KUDUS – Tradisi kupatan di kawasan Sendang Jodo, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, mulai diarahkan sebagai penggerak pengembangan wisata budaya berbasis potensi lokal.
Pemerintah desa bersama kecamatan melihat tradisi ini tidak hanya bernilai sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Kepala Desa Purworejo, Noor Chamid, menjelaskan bahwa pengemasan tradisi dalam bentuk kirab dilakukan untuk memperluas dampak kegiatan agar semakin dikenal masyarakat luas.
Dengan partisipasi warga yang terus meningkat, kegiatan tersebut dinilai memiliki daya tarik kuat untuk dikembangkan ke arah yang lebih besar.
Ia menyebut, tradisi yang dulunya hanya berupa kenduri sederhana kini dikemas lebih menarik agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Meski demikian, ia menegaskan pengembangan ke arah wisata budaya harus dilakukan secara bertahap tanpa meninggalkan nilai kearifan lokal.
Semangat kebersamaan serta rasa syukur, menurutnya, harus tetap menjadi inti dari tradisi tersebut.
Sementara itu, Camat Bae, Syafi'i, menilai kawasan Sendang Jodo memiliki potensi kuat untuk menjadi destinasi wisata unggulan.
Selain kekayaan budaya, keberadaan sumber mata air yang tidak pernah surut menjadi daya tarik tambahan yang dapat dipadukan dengan konsep wisata alam.
Ia mendorong inovasi kegiatan yang berkelanjutan, seperti agenda rutin mingguan atau akhir pekan, agar kunjungan wisatawan terus meningkat.
Dengan langkah tersebut, diharapkan perputaran ekonomi masyarakat dapat berjalan secara konsisten dan memberikan manfaat jangka panjang. (dik)