RADAR KUDUS - Kisah haru datang dari Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Sebuah keluarga kecil terpaksa menjalani hidup di ruang sempit bekas penyimpanan kayu bakar berukuran sekitar 1x6 meter yang jauh dari kata layak huni.
Hunian sederhana itu kini ditempati oleh Sutinah (49), suaminya Sulatin (48), serta anak mereka yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Kondisi ini bermula saat Sutinah tak lagi mampu membayar biaya kontrakan yang sebelumnya mereka tempati.
Dalam kondisi terdesak, seorang tetangga bernama Nuryati memberikan bantuan dengan mempersilakan keluarga tersebut menempati lorong bekas gudang kayu bakar.
Meski hanya bersifat sementara, tempat itu akhirnya menjadi satu-satunya pilihan untuk berteduh.
Bangunan tersebut kemudian dimodifikasi seadanya. Dindingnya ditutup bambu di berbagai sisi, sementara atapnya menggunakan lembaran seng. Namun, saat hujan turun, air sering merembes masuk melalui celah-celah atap, membuat kondisi di dalam semakin tidak nyaman.
Akses masuk ke dalam hunian itu pun sangat terbatas. Lebarnya hanya sekitar ukuran pinggang orang dewasa, sehingga penghuni harus bergantian saat keluar masuk. Di dalamnya, hanya tersedia satu tempat tidur berukuran sekitar 1x1,5 meter yang digunakan bersama oleh ketiga anggota keluarga.
Untuk bertahan hidup, Sutinah bekerja sebagai buruh katering rumahan dengan penghasilan tidak tetap, berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari jika ada pesanan. Sementara itu, suaminya tidak dapat bekerja karena mengalami disabilitas pada kaki kiri yang kaku serta menderita asam urat.
Sebagian besar penghasilan yang didapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli obat dan jamu untuk sang suami. Kondisi semakin sulit karena kompor di rumah rusak, sehingga mereka tidak bisa memasak dan harus membeli makanan jadi.
Di tengah keterbatasan, keluarga ini masih menerima bantuan sosial. Dari pemerintah desa, mereka mendapatkan bantuan tunai sebesar Rp300 ribu setiap bulan. Selain itu, ada juga bantuan pangan non-tunai (BPNT) dari Kementerian Sosial senilai Rp600 ribu yang disalurkan setiap tiga bulan.
Meski hidup dalam keterbatasan, harapan tetap ada. Sutinah mengaku telah membeli sebidang tanah berukuran 5x12 meter di desa yang sama seharga Rp60 juta, hasil dari pesangon saat bekerja di pabrik rokok. Namun, hingga kini lahan tersebut belum bisa dibangun karena keterbatasan biaya dan proses sertifikat yang masih berlangsung.
Ia berharap suatu saat nanti dapat membangun rumah sederhana di atas tanah tersebut, agar keluarganya bisa hidup lebih layak. Harapan itu menjadi satu-satunya pegangan di tengah kondisi yang serba sulit.
Editor : Mahendra Aditya