KOTA — Janda, duda, hingga lajang kini mendapat ruang lebih aman dan terarah untuk mencari pasangan hidup.
Hal itu diwujudkan melalui peluncuran program biro jodoh yang digagas Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama di Aula Pondok Pesantren Yanbu'ul Quran, Minggu (14/6).
Program ini menjadi salah satu ikhtiar untuk membantu masyarakat yang selama ini kesulitan menemukan pasangan.
Peluncuran program tersebut dihadiri puluhan peserta dari berbagai daerah, baik laki-laki maupun perempuam.
Mereka datang dengan latar belakang berbeda, mulai dari yang belum pernah menikah hingga yang sudah pernah berumah tangga.
Rentang usia peserta pun cukup beragam, dari yang termuda 22 tahun hingga peserta tertua laki-laki berusia 76 tahun dan perempuan 62 tahun.
Ketua Sutejo menjelaskan, program biro jodoh ini lahir dari masukan Ketua Tanfidziyah NU Kudus yang mendorong agar LKKNU hadir lebih konkret dalam menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya soal keluarga dan pernikahan.
Menurutnya, banyak orang sebenarnya ingin menikah, namun terkendala sifat pemalu atau minimnya ruang untuk berkenalan.
“Kami menerima masukan agar memfasilitasi bapak-bapak, ibu-ibu, maupun teman-teman yang belum pernah atau sudah pernah menikah. Ada yang memang kesulitan mencari pasangan karena karakter pemalu, sehingga butuh dukungan. Ini bagian dari ikhtiar kami membantu,” ujarnya.
Sutejo menambahkan, pihaknya juga melihat tren biro jodoh di media sosial yang semakin marak.
Namun di sisi lain, fenomena itu kerap menimbulkan persoalan karena tidak adanya pengawasan maupun komitmen yang jelas.
Tak sedikit kasus berujung penipuan atau merugikan salah satu pihak.
“Kami ingin mengantisipasi hal tersebut. Banyak akun pencari jodoh yang pada akhirnya malah menimbulkan masalah, dan sering kali perempuan menjadi korbannya. Kami ingin itu tidak terjadi lagi,” tegasnya.
Melalui program ini, seluruh proses akan dikawal mulai dari tahap pendaftaran, pencocokan data, perkenalan, hingga menuju pernikahan.
Pendaftaran dibuka secara online maupun offline dengan kuota tertentu agar proses pendampingan lebih efektif dan terarah.
Direktur program, Muhammad Sholikul Huda, mengatakan para peserta yang telah mendaftar akan diperkenalkan melalui sistem yang sudah dirancang panitia.
Proses tersebut tidak dilakukan secara sembarangan, tetapi melalui tahapan seleksi dan komunikasi yang jelas.
“Setelah mendaftar, peserta akan kami kenalkan satu sama lain berdasarkan data dan kecocokan. Jika merasa cocok, kami fasilitasi pertemuan resmi dengan sepengetahun orang tua dari kedua belah pihak,” jelasnya.
Menurut Huda, jika proses perkenalan berjalan baik dan kedua pihak mantap, maka hubungan dapat dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
Bahkan, panitia telah menyiapkan rencana fasilitasi nikah gratis sebagai bentuk dukungan nyata bagi peserta.
“Kalau benar-benar sudah cocok dan yakin, bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Rencananya kami akan fasilitasi nikah gratis bagi peserta yang mengikuti program ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua LKKNU Jawa Tengah, Ulil Albab, mengapresiasi langkah LKKNU Kudus yang dinilai mejadi daerah kedua di Jawa Tengah yang menjalankan program serupa.
Ia berharap program ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain.
“Semoga ini bisa menjadi percontohan. Yang penting etika pertemanan dan perjodohan harus tetap dijaga bersama,” ujarnya saat membuka acara.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi tentang kemaslahatan keluarga yang disampaikan oleh Shony Wardana.
Materi itu diberikan agar peserta memahami bahwa pernikahan bukan sekadar soal menemukan pasangan, tetapi juga kesiapan membangun rumah tangga yang harmonis dan bertanggung jawab.
Pada peluncuran perdana ini, tercatat sebanyak 90 orang telah mendaftar dari Kudus dan sejumlah daerah lain.
Jumlah laki-laki dan perempuan disebut hampir seimbang, dengan mayoritas peserta berada di rentang usia 25 hingga 30 tahun.
Panitia optimistis jumlah pendaftar akan terus bertambah seiring program ini semakin dikenal masyarakat sebagai jalur pencarian jodoh yang aman, serius, dan berorientasi pada pernikahan sah. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra