KUDUS – Peringatan 1 Muharram atau 1 Suro membawa berkah tersendiri bagi warga di sekitar Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus.
Momentum tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual budaya dan spiritual masyarakat.
Tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang cukup terasa bagi pelaku usaha kecil di kawasan petilasan yang ramai dikunjungi peziarah.
Sejumlah titik petilasan di wilayah tersebut menjadi tujuan utama masyarakat yang datang untuk melakukan rangkaian ritual.
Keramaian ini pun dimanfaatkan para pedagang untuk mengais rezeki, terutama mereka yang berjualan bunga tabur, perlengkapan doa, hingga berbagai oleh-oleh khas daerah.
Salah satu lokasi yang paling ramai adalah area Petilasan Eyang Sakri, yang setiap tahunnya selalu dipadati pengunjung.
Selain di sekitar petilasan, aktivitas ekonomi juga terlihat di area dekat Balai Desa Rahtawu.
Belasan stan UMKM berdiri dan menawarkan aneka jajanan serta produk lokal kepada para pengunjung yang datang silih berganti.
Kehadiran stan-stan ini menambah semarak suasana peringatan 1 Suro di desa tersebut.
Salah satu pedagang, Sukirah (60), yang sehari-hari menjual bunga setaman di depan Petilasan Eyang Sakri, mengaku merasakan peningkatan jumlah pembeli pada tahun ini.
Ia menyebutkan bahwa sejak Senin malam setelah waktu Isya, pengunjung mulai berdatangan dan kondisi tersebut membuat lapaknya lebih ramai dibanding hari-hari biasa.
Dalam aktivitasnya, Sukirah menjual berbagai perlengkapan ritual seperti bunga tabur yang dikemas dalam daun pisang, serta sejumlah umbi-umbian. Ia menjelaskan bahwa satu bungkus bunga dijual dengan harga sekitar Rp5 ribu, sementara umbi-umbian dibanderol sekitar Rp10 ribu per buah.
Menurut pengamatannya, jumlah pengunjung tahun ini terlihat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Bahkan, masyarakat sudah mulai berdatangan sejak siang hari, lebih awal dari biasanya yang baru ramai pada sore menjelang malam.
Ia pun berencana tetap membuka lapak hingga rangkaian peringatan 1 Suro berakhir dalam beberapa hari ke depan.
“Kalau hari biasa tidak seramai ini. Kemarin saja hasil jualan bisa sampai sekitar Rp300 ribu per hari, semoga tahun ini lebih baik karena pengunjung juga lebih banyak,” ungkapnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh pedagang lainnya, Rumani (52), yang turut berjualan di kawasan petilasan.
Ia mengatakan bahwa tahun ini suasana kunjungan terasa lebih ramai dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga memberikan harapan lebih besar terhadap peningkatan penjualan.
Rumani menyebutkan bahwa puncak keramaian diperkirakan akan terjadi pada Kamis mendatang, bertepatan dengan peringatan penanggalan Jawa Aboge.
Pada momen tersebut, biasanya jumlah pengunjung mencapai titik tertinggi karena banyak masyarakat yang datang untuk menjalani ritual dan ziarah.
“Semoga tahun ini benar-benar lebih ramai, supaya dagangan juga ikut laku. Saya jual bunga lengkap dengan kemenyan,” ujarnya.
Selain paket bunga, Rumani juga menawarkan berbagai hasil bumi khas Desa Rahtawu, seperti buah sirsat, umbi-umbian, parijoto, hingga kopi lokal.
Produk-produk tersebut menjadi daya tarik tambahan bagi para pengunjung yang ingin membawa pulang buah tangan khas desa pegunungan tersebut.
“Tahun lalu rata-rata pendapatan bisa sekitar Rp300 ribu per hari, mudah-mudahan tahun ini lebih baik,” tambahnya. (gal)