Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Sempat Dicibir, Sarjana Hukum Asal Kudus Ini Bangun Usaha Batok Kelapa dari Modal Rp100 Ribu

uinbroadcasting • Sabtu, 4 Juli 2026 | 09:14 WIB
UMKM – Tiar Bahroni memperlihatkan hasil kerajinan batok kelapa di galeri Oni Made Craft, Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. (03/07/2026)
UMKM – Tiar Bahroni memperlihatkan hasil kerajinan batok kelapa di galeri Oni Made Craft, Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. (03/07/2026)
 

KUDUS – Lulus sebagai sarjana hukum umumnya identik dengan profesi di bidang hukum atau pemerintahan.

Namun, jalan hidup berbeda dipilih Tiar Bahroni (31), warga Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Alih-alih bekerja sesuai gelarnya, ia justru membangun usaha kerajinan dari limbah batok kelapa melalui Oni Made Craft.

Keputusan itu sempat mengundang cibiran. Tiar mengaku pernah dianggap aneh karena memilih mengolah batok kelapa dibanding bekerja sebagai sarjana.

"Saya sempat dibilang, 'Sarjana kok kerjaannya seperti ini.' Tapi saya tidak mempermasalahkannya. Saya yakin setiap pekerjaan yang ditekuni dengan sungguh-sungguh pasti ada hasilnya," ujarnya.

Perjalanan usahanya dimulai pada 2017 setelah lulus dari Program Studi Hukum UIN Walisongo Semarang.

Ketertarikannya muncul karena melihat batok kelapa yang selama ini hanya dijadikan arang atau bahkan dibuang, padahal menurutnya memiliki nilai ekonomi jika diolah menjadi produk kerajinan.

Berbekal rasa ingin tahu, Tiar belajar secara otodidak melalui internet sebelum memperdalam keterampilannya kepada para perajin di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ia rela bekerja tanpa menerima upah demi mendapatkan ilmu.

"Yang penting saya mendapat ilmu untuk saya kembangkan di Kudus," katanya.

Sepulang dari Kulon Progo, Tiar mulai membuat gantungan kunci dari batok kelapa yang diperoleh dari tetangganya.

Seiring berkembangnya usaha, ia kini mendatangkan bahan baku dari Purworejo, Magelang, hingga Kebumen karena membutuhkan batok kelapa dengan kualitas tertentu.

Berbagai produk berhasil ia ciptakan, mulai dari mangkuk, sendok, garpu, kap lampu, hingga berbagai hiasan rumah.

Di antara semuanya, lampu gantung bercabang dan kerajinan berukir menjadi produk yang paling rumit karena membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu pengerjaan lebih lama.

Usaha yang dirintis dengan modal sekitar Rp100 ribu itu bahkan sempat menembus pasar internasional.

Sebelum pandemi Covid-19, produknya dikirim ke Prancis dan Inggris melalui pesanan yang datang dari Instagram.

Namun, sejak 2019 aktivitas ekspor terhenti. Tiar menilai tingginya biaya pengiriman dan rumitnya prosedur ekspor menjadi kendala utama.

"Sebenarnya orang luar negeri sangat menyukai produk kerajinan Indonesia. Namun, proses ekspor sekarang jauh lebih sulit dan biaya pengirimannya juga tinggi," ungkapnya.

Meski demikian, Oni Made Craft mampu bertahan hingga hampir sembilan tahun.

Kini, usaha tersebut telah memiliki tempat produksi, galeri, serta peralatan kerja yang lebih lengkap.

Tiar mengaku seluruh pencapaian itu diraih secara bertahap tanpa bergantung pada pinjaman.

"Prinsip saya sederhana, orang yang berwirausaha harus berani mandiri. Saya memulai dari nol. Yang saya punya hanya keyakinan untuk terus mencoba," tuturnya.

Selain mengembangkan usahanya, Tiar kini dipercaya sebagai Ketua Handycraft Kudus.

Dari pengalamannya mendampingi para pelaku UMKM, ia menilai masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama terkait pemasaran, pelatihan, hingga akses ekspor.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih nyata kepada pelaku UMKM, tidak hanya melalui bantuan, tetapi juga dengan mempermudah regulasi ekspor, memperluas pembinaan, dan menciptakan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada usaha kecil.

"Kalau memang ingin mengembangkan ekonomi lokal, UMKM harus benar-benar didukung. Jangan hanya sebatas program, tetapi juga diberikan kemudahan agar produk lokal bisa bersaing dan menembus pasar yang lebih luas," harapnya.

Berawal dari modal Rp100 ribu dan cibiran karena dianggap tidak bekerja sesuai gelarnya, Tiar Bahroni membuktikan bahwa limbah batok kelapa dapat menjadi karya bernilai ekonomi.

Kisahnya menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh besarnya modal atau profesi yang dijalani, melainkan oleh keberanian memulai, ketekunan, dan konsistensi dalam membangun usaha.

 

Editor : Ali Mustofa
#Kerajinan Kudus #kreatif #umkm kudus #Kudus #kerajinan