Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Normalisasi Sungai Togor, Jawab Keluhan Pertanian

Andika Trisna Saputra • Selasa, 7 Juli 2026 | 11:40 WIB
NORMALISASI: Operator alat berat mengeruk sedimentasi di Sungai Togor Desa Gulang, Senin (6/7). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
NORMALISASI: Operator alat berat mengeruk sedimentasi di Sungai Togor Desa Gulang, Senin (6/7). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

MEJOBO – Pemerintah Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, mulai melakukan normalisasi Sungai Togor di Blok Grabyakan, Senin (6/7).

Pengerjaan ditargetkan rampung dalam waktu sepekan untuk mengatasi pendangkalan sungai yang selama ini menghambat pasokan air ke area persawahan di Desa Gulang wilayah utara Jalan Lingkar Timur Kudus.

Kepala Desa Gulang, Aris Subkhan, mengatakan normalisasi dilakukan sebagai langkah cepat menjawab keluhan para petani yang selama ini kesulitan memperoleh pengairan.

Kondisi sungai yang dangkal akibat sedimentasi membuat aliran air menuju sawah tidak berjalan optimal, terutama saat musim tanam.

“Targetnya satu pekan selesai. Kami mengalokasikan anggaran Dana Desa sekitar Rp 7 juta untuk kebutuhan solar dan tenaga kerja. Alhamdulillah kami juga mendapat dukungan dari Dinas PUPR, BPBD, dan BBWS. Alat beratnya dipinjamkan dari Dinas PUPR,” ujar Aris.

Ia menjelaskan, normalisasi dilakukan pada saluran Sungai Togor yang terhubung dengan Saluran Air Jemirah dan jaringan irigasi Jeratun Seluna.

Sebelum pekerjaan dimulai, Pemerintah Desa Gulang telah mengajukan surat permohonan bantuan kepada BPBD dan Dinas PUPR hingga akhirnya proses pengerukan dapat dilaksanakan.

Menurut Aris, pengerjaan normalisasi sungai ini menggunakan satu alat berat.

Normalisasi yang dikerjakan dengan panjang sekitar 700 hingga 800 meter dengan lebar kurang lebih empat meter.

Material sedimentasi yang mengendap selama bertahun-tahun serta tumpukan sampah yang terbawa arus saat musim hujan menjadi penyebab utama berkurangnya kapasitas aliran sungai.

“Di bagian utara sungai memang lebih dangkal dibandingkan bagian selatan. Secara geografis wilayah selatan Kudus memang lebih rendah sehingga aliran air lebih mudah mengalir ke sana. Akibatnya petani di sebelah utara Jalan Lingkar Timur sering mengalami kesulitan pengairan,” jelasnya.

Ia menuturkan, persoalan tersebut sempat memicu banyak keluhan dari petani Desa Gulang.

Jika pasokan air terus terganggu, lahan pertanian berpotensi mengalami kekeringan yang dapat berujung pada gagal panen.

“Tujuan utama normalisasi ini agar pengairan sawah petani kembali lancar. Harapannya produksi pertanian tetap terjaga dan petani tidak lagi khawatir kekurangan air saat musim tanam,” katanya.

Setelah pengerjaan di Blok Grabyakan selesai, Pemerintah Desa Gulang berencana melanjutkan normalisasi ke Sungai Togor Blok Sutriman yang juga berada di kawasan persawahan sebelah utara Jalan Lingkar Timur Kudus.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperbaiki sistem irigasi secara bertahap sehingga seluruh lahan pertanian di wilayah tersebut memperoleh pasokan air yang lebih merata.

Sekretaris BPBD Kudus, Syarif Hidayah, mengatakan normalisasi sungai merupakan bentuk sinergi antara pemerintah desa dengan Pemerintah Kabupaten Kudus dalam menjaga produktivitas sektor pertanian.

Selain memperlancar pengairan sawah, kegiatan tersebut juga menjadi upaya mengurangi potensi genangan banjir di lahan pertanian produktif.

"Normalisasi di Desa Gulang ini merupakan bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan, mengurangi genangan banjir di lahan persawahan produktif, sekaligus memudahkan pengairan sawah. Pemerintah Kabupaten Kudus tetap hadir di tengah masyarakat meskipun saat ini masih dalam kondisi efisiensi anggaran," ujarnya.

Syarif berharap, setelah pendangkalan sungai teratasi, aliran air baik yang berasal dari curah hujan maupun kiriman dari wilayah hulu dapat mengalir lebih lancar menuju Saluran Jumirah.

Selanjutnya, air akan diteruskan ke kolam retensi sehingga fungsi pengendalian banjir sekaligus penyediaan air irigasi dapat berjalan lebih optimal. (dik)

Editor : Andika Trisna Saputra
#pengairan #Normalisasi #sungai #pertanian #Sedimentasi