KUDUS – Kelangkaan pertalite di sejumlah SPBU di Kabupaten Kudus membuat banyak warga terpaksa beralih menggunakan bahan bakar nonsubsidi yang harganya lebih mahal.
Situasi ini langsung menambah beban pengeluaran harian masyarakat, terutama bagi pekerja yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi.
Sejak Rabu (29/4), masyarakat mulai kesulitan menemukan pertalite.
Hingga kemarin pagi, stok di beberapa SPBU masih dilaporkan kosong.
Akibatnya, para pengendara harus berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lain tanpa kepastian bisa mendapatkan BBM yang dicari.
Ema Dyah, salah satu pengendara, mengaku tidak punya pilihan selain membeli pertamax turbo agar tetap bisa berangkat kerja.
Meski harganya jauh lebih tinggi, ia harus mengambil keputusan tersebut demi kelancaran aktivitasnya.
“Sebenarnya berat, tapi kalau tidak isi, tidak bisa kerja,” ujarnya.
Hal serupa dialami Ba’do Samiono, warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae.
Ia sudah mencoba mencari pertalite di tiga SPBU berbeda, namun hasilnya nihil.
“Sudah muter ke beberapa tempat, tapi kosong semua. Akhirnya ya harus cari yang lain, terpaksa isi pertamax,” katanya.
Kelangkaan ini juga berdampak pada operasional SPBU.
Salah satu karyawan SPBU di Jalan Jenderal Soedirman, depan PT Nojorono, menyebut stok pertalite sudah habis sejak Selasa (28/4) sore dan hingga kini pasokan belum kembali normal.
Pihak SPBU sebenarnya telah melakukan pemesanan, namun distribusi belum juga tiba.
Kondisi tersebut turut memengaruhi penjualan, karena sebagian konsumen memilih pergi saat mengetahui pertalite tidak tersedia.
Pantauan di lapangan menunjukkan adanya tulisan “pertalite dalam perjalanan” di beberapa SPBU, sementara sejumlah pengendara motor terlihat mengisi BBM jenis pertamax.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak Pertamina terkait penyebab terganggunya distribusi pertalite di Kudus.
Petugas di lapangan hanya menyampaikan bahwa manajemen belum berada di tempat saat dimintai konfirmasi.
Masyarakat berharap kelangkaan ini segera teratasi agar tidak terus membebani ekonomi warga dan mengganggu aktivitas sehari-hari. (dik)