Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Viral Surat Tolak MBG, Siswa SMK Kudus Dapat Pendampingan Dinas Pendidikan

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 9 April 2026 | 17:14 WIB
Isi surat terbuka yang ditulis oleh Arsya, siswa SMK NU Miftahul Falah, Desa Cendono, Kecamatan Dawe.
Isi surat terbuka yang ditulis oleh Arsya, siswa SMK NU Miftahul Falah, Desa Cendono, Kecamatan Dawe.

KUDUS – Suara seorang pelajar SMK di Kabupaten Kudus mendadak menjadi sorotan publik. Bukan karena prestasi akademik atau lomba, melainkan karena keberaniannya menyampaikan aspirasi secara terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Adalah Mohammad Rafif Arsya Maulidi, siswa kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual di SMK NU Miftahul Falah, Desa Cendono, Kecamatan Dawe. Arsya menjadi perbincangan luas setelah menulis surat pribadi terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan ramai diperbincangkan.

Dalam surat yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, Arsya menyampaikan penolakan secara personal terhadap program tersebut. Namun, yang membuat publik tertegun adalah alasannya: ia berharap dana yang semestinya dialokasikan untuk dirinya dapat dialihkan menjadi tambahan kesejahteraan bagi para guru.

Unggahan tersebut sontak memantik gelombang reaksi di media sosial. Dukungan dan kritik datang silih berganti. Sebagian mengapresiasi kepedulian dan empati Arsya terhadap guru, sementara lainnya mempertanyakan sikapnya terhadap program pemerintah.

Situasi kian memanas ketika Arsya dikabarkan sempat mengalami intimidasi dari pihak tak dikenal. Meski demikian, berdasarkan keterangan sang ibu, Yunita Ari Santi, pihak yang diduga melakukan tekanan tersebut telah menyampaikan permintaan maaf.

Dampak dari peristiwa ini tidak hanya berhenti di ranah digital. Arsya kini disebut lebih berhati-hati dalam beraktivitas di luar rumah. Ia tidak lagi bebas menjalani hobinya berburu foto seperti sebelumnya, kecuali didampingi keluarga atau teman dekat. Bahkan, penggunaan media sosialnya pun turut dibatasi oleh orang tua demi menjaga kondisi psikologisnya.

Melihat perkembangan ini, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat. Kepala cabang dinas, Budi Santoso, memastikan pihaknya memberikan perhatian khusus terhadap kasus yang menimpa Arsya.

”Ya saya sudah mendapatkan laporan dari sekolah dan saya update pemberitaannya kalau Arsya juga merasa cemas dan sempat ada intimidasi atau teror lewat medsonya,” ungkapnya.

Menurut Budi, pihaknya telah menerima laporan dari sekolah dan terus memantau dinamika yang berkembang, terutama di media sosial. Ia menegaskan bahwa kebebasan berpendapat adalah hak setiap individu, termasuk pelajar, selama disampaikan dengan cara yang baik.

Namun demikian, viralnya surat Arsya dinilai memiliki dampak berbeda dibandingkan opini biasa, karena memicu reaksi luas di tengah masyarakat yang memang sedang terbelah dalam menyikapi program MBG.

Sebagai langkah antisipasi, dinas pendidikan meminta pihak sekolah untuk memberikan perlindungan maksimal kepada Arsya dari potensi risiko yang tidak diinginkan. Selain itu, pendampingan juga akan terus dilakukan guna memastikan kondisi mental dan keamanan siswa tetap terjaga.

”Untuk itu kami minta kepada pihak sekolah agar menjaga Arsya dari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Budi Santoso, saat dimintai keterangan

Kasus ini menjadi potret nyata bagaimana suara pelajar di era digital bisa dengan cepat meluas dan berdampak besar. Di satu sisi, ini menunjukkan tumbuhnya keberanian generasi muda dalam menyuarakan pendapat. Namun di sisi lain, juga menjadi pengingat pentingnya ruang aman bagi siswa untuk berekspresi tanpa tekanan. (San/Mah)

Editor : Mahendra Aditya
#surat MBG Prabowo #siswa SMK viral #kontroversi makan bergizi gratis #intimidasi pelajar Kudus #dinas pendidikan jateng