Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tradisi Kupatan dan Bulusan, Saat Ketupat Disajikan untuk Tiga Bulus

Anita Fitriani • Senin, 23 Maret 2026 | 21:20 WIB
SYAWALAN BISA DILAKSANAKAN: Penyelenggaraan tradisi Syawalan diberikan kelonggaran pelaksanaannya tetapi harus terbatas dan mengedepankan protokol kesehatan. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)
 Penyelenggaraan tradisi Syawalan (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

KUDUS - Tradisi Kupatan dan Bulusan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah menjadi tradisi tahunan yang menyatukan masyarakat dalam rasa syukur setelah Idulfitri.

Setiap tujuh hari usai Lebaran, Dusun Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, menjadi pusat kegiatan budaya yang kaya makna, di mana arak-arakan gunungan dan ritual memberi makan bulus melambangkan keselarasan antara Islam, alam, dan para leluhur.

Tradisi ini menjadi pengingat nilai toleransi dan penghormatan yang telah diwariskan sejak masa Wali Songo.

Kupatan sendiri adalah perayaan Lebaran Ketupat yang khas di Jawa Tengah, di mana ketupat melambangkan makanan sederhana sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.

Di Kudus, perayaan ini mencapai intinya melalui Kirab Bulusan, di mana warga mengarak gunungan ketupat, lepet, berbagai jajanan basah tradisional, serta hasil pertanian seperti beras dan sayuran.

Ratusan orang memenuhi jalan desa sambil diiringi musik gamelan dan kenduri besar.  Acara ini juga berfungsi sebagai sarana silaturahmi antar generasi, di mana generasi muda belajar menghargai tradisi sambil mencicipi kuliner khas seperti ketupat sayur.

Baca Juga: Karangan Bunga Penuhi GOR Djarum

Keunikan tradisi ini terletak pada ritual Bulusan, di mana tiga ekor bulus suci diberi makan ketupat dan lepet oleh juru kunci Makam Mbah Dudo, tokoh desa, sampai bupati.

Bulus-bulus ini dipandang sebagai perwujudan murid Mbah Dudo, seorang santri yang dikutuk oleh Sunan Muria menjadi kura-kura karena tetap bekerja di malam hari selama bulan Ramadhan.

Legenda ini berasal dari cerita Sunan Muria, salah satu Wali Songo, yang mengajarkan disiplin ibadah kepada penduduk desa pada waktu itu.

Hingga sekarang, warga setempat merawat bulus tersebut setiap hari sebagai simbol penghormatan kepada alam dan pengingat untuk tidak melanggar norma agama.

Sejarah Bulusan sangat berhubungan dengan penyebaran Islam di Kudus, yang dikenal sebagai Kota Kretek dan pusat dakwah Sunan Kudus serta Sunan Muria.

Diceritakan, Mbah Dudo adalah guru spiritual di mana salah satu muridnya berubah menjadi bulus sebagai akibat tegurannya dari Sunan Muria, dan tradisi ini terus berlangsung sebagai bentuk penebusan dosa.

Baca Juga: Bupati Kudus Sam'ani Bersama Kapolda Jateng Meninjau Pos Pelayanan, Ini Tujuannya!

Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Pariwisata seringkali memberikan dukungan terhadap acara ini sebagai festival budaya, dilengkapi dengan pertunjukan seni dan pameran hasil bumi, yang pada tahun 2025 lalu berhasil menarik ratusan pengunjung.

Tradisi serupa juga dapat ditemukan di tempat lain di Kudus, namun Bulusan Hadipolo tetap menjadi ikonik karena memiliki nilai spiritual yang dalam.

Proses pelaksanaan ritual dilakukan secara bertahap, di pagi hari diawali dengan ziarah ke Makam Mbah Dudo, kemudian dilanjutkan dengan kirab gunungan yang dipimpin juru kunci seperti Sirajudin atau Sudasih, dan diakhiri dengan pemberian makan bulus di depan panggung utama. Tokoh masyarakat seperti Nyai Sudasih dan bupati juga ikut serta.

Tradisi ini masih relevan sebagai pengingat pentingnya toleransi antaragama, di mana umat Islam Kudus yang mayoritas memadukan ajaran Sunan Kudus mengenai kasih sayang terhadap makhluk hidup.

Baca Juga: Dini Hari Mencekam! Warung Angkringan di Kaliwungu Kudus Ludes Dilalap Si Jago Merah, Ini Dugaan Penyebabnya

Tradisi Kupatan dan Bulusan menjadi identitas Kudus dan juga berfungsi sebagai daya tarik wisata budaya di wilayah Jawa Tengah.

Untuk generasi muda, perayaan ini memberikan pembelajaran mengenai rasa syukur dan keseimbangan dengan lingkungan sekitar, sedangkan untuk para pengunjung, acara ini memberikan pengalaman yang asli dan jarang ditemukan di kota-kota besar.

Adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat, diharapkan tradisi ini dapat terus berlanjut dan menjadi jembatan antara sejarah dan masa depan Kudus yang kaya akan nilai-nilai agama dan budaya. (An)

Editor : Anita Fitriani
#bulusan #tradisi bulusan #lebaran #syawalan #Tradisi Kupatan #Lebaran Ketupat #Idulfitri 2026 #ketupat #Kudus #Kirab Bulusan