dan akurat.

Di sisi lain, saat serangan organisme pengganggu tanaman meningkat, mereka memerlukan pendampingan penyuluh serta akses terhadap teknologi pengendalian yang ramah lingkungan.

Tak hanya itu, ketika harga gabah turun, kehadiran kelembagaan ekonomi yang mampu memperkuat posisi tawar menjadi sangat krusial.

Seluruh kompleksitas persoalan tersebut menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak lagi cukup diselesaikan melalui pendekatan teknis semata.

Oleh karena itu, keberhasilan CSSA sangat bergantung pada kolaborasi multi-pihak.

Dalam hal ini, pemerintah daerah perlu menghadirkan kebijakan yang adaptif terhadap perubahan iklim, sementara penyuluh pertanian harus berperan sebagai jembatan yang menghubungkan inovasi dengan kebutuhan petani. 

Pada saat yang sama, perguruan tinggi berkewajiban menghadirkan hasil riset yang aplikatif, sedangkan kelompok tani perlu difungsikan sebagai ruang belajar bersama, bukan sekadar wadah administratif.

Selain itu, sektor swasta dapat berkontribusi dalam memperkuat akses pasar dan pembiayaan. Ketika seluruh unsur tersebut bersinergi, transformasi menuju pertanian berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana.

Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kolaborasi multi-pihak selama ini masih berjalan secara parsial dan terfragmentasi. Hal ini terlihat dari program pemerintah yang kerap berubah mengikuti siklus anggaran tahunan, padahal kebutuhan petani bersifat jangka panjang dan berkelanjutan.

Kondisi ini diperburuk dengan inovasi dari perguruan tinggi yang sering kali belum menyentuh tataran praktis, serta kelompok tani yang masih diposisikan sebagai objek penerima bantuan alih-alih mitra strategis pembangunan.

Dampaknya, berbagai inovasi hanya berhenti sebagai proyek sesaat dan gagal mengakar menjadi budaya baru dalam praktik bertani masyarakat.

Padahal, jika Kudus ingin mempertahankan posisinya sebagai daerah penghasil padi, paradigma pembangunan pertanian harus bergeser dari pendekatan berbasis proyek menuju pendekatan berbasis kelembagaan.

Kemitraan antara pemerintah dan masyarakat tani perlu dibangun secara lebih kuat sehingga setiap inovasi dapat diterapkan secara berkelanjutan. Pendekatan inilah yang menjadi fokus berbagai kajian mutakhir mengenai Climate Smart Sustainable Agriculture di berbagai negara, termasuk penelitian yang sedang kami lakukan di Kabupaten Kudus.

Lebih jauh lagi, CSSA selaras dengan arah pembangunan nasional dalam mencapai ketahanan pangan. Swasembada pangan tidak lagi dapat dicapai sekadar melalui pembukaan lahan baru atau peningkatan penggunaan input produksi.

Sebaliknya, swasembada kini sangat bergantung pada kemampuan menjaga kesuburan tanah, menghemat air, menekan kehilangan hasil panen, meningkatkan efisiensi usaha tani, serta memperkuat kelembagaan petani. Dengan kata lain, keberlanjutan merupakan prasyarat utama bagi produktivitas jangka panjang.

Kudus sebenarnya sudah punya modal yang cukup. Petaninya berpengalaman, lahannya produktif, kelompok taninya berkembang, ditambah lagi dukungan riset dari perguruan tinggi yang aktif melakukan penelitian dan pendampingan masyarakat.

Sekarang, tinggal bagaimana mensinergikan semua potensi itu menjadi gerakan bersama yang solid.

Sebagai penutup, meskipun perubahan iklim sulit dihentikan dalam waktu dekat, dampaknya dapat dimitigasi secara signifikan melalui optimalisasi tata kelola pertanian.

Kecamatan Undaan, sebagai sentra produksi padi di Kudus, memiliki peluang strategis untuk membuktikan bahwa produktivitas tinggi dapat berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan.

Dengan mengadopsi Climate Smart Sustainable Agriculture sebagai standar baru, kita dapat mewujudkan sistem sawah yang tidak hanya produktif hari ini, tetapi juga berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Dengan demikian, dari hamparan sawah di Undaan inilah, langkah nyata untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia dapat dimulai.

 

Penulis: Muhamad Imanuddin, S.P., M.Sc. adalah dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muria Kudus. Saat ini meneliti kemitraan pemerintah–masyarakat tani dalam mendukung Climate Smart Sustainable Agriculture (CSSA).

 

 

 

 

 

Editor : Ali Mustofa
Climate Smart Sustainable Agriculture keselarasan lingkungan produktivitas Kudus sektor pertanian