KUDUS – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris terus mengikuti perkembangan program penebaran 15 ribu benih ikan nila di saluran Kedung Gupit.
Setelah berjalan lebih dari satu bulan, pertumbuhan ikan dinilai cukup baik dan diperkirakan siap dipanen pada Agustus hingga September mendatang.
Program yang dimulai pada Jumat (10/4) tersebut dilaksanakan di depan Kantor Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus, kawasan perkantoran Mejobo.
Kegiatan penebaran benih ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pemanfaatan saluran air, menjaga lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Saat peluncuran program, Bupati Sam’ani menyampaikan bahwa saluran Kedung Gupit sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.
Oleh karena itu, kawasan tersebut ditata agar memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial.
Ia berharap lokasi tersebut dapat berkembang menjadi destinasi wisata lokal, di mana masyarakat nantinya dapat memancing ikan setelah masa panen tiba dengan izin dari Dispertan.
Selain menghasilkan ikan, program ini juga diharapkan menumbuhkan kesadaran warga untuk ikut menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.
Jika berhasil, Kedung Gupit berpotensi menjadi contoh pemanfaatan sungai produktif di daerah lain.
Kepala Bidang Perikanan Dispertan Kudus, Zainal Arifin, menjelaskan hingga Kamis (14/5) kondisi ikan nila menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Dari ukuran awal sekitar 10 sentimeter, kini rata-rata telah mencapai 15 sentimeter.
Ia optimistis target panen dapat tercapai apabila perawatan terus dilakukan dengan baik, terutama dalam pemberian pakan.
Perawatan ikan dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore, dengan kebutuhan pakan sekitar 5 hingga 10 kilogram setiap pemberian.
Selain itu, pengaturan debit air menjadi faktor penting agar tidak terlalu tinggi maupun terlalu surut.
Untuk mencegah ikan keluar dari area budidaya, Dinas PUPR telah memasang jaring besi serta saringan sampah.
Tim kebersihan juga rutin membersihkan aliran sungai agar kondisi lingkungan tetap terjaga.
Zainal menambahkan, tantangan lain muncul ketika ikan mulai memasuki fase matang telur.
Pada kondisi tersebut, pertumbuhan tubuh ikan biasanya tidak optimal.
Di kolam buatan hal ini dapat diatasi dengan aerator, namun di saluran alami seperti Kedung Gupit penanganannya lebih sulit.
Terkait informasi di media sosial mengenai ikan yang lepas, ia membenarkan sempat terjadi limpasan air di sisi timur pembatas saat petani membutuhkan tambahan suplai air.
Kondisi tersebut menyebabkan beberapa ikan meloncat melewati pagar pembatas.
Setelah kejadian diketahui, laporan segera disampaikan agar penanganan dapat dilakukan secepatnya. (dik)