SEMARANG – Ada moment yang spesial dalam Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di lingkungan Jawa Pos Radar Semarang, Senin (9/2/2026).
Dua wartawan Jawa Pos Radar Kudus menerima penghargaan atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengembangkan serta mempertahankan peran pers.
Keduanya adalah Andika Trisna Saputra dan Fikri Thoharudin.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Direktur Jawa Pos Radar Semarang dan Radar Semarang, Baihaqi.
Apresiasi itu menjadi bentuk pengakuan atas kerja keras para wartawan yang dinilai konsisten, produktif, dan berintegritas dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Peringatan HPN tahun ini digelar dengan suasana khidmat, penuh dorongan semangat untuk kembali meneguhkan khittah pers sebagai pilar demokrasi.
Selain piagam penghargaan, para wartawan terpilih juga menerima apresiasi berupa uang tunai masing-masing sebesar Rp2 juta dan Rp1 juta.
Tak hanya Jawa Pos Radar Kudus, dua wartawan Jawa Pos Radar Semarang juga mendapat penghargaan yang sama.
Yaitu Figur Ronggo Wassalim dan Devi Khofifatur Rizqi.
Empat wartawan tersebut dinilai layak menerima penghargaan setelah melalui proses penilaian berdasarkan sembilan kriteria.
Mulai dari produktivitas, kualitas tulisan, kerajinan turun ke lapangan, kedisiplinan, integritas, loyalitas terhadap perusahaan, kemauan terus belajar, etos kerja tinggi, hingga etika dalam bekerja.
Dalam sambutannya, Baihaqi mengaitkan apresiasi tersebut dengan tema HPN 2026, yakni “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”.
Menurutnya, pers yang profesional, independen, dan berintegritas memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan ekonomi sekaligus mendorong kemajuan bangsa.
“Selamat Hari Pers Nasional. Semoga insan pers terus bertumbuh, menjaga profesionalisme, tetap independen, dan memegang teguh integritas,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan lanskap media, Baihaqi juga mengingatkan bahwa wartawan sejatinya adalah seniman.
Menulis bukan sekadar menyampaikan fakta, melainkan mengolah realitas dengan kepekaan rasa, pilihan kata yang tepat, serta struktur kalimat yang hidup.
Ia menekankan bahwa tulisan yang kuat justru lahir dari kalimat-kalimat pendek, jernih, dan bernyawa, bukan paragraf panjang yang kaku dan sekadar menyalin hasil wawancara tanpa proses berpikir.
Menurutnya, tantangan wartawan saat ini semakin berat karena persaingan tidak hanya datang dari media cetak, tetapi juga media daring dan media sosial.
Karena itu, standar kualitas, keberanian jurnalistik, dan kepatuhan pada kode etik menjadi syarat mutlak untuk bertahan.
“Kalau ingin tetap eksis, kuncinya menulis dengan benar. Mau atau tidak, itu harus dilakukan,” tegasnya.
Keberanian jurnalistik, lanjut Baihaqi, hanya bisa lahir dari liputan lapangan.
Tanpa terjun langsung, wartawan tidak akan benar-benar memahami realitas, apalagi merasakan risiko di balik sebuah berita.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Komunikasi Publik, Prokompim Setda Pati Kunjungi Kantor Jawa Pos Radar Kudus
Ia menyinggung pengalaman seorang wartawan Radar Kudus yang sempat menerima ancaman fisik usai mengungkap dugaan kasus suap hakim bernilai miliaran rupiah.
Ancaman semacam itu, kata dia, tidak mungkin muncul jika liputan hanya mengandalkan pesan singkat atau wawancara jarak jauh.
“Di situlah nilai dan harga sebuah berita benar-benar diuji,” tuturnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peringatan HPN di Jawa Pos Radar Semarang diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama seluruh karyawan, sebagai wujud rasa syukur sekaligus doa agar pers terus tumbuh kuat dan bermartabat.