Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

ECA Fest Latih Anak Kurangi Gadget

Andika Trisna Saputra • Kamis, 4 Juni 2026 | 05:29 WIB

BERANI: Siswa RA/TK mengikuti ajang ECA Fest dan menunjukkan keterampilannya di atas panggung di Gedung Laboratorium Terpadu Lantai 5 UIN Sunan Kudus, Rabu (3/6). (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)
BERANI: Siswa RA/TK mengikuti ajang ECA Fest dan menunjukkan keterampilannya di atas panggung di Gedung Laboratorium Terpadu Lantai 5 UIN Sunan Kudus, Rabu (3/6). (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

BAE - Sebanyak 21 RA dan TK dari berbagai wilayah di Kabupaten Kudus ambil bagian dalam Early Childhood Art Festival III (ECA Fest III) yang digelar di Gedung Laboratorium Terpadu Lantai 5 UIN Sunan Kudus, Rabu (3/6).

Festival ini menjadi ruang bagi anak usia dini untuk menampilkan kreativitas dan bakat melalui berbagai pertunjukan seni yang dikemas edukatif dan menyenangkan. 

Kegiatan yang berlangsung selama 3–4 Juni 2026 tersebut mendapat perhatian dari Bunda PAUD Kabupaten Kudus, Endhah Endayani Sam’ani Intakoris.

Menurutnya, festival seni bagi anak usia dini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran yang mampu membentuk karakter dan meningkatkan kemampuan sosial anak sejak dini. 

Endhah mengapresiasi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sunan Kudus yang menghadirkan metode pembelajaran kreatif melalui seni pertunjukan.

Dalam kegiatan itu, anak-anak didorong untuk aktif bergerak, menari, bermain drama, hingga mengikuti fashion show sebagai bagian dari proses belajar. 

Menurutnya, pendekatan tersebut mampu merangkum berbagai aspek perkembangan anak. 

Selain mengasah kreativitas, kegiatan seni juga dapat meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan bekerja sama dalam tim. 

“Ini termasuk pembelajaran yang sangat baik karena anak-anak didorong untuk percaya diri, tampil bersama teman-temannya, dan menunjukkan bakat serta minat yang dimiliki,” ujarnya.

Ia menilai kegiatan semacam itu juga menjadi alternatif positif di tengah meningkatnya penggunaan gawai oleh anak-anak.

Endhah menegaskan bahwa gadget bukan sesuatu yang harus sepenuhnya dilarang, karena teknologi tetap memiliki manfaat dalam proses belajar.

Namun, penggunaannya perlu diimbangi dengan aktivitas langsung yang melibatkan interaksi sosial dan pengalaman nyata. 

“Terkait penggunaan gadget, bukan berarti tidak boleh sama sekali. Itu juga penting. Tetapi kita bisa mengalihkan anak-anak dengan kegiatan yang positif dan aktivitas langsung. Jadi harus seimbang,” katanya.

Melalui kegiatan seni, lanjut Endhah, anak-anak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebaya, belajar bekerja sama, serta berani tampil di depan umum.

Pengalaman tersebut dinilai penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. 

Tidak hanya melibatkan peserta didik, ECA Fest III juga menjadi sarana praktik lapangan bagi mahasiswa calon guru PAUD.

Mereka terlibat langsung dalam pendampingan anak, mulai dari menyusun konsep pertunjukan, latihan, tata rias, hingga menyiapkan busana yang digunakan peserta. 

Endhah menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut sangat penting karena profesi guru PAUD membutuhkan keterampilan khusus.

Selain memahami teori pendidikan, calon guru juga dituntut kreatif dalam merancang pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter anak usia dini. 

“Mahasiswa melakukan pelatihan langsung, berinteraksi dengan anak-anak, mendampingi mereka, hingga mengonsep kebutuhan artistik seperti rias dan busana. Ini menuntut kreativitas yang tinggi karena menjadi guru PAUD memang memerlukan kemampuan khusus,” ungkapnya.

Ia berharap festival serupa tidak berhenti pada penyelenggaraan tahun ini.

Ke depan, kegiatan tersebut diharapkan dapat terus dilaksanakan dengan cakupan yang lebih luas dan menghadirkan inovasi baru sehingga semakin banyak anak usia dini yang memperoleh manfaat. 

“Harapan saya kegiatan seperti ini terus berlanjut, bahkan bisa diperluas lagi cakupannya dan ditingkatkan kualitasnya. Dengan begitu semakin banyak anak yang dapat mengembangkan potensi dirinya sejak usia dini,” tandasnya. (dik)

 

Editor : Andika Trisna Saputra
#kurangi gadget #PAUD #bunda paud #Kudus #ra