KUDUS – Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa perantauan di Kabupaten Kudus, Afrian Desta Pratama (20) tetap rutin memantau kondisi kesehatan sang nenek yang tinggal di Desa Tengger, Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang.
Bagi Desta, sapaan akrabnya, keberadaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi salah satu hal yang membuat dirinya lebih tenang saat harus jauh dari keluarga.
Desta mengatakan, neneknya telah mengalami hipertensi dan asma sudah sekitar lima tahun terakhir.
Seiring bertambahnya usia, kondisi kesehatan sang nenek membutuhkan perhatian lebih.
Ia mengaku sering merasa khawatir ketika sedang berada di Kudus untuk kuliah, sementara itu neneknya bisa mengalami sesak napas secara tiba-tiba.
“Kalau saya sedang di Kudus, kemudian mendapat kabar Nenek sesak atau tekanan darahnya naik, pasti langsung kepikiran. Tapi alhamdulillah keluarga di rumah sudah terdaftar program JKN. Jadi kalau sewaktu-waktu nenek harus berobat atau control, jadi tidak bingung soal biaya,” ujar Desta.
Ia menceritakan, keluhan yang paling sering dirasakan neneknya adalah tengkuk terasa berat dan kepala pusing akibat hipertensinya.
Sementara saat asma kambuh, sang nenek mengalami sesak napas hingga suara napasnya berbunyi.
Karena kondisi tersebut, keluarganya selalu sigap membawa neneknya ke puskesmas terdekat.
“Kalau kambuh biasanya napas Nenek berbunyi dan dadanya terasa sesak sekali. Kadang kalau terlalu capek juga langsung kambuh. Karena rumah kami dekat puskesmas, jadi keluarga langsung membawa ke sana supaya cepat ditangani,” katanya.
Sebagai peserta JKN segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) yang didaftarkan melalui pemerintah desa, nenek Desta rutin menjalani kontrol kesehatan setiap bulan.
Selain itu, ia juga mengikuti Posyandu Lansia dan terdaftar dalam Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan untuk pemantauan hipertensi yang dideritanya.
“Setiap bulan Nenek kontrol tekanan darah dan ambil obat rutin. Ikut Prolanis juga jadi kesehatannya lebih terpantau. Obatnya selalu tersedia dan itu sangat membantu karena hipertensi kan harus minum obat terus,” jelas Desta.
Beberapa waktu lalu, kondisi neneknya sempat menurun akibat sesak napas yang cukup parah hingga harus menjalani rawat inap.
Desta masih mengingat bagaimana keluarganya panik saat melihat kondisi neneknya semakin lemah.
“Waktu itu sesaknya berat sekali sampai harus dirawat inap dan mendapat terapi nebulizer. Sebagai cucu saya ikut khawatir, apalagi saya sedang di perantauan. Tapi keluarga cerita kalau di Fasilitas Kesehatan nenek sudah ditangani dengan cepat,” ungkapnya.
Menurut Desta, pelayanan tenaga kesehatan yang diterima neneknya selama menggunakan JKN juga sangat baik.
Ia menilai dokter dan perawat tetap memberikan pelayanan maksimal tanpa membedakan.
“Dokter dan perawatnya sabar menghadapi pasien lansia seperti Nenek saya. Keluhannya didengarkan dengan baik dan pelayanannya ramah. Saya sendiri melihat tidak ada perbedaan perlakuan antara pasien BPJS dan pasien umum,” katanya.
Selain mendampingi keluarga dari jauh, Desta juga membantu keluarganya mengakses layanan administrasi melalui Aplikasi Mobile JKN.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komputer, ia merasa layanan digital BPJS Kesehatan sangat memudahkan masyarakat, terutama keluarga dengan pasien lansia.
“Saya biasanya bantu ambil antrean online dan cek status kepesertaan keluarga lewat Aplikasi Mobile JKN. Jadi orang tua dan Nenek tidak perlu bingung lagi. Menurut saya inovasi digital seperti ini sangat membantu karena antrean jadi lebih praktis dan hemat waktu,” jelasnya.
Kini kondisi kesehatan nenek Desta mulai lebih stabil. Tekanan darahnya lebih terkontrol dan keluhan sesak napas juga semakin jarang kambuh.
Desta pun berharap Program JKN terus berkembang dan semakin memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.
“Jangan menunggu sakit baru daftar JKN. Saat kita sehat, iuran yang dibayarkan juga bisa membantu orang lain yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan. Saya benar-benar merasakan manfaat gotong royong dari Program JKN ini,” tutup Desta. (*)
Editor : Ali Mustofa