KOTA – Ketegangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian memicu kekhawatiran global, terutama dampaknya terhadap ekonomi, energi, hingga stabilitas pangan.
Situasi tersebut mendorong berbagai elemen di daerah untuk meningkatkan pemahaman bersama, salah satunya melalui kegiatan halal bihalal dan halaqah yang digelar di Aula Mubarokfood Cipta Delicia, Sabtu (11/4) siang.
Pantauan di lokasi, tamu undangan mulai berdatangan sejak pukul 13.00 WIB.
Para peserta tampak mengenakan busana muslim serba putih dan berpeci, menciptakan suasana religius sekaligus penuh kehangatan pasca-Ramadan.
Acara tersebut rencananya menghadirkan Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, sebagai keynote speaker.
Namun, yang bersangkutan berhalangan hadir karena agenda lain yang bersamaan.
Pesan Bupati kemudian disampaikan melalui Ketua MUI Kudus sekaligus penyelenggara.
Ketua MUI Kudus, Ahmad Hamdani Hasanuddin, mengawali sambutan dengan mengajak seluruh hadirin mempetkuat silaturahmi.
“Alhamdulillah kita bisa berkumpul, bermaaf-maafan setelah puasa, dan merayakan kemenangan Hari Raya Idulfitri. Mari kita jaga silaturahmi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan Bupati terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Menurutnya, kebersihan menjadi faktor penting yang berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.
“Mari kita jaga kebersihan lingkungan kita masing-masing. Jika lingkungan bersih, manfaatnya kembali kepada kita. Sebaliknya, jika tidak dijaga, akan menimbulkan penyakit hingga bencana,” tegasnya.
Sebagai narasumber pertama, Abdurrohman Kasdi memaparkan analisis mendalam terkait konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ia menjelaskan bahwa konflik tersebut tidak hanya berdimensi militer, tetapi juga mencakup aspek geopolitik, ekonomi, dan diplomasi global.
Dalam paparannya, ia menguraikan sejumlah teori hubungan internasional, seperti balance of power, alliance theory, proxy war, dan power transition.
Teori-teori tersebut menjelaskan bagaimana negara membangun aliansi, menghadapi ancaman, hingga potensi terseret dalam konflik yang lebih luas.
Ia juga memaparkan kronologi konflik yang memuncak pada 2026, mulai dari serangan awal Amerika Serikat dan Israel ke Iran, hingga balasan Iran melalui serangan rudal dan drone.
Situasi semakin memanas dengan blokade Selat Hormuz yang berdampak signifikan terhadap distribusi energi dunia.
Menurutnya, dampak geopolitik yang muncul antara lain penguatan blok pro-Iran dan pro-Israel, keterlibatan negara-negara besar seperti Rusia, China, dan Eropa, serta potensi munculnya “perang dingin baru” di kawasan Timur Tengah.
Dari sisi ekonomi, ia menekankan bahwa Indonesia tidak lepas dari dampak krisis tersebut.
Lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel berpotensi menekan APBN, mengingat ketergantungan impor energi dari Timur Tengah masih cukup besar.
Selain itu, dampak juga dirasakan pada sektor pangan dan sosial.
Kenaikan biaya logistik dan harga pupuk dapat mengganggu produksi pertanian serta memicu kenaikan harga bahan pokok.
Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.
Narasumber kedua, Achmad Hilal Majdi, menyoroti berbagai prediksi tokoh terkait konflik global.
Ia menyinggung pandangan budayawan Emha Ainun Nadjib yang pernah memprediksi kemungkinan terjadinya perang antara Amerika dan Iran, sehingga memunculkan kebingungan di tengah masyarakat Indonesia.
Diskusi berlangsung interaktif di bawah panduan moderator, Kisbiyanto.
Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya halaqah yang mengaitkan isu global dengan dampaknya terhadap kehidupan nasional. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra