KUDUS – Sebuah makam di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, mendadak menjadi perhatian publik.
Ini setelah makam itu sebagai tokoh sejarah Arya Penangsang.
Klaim tersebut mengemuka usai digelarnya prosesi buka luwur yang disebut sebagai haul Arya Penangsang pada 16 Suro.
Kini memunculkan harapan sekaligus berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.
Prosesi buka luwur perdana digelar pada Rabu (1/7) malam dan dihadiri cukup banyak peziarah dari berbagai daerah.
Kegiatan itu menjadi penanda dimulainya penghormatan terhadap makam yang diyakini sebagian pihak sebagai tempat peristirahatan terakhir Arya Penangsang, tokoh yang dikenal dalam sejarah sebagai murid Sunan Kudus.
Lokasi makam berada di pekarangan milik warga, sekitar 200 meter di sebelah utara Masjid Wali Desa Jepang.
Makam tersebut berupa makam tunggal yang telah dibangun secara permanen dengan kondisi terawat.
Panjang makam dipetkirakan sekitar tiga meter.
Di area tersebut juga terpasang papan bertuliskan “Makam Pangeran Arya Penangsang, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus” di sertai keterangan DPC Naqobah Ansab Aulia Tis’ah (NAAT) Kudus.
Saat ditemui awak media, pengurus makam belum bersedia memberikan penjelasan terkait dasar penetapan makam tersebut sebagai makam Arya Penangsang.
Mereka mengaku telah diarahkan Ketua DPC NAAT Kudus agar seluruh informasi mengenai hasil penelusuran sejarah disampaikan secara resmi melalui organisasi.
Kepala Desa Jepang, Indarto, mengatakan pemerintah desa menghormati ikhtiar yang dilakukan NAAT Kudus dalam menelusuri sejarah makam tersebut.
Menurutnya, proses penelitian itu tidak hanya dilakukan di tingkat kabupaten, tetapi juga mendapat dukungan dari kepengurusan NAAT Jawa Tengah hingga tingkat pusat.
Indarto mengungkapkan, saat prosesi buka luwur, pengurus NAAT Jawa Tengah menya takan siap membuka hasil penelitian dan penelusur an yang menjadi dasar keyakinan mereka bahwa makam tersebut merupakan makam Arya Penangsang.
Sikap terbuka itu dinilai penting agar masyarakat maupun kalangan akademisi dapat mengkaji klaim tersebut berdasarkan data.
“Mereka terbuka kepada siapa pun yang ingin mempertanyakan atau mendiskusikan hasil penelusurannya. Kalau ada yang meragukan, mereka siap menyajikan data-data pendukung yang mereka yakini,” ujar Indarto di ruang kerjanya, Selasa (7/7).
Ia menambahkan, mayoritas warga Desa Jepang tidak mempermasalahkan munculnya klaim tersebut.
Bahkan, masyarakat berharap apabila penelitian lanjutan nantinya membuktikan makam itu benar merupakan makam Arya Penangsang.
Kawasan tersebut dapat berkembang menjadi destinasi wisata religi yang mampu meningkatkan kunjungan peziarah sekaligus menggerakkan perekonomian warga sekitar. (dik/him)
Editor : Ali Mustofa