Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dikira Bom, Polisi Beberkan Sosok Pengirim Paket yang Sempat Gegerkan Warga Kudus

Ali Mustofa • Kamis, 21 Mei 2026 | 14:57 WIB
WASPADA: Tim Jibom Gegana membawa paket yang dikemas kardus usai dilakukan pemeriksaan. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)
WASPADA: Tim Jibom Gegana membawa paket yang dikemas kardus usai dilakukan pemeriksaan. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)

KUDUS – Polisi memastikan paket mencurigakan yang sempat menghebohkan warga di sekitar rumah dinas pendeta Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ) Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, ternyata tidak berbahaya.

Setelah diperiksa, isi paket tersebut diketahui hanya berupa sayuran dan jajanan pasar.

Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo menjelaskan, paket itu merupakan kiriman dari seorang warga Kabupaten Pati untuk istri Pendeta GITJ Ploso.

Pengirim disebut merupakan teman lama keluarga pendeta.

Menurut Heru, kepanikan terjadi akibat miskomunikasi antara pengirim dan penerima sehingga paket tersebut sempat dicurigai sebagai benda berbahaya.

“Setelah dilakukan klarifikasi, ternyata paket hanya berisi bahan makanan berupa sayuran. Tidak ada unsur berbahaya sama sekali,” ujar Heru dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Kamis (21/5/2026).

Ia menambahkan, kesalahpahaman itu murni dipicu kurangnya komunikasi terkait pengiriman paket tersebut.

Heru mengungkapkan, paket diantar oleh seorang pelajar berinisial E yang merupakan anak salah satu jemaat gereja. E saat ini diketahui menempuh pendidikan di Kabupaten Kudus.

Namun karena terburu-buru berangkat sekolah, E tidak sempat memberi tahu pihak penerima bahwa dirinya telah menaruh paket di depan rumah dinas pendeta.

“E langsung meletakkan paket di teras rumah pendeta lalu pergi karena terburu-buru berangkat sekolah,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Heru, E sebenarnya berniat mengirim foto sebagai bukti bahwa paket sudah diantar, tetapi lupa melakukannya.

Akibatnya, paket tersebut sempat menimbulkan kepanikan.

Atas kejadian tersebut, E juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada pihak keluarga pendeta dan masyarakat.

Kapolres mengimbau warga agar tetap waspada jika menemukan barang mencurigakan, namun tidak perlu panik berlebihan.

Ia meminta masyarakat segera melapor kepada aparat agar dapat ditangani secara tepat.

“Waspada itu penting, tetapi jangan langsung panik. Jika menemukan hal mencurigakan segera laporkan ke petugas,” katanya.

Sebelumnya, paket misterius itu sempat membuat geger warga Desa Ploso pada Rabu (20/5) pagi. Peristiwa tersebut bahkan viral di media sosial karena sempat diduga sebagai paket bom di area gereja.

Kabag Ops Polres Kudus Kompol Eko Pujiyono menjelaskan, kejadian bermula ketika penghuni rumah dinas pendeta menemukan kardus bekas air mineral di teras rumah sekitar pukul 06.30 WIB saat hendak mengantar anak ke sekolah.

Karena merasa tidak menerima kiriman apa pun, pemilik rumah kemudian menanyakan kepada jemaat gereja melalui grup WhatsApp. Namun tidak ada yang mengaku mengirim paket tersebut.

Kecurigaan semakin muncul setelah rekaman CCTV memperlihatkan seorang pria mengenakan helm, masker, dan sarung tangan masuk ke area kompleks sekitar pukul 06.25 WIB lalu meninggalkan kardus di teras rumah.

Temuan itu akhirnya dilaporkan ke polisi. Aparat kemudian berkoordinasi dengan Tim Gegana Brimob Pati untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sekitar pukul 11.45 WIB, Tim Penjinak Bom (Jibom) tiba di lokasi dan langsung melakukan sterilisasi menggunakan perlengkapan khusus, termasuk alat pendeteksi bahan peledak dan anjing pelacak.

Selama proses pemeriksaan berlangsung, area sekitar gereja dipasangi garis polisi dan aktivitas warga dibatasi demi keamanan.

Pendeta Danang Tutut mengaku sempat khawatir setelah melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan pengirim menggunakan atribut tertutup lengkap.

 Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, pihak gereja memilih tidak membuka paket tersebut dan segera meminta bantuan kepolisian.

Setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan metal detector dan alat pendeteksi lainnya, polisi memastikan tidak ada unsur bahan peledak maupun ancaman berbahaya.

“Setelah dibuka, ternyata isinya hanya sayuran jenis kecipir dan jajanan pasar,” terang Kompol Eko Pujiyono.

Polisi menduga kejadian tersebut murni akibat kesalahan komunikasi dalam proses pengiriman paket sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. (gal)

 
Editor : Ali Mustofa
#anjing pelacak #barang bukti #rekaman cctv #gereja #Kudus