KUDUS – Tradisi penjamasan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kudus kembali digelar oleh Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Senin (1/6).
Kegiatan yang berlangsung di Tajug Menara Kudus tersebut menjadi salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 1448 Hijriah.
Dalam prosesi tersebut, pusaka berupa Keris Kiai Cinthaka dan dua tombak trisula dibersihkan melalui serangkaian ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Suasana khidmat mewarnai jalannya penjamasan yang diikuti para sesepuh, pengurus yayasan, dan panitia Buka Luwur.
Ketua Panitia Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 1448 Hijriah, Ahmad Arinal Haq, menjelaskan pelaksanaan penjamasan dilakukan berdasarkan ketentuan tradisi yang telah berlaku sejak lama, yakni dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis setelah hari tasyrik.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan sejarah dan nilai-nilai yang ditinggalkan Sunan Kudus kepada masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengambilan pusaka dari tempat penyimpanan.
Selanjutnya dilakukan ziarah umum sebelum memasuki prosesi inti penjamasan yang dipimpin KH Faqihuddin bersama para sesepuh.
Pembersihan pusaka dilakukan secara bertahap. Keris dan tombak terlebih dahulu direndam dalam banyu londho atau air hasil rendaman merang ketan hitam.
Setelah itu, pusaka dibersihkan menggunakan campuran air jeruk nipis dan bubuk warangan guna mengangkat kotoran sekaligus menjaga logam agar tidak mudah berkarat.
”Setelah proses pembersihan selesai, pusaka dijemur di atas sekam ketan hitam hingga kering sebelum diberi wewangian. Tahun ini, penjamasan diawali dari Keris Kiai Cinthaka dan dilanjutkan dengan dua tombak trisula,” katanya.
Arinal mengatakan, terdapat sedikit perbedaan dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya.
Jika sebelumnya terdapat bancakan setelah penjamasan keris, tahun ini prosesi dilakukan secara berurutan hingga seluruh pusaka selesai dijamas.
Lebih jauh, ia menuturkan penjamasan mengandung makna simbolis yang erat dengan kehidupan manusia.
Tradisi tersebut mengajarkan pentingnya membersihkan diri dari berbagai sifat buruk sebagaimana pusaka yang dirawat agar tetap terjaga kondisinya.
“Pusaka yang hanya benda mati saja dibersihkan dan dirawat secara berkala. Apalagi manusia yang memiliki kehidupan, tentu harus terus berupaya membersihkan diri lahir dan batin,” ujarnya.
Melalui tradisi yang terus dipertahankan tersebut, YM3SK berharap generasi muda tidak hanya mengenal sejarah Sunan Kudus, tetapi juga mampu memahami nilai-nilai keteladanan, spiritualitas, dan introspeksi diri yang terkandung di dalamnya. (gal)
Editor : Ali Mustofa