KUDUS – Di tengah semakin langkanya perajin caping kalo, nama Suyati, warga Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, mulai mendapat perhatian sebagai sosok yang berpotensi meneruskan keterampilan khas Kudus tersebut.
Perempuan ini pernah berguru langsung kepada almarhumah Mbah Rudipah, perajin caping kalo yang dikenal mahir membuat anyaman halus atau alusan.
Selama kurang lebih dua tahun, Suyati belajar berbagai teknik pembuatan anyaman rumit yang menjadi ciri khas caping kalo.
Berkat pengalaman tersebut, ia kini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan kerajinan tradisional yang semakin sulit ditemukan.
Sebelumnya, pembuatan caping kalo di Kudus dikerjakan oleh dua perajin yang saling melengkapi.
Mbah Rudipah bertugas membuat anyaman halus, sedangkan Kamto menyelesaikan tahap akhir atau finishing hingga caping siap digunakan.
Sejak wafatnya Mbah Rudipah, Kamto menjadi satu-satunya perajin yang masih aktif memproduksi caping kalo.
Namun, untuk bagian anyaman halus, ia belum memiliki kemampuan seperti yang dimiliki mendiang rekannya.
Karena itu, keberadaan Suyati dinilai sangat penting untuk melanjutkan proses produksi secara utuh.
Menurut Suyati, tantangan terbesar dalam membuat anyaman halus bukan terletak pada tingkat kesulitannya, melainkan pada kesabaran dan ketelatenan yang dibutuhkan selama proses pengerjaan.
“Yang paling penting itu sabar, telaten, dan tekun. Sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi memang harus dikerjakan dengan penuh ketekunan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pembuatan bagian atas caping kalo melalui proses yang cukup panjang.
Bahan baku berupa bambu harus dipilih terlebih dahulu, kemudian ditebang, dibelah, diiris tipis, diirat, dan dijemur hingga benar-benar siap untuk dianyam.
Setelah melalui berbagai tahapan tersebut, bambu baru bisa diolah menjadi anyaman halus yang menjadi identitas utama caping kalo. Prosesnya membutuhkan waktu yang tidak singkat.
“Kalau saya, setelah bambu dihaluskan atau diongkot, biasanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu sampai bisa masuk tahap menganyam,” jelasnya.
Dengan keterampilan yang dimiliki Suyati, masyarakat berharap tradisi pembuatan caping kalo sebagai salah satu warisan budaya khas Kudus tetap terjaga dan tidak hilang ditelan zaman.
Keberlanjutan kerajinan ini dinilai penting sebagai bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. (san)
Editor : Ali Mustofa