Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Listrik Padam, Produksi Kopi Terganggu: Roastery di Kudus Rugi Jutaan Rupiah

Ali Mustofa • Rabu, 24 Juni 2026 | 11:10 WIB
HARUS TRANSPARAN: Pekerja meroasting kopi di kedai NO 8 Coffee Kudus. (GALIH ERLAMBANG W/ RADAR KUDUS)
HARUS TRANSPARAN: Pekerja meroasting kopi di kedai NO 8 Coffee Kudus. (GALIH ERLAMBANG W/ RADAR KUDUS)

KUDUS – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi belakangan ini di wilayah Kudus mulai menimbulkan dampak serius bagi pelaku usaha.

Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri pengolahan kopi (roastery).

Pemilik usaha kopi NO 8 Coffee, Imam Kurniawan, mengungkapkan bahwa pemadaman listrik tanpa pemberitahuan dari PLN sangat mengganggu proses produksi, terutama saat proses roasting kopi.

Menurutnya, proses roasting tidak bisa dihentikan di tengah jalan.

Ia bahkan pernah mengalami kegagalan produksi hingga sekitar 30 kilogram biji kopi akibat listrik tiba-tiba padam.

“Kalau listrik mati saat proses roasting berjalan, otomatis kopi jadi gagal,” ujar Imam.

Ia menjelaskan, penggunaan genset memang menjadi solusi darurat, namun tetap berdampak pada penurunan kualitas kopi.

Perubahan suhu dan proses kimia pada biji kopi membuat rasa hasil akhir tidak maksimal.

“Kalau dilanjutkan pakai genset, kualitas turun. Biasanya kami harus ulang proses dan dijual dengan kualitas lebih rendah,” tambahnya.

Kerugian yang dialami pun tidak sedikit. Dalam satu batch produksi sekitar 10 kilogram, nilai kerugian bisa mencapai sekitar Rp2 juta.

Jika diakumulasi, total kerugian hampir menyentuh Rp6 juta.

Selain produksi, pemadaman listrik juga berdampak pada operasional kedai kopi miliknya.

Saat listrik padam, AC tidak berfungsi dan mesin espresso tidak dapat digunakan, sehingga pelayanan pelanggan terganggu.

Pada jam sibuk sekitar pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, kondisi ini sangat merugikan karena biasanya kedai sedang ramai pengunjung.

Dalam kondisi normal, kedai dapat memproduksi hingga 50 cangkir espresso, dengan potensi kerugian sekitar Rp1,2 juta saat terjadi pemadaman.

Imam berharap pihak PLN dapat memberikan pemberitahuan jadwal pemadaman lebih awal agar pelaku usaha bisa melakukan persiapan.

Sementara itu, dampak serupa juga dirasakan fotografer freelance Ahmad Muannam.

Ia mengaku pekerjaan editing foto yang sedang dikerjakan menjadi tertunda akibat listrik padam selama hampir tiga jam.

“Deadline jadi mundur karena saya tidak bisa menyelesaikan editing dan mengirim file ke klien,” katanya.

Ia juga meminta adanya transparansi dan informasi lebih awal terkait pemadaman listrik agar pekerja dapat mengatur jadwal kerja dengan lebih baik. (gal)

Editor : Ali Mustofa
#pelaku usaha #pemadaman listrik #pln #Kudus