KUDUS — Ruang pedestrian di pusat perkotaan Kabupaten Kudus kini tengah menghadapi tantangan serius akibat komersialisasi lahan publik.
Menanggapi fenomena tersebut, Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kudus melayangkan kritik tajam terhadap maraknya tren coffee street (lapak kopi pinggir jalan) yang kian menjamur dan dinilai mengokupasi serta menggeser fungsi hakiki trotoar sebagai fasilitas aman bagi para pejalan kaki.
Uniknya, kritik sosial ini tidak disampaikan melalui demonstrasi konvensional, melainkan dikemas secara estetis melalui panggung seni jalanan berupa live painting (melukis langsung), pembacaan puisi, hingga performa musikalisasi sastra.
Aksi budaya yang memikat perhatian publik ini digelar langsung di atas trotoar Jalan Pramuka, area Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, pada Minggu (28/6/2026) sore.
Memilih Lokasi sebagai Simbol Perjuangan Hak Pedestrian
Pemilihan trotoar Jalan Pramuka sebagai episentrum kegiatan bukanlah tanpa alasan. Para seniman dan pegiat sastra sengaja memilih ruang terbuka tersebut sebagai lokasi pertunjukan agar pesan esensial yang ingin diembuskan selaras dengan realitas isu yang diangkat, yakni desakan pengembalian fungsi trotoar sesuai peruntukannya secara hukum.
Geliat seni ini dimulai tepat pada pukul 16.30 WIB menjelang waktu matahari terbenam. Dinamika acara berjalan secara simultan dan organik:
-
Aksi Live Painting: Tiga seniman rupa senior Kudus secara bersamaan menorehkan kuas di atas kanvas putih, memvisualisasikan kegelisahan tata kota yang terhimpit beton dan komersialisme.
-
Interaksi Publik: Masyarakat yang tengah melintas, pengguna jalan, hingga gerombolan anak muda tampak menghentikan laju kendaraan mereka demi menyaksikan proses kreatif yang jarang terjadi di ruang terbuka tersebut.
"Bisik Bumi di Atas Trotoar": Menolak Komersialisasi Berkedok Tren
Di sela-sela sapuan warna pada kanvas, suasana sore kian syahdu sekaligus kritis ketika para sastrawan secara bergantian menaiki podium jalanan untuk membacakan puisi-puisi bertema perlawanan sosial.
Karya-karya sastra yang dibacakan lahir murni dari keresahan kolektif terhadap pengabaian tata ruang kota.
Untaian bait tersebut memuat refleksi pribadi, kritik tajam terhadap kebijakan tata ruang, hingga ajakan kepada pemangku kebijakan agar lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan hidup perkotaan.
Pernyataan Sikap: Ketua Lesbumi Kudus, Abud SB Runcing, menjelaskan bahwa kegiatan kolaboratif lintas disiplin ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang sengaja disuarakan melalui pendekatan seni dan budaya yang humanis.
"Kami mengusung tema 'Bisik Bumi di Atas Trotoar' sebagai simbol ajakan kepada semua pihak, baik warga maupun pemerintah, untuk kembali mendengarkan suara alam serta hak-hak publik yang sering kali terabaikan dan tergilas di tengah pesatnya ego perkembangan ekonomi kawasan perkotaan," tegas Abud SB Runcing.
Sinergi Lintas Komunitas Kreatif di Kota Kretek
Agenda kebudayaan ini berhasil mengonsolidasikan berbagai elemen pergerakan seni di Kota Kretek.
Lesbumi Kudus turut menggandeng kolektif Teater Gerak 11, barisan pelajar, mahasiswa, pegiat teater independen, serta berbagai komunitas sub-kultur seni lainnya di Kudus.
Setelah sesi live painting berlangsung intensif selama kurang lebih satu jam, jalannya acara bergeser menjadi lebih dinamis dengan penampilan musikalisasi puisi yang didominasi oleh generasi muda.
Melalui alunan instrumen musik akustik dan deklamasi bait yang bertenaga, generasi muda Kudus ini menegaskan bahwa estetika kota tidak boleh mengorbankan keselamatan dan kenyamanan warga sipil yang berjalan kaki.
Aksi ini diharapkan memicu evaluasi dari Pemerintah Kabupaten Kudus untuk menertibkan pemanfaatan trotoar tanpa mematikan kreativitas ekonomi kaum muda. (*)