KUDUS – Dugaan keracunan massal yang dialami siswa SMAN 2 Kudus setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan dampak cukup besar.
Ratusan pelajar dilaporkan mengalami gangguan kesehatan dengan tingkat keluhan yang beragam.
Wakil Kepala SMAN 2 Kudus bidang Humas, Dwiyana, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan sekitar 600 siswa merasakan gejala tidak sehat.
Baca Juga: Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Diduga Keracunan MBG, SPPG Purwosari Minta Maaf
Dari jumlah tersebut, sebanyak 112 siswa harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit hingga Kamis (29/1).
“Total siswa yang merasakan keluhan kurang lebih 600 orang. Sementara yang dirujuk ke rumah sakit sampai hari ini tercatat 112 siswa,” ujar Dwiyana saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, keluhan kesehatan tidak muncul saat makanan MBG dikonsumsi pada Rabu (28/1) siang.
Para siswa baru merasakan gejala beberapa jam setelahnya, terutama pada malam hari.
“Waktu makan soto kemarin, kondisinya masih normal. Keluhan justru muncul malam harinya,” jelasnya.
Adapun gejala yang dialami siswa cukup bervariasi, mulai dari mual, pusing, tubuh terasa lemas, hingga diare.
Bahkan, terdapat laporan sejumlah siswa yang sempat kehilangan kesadaran dan membutuhkan penanganan medis lanjutan.
Baca Juga: Menu Soto Ayam MBG Jadi Sorotan Usai Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Sakit
“Ada yang diare, mual, pusing, lemas, dan sebagian harus dirawat di rumah sakit,” tambahnya.
Pada Kamis pagi, laporan dari siswa dan guru semakin banyak diterima pihak sekolah.
Sejumlah guru juga dilaporkan mengalami diare, meskipun kondisinya tidak sampai memerlukan perawatan rumah sakit.
“Pagi tadi antar guru saling bertukar cerita, ternyata ada juga guru yang diare. Tapi tidak ada guru yang dirawat,” ungkap Dwiyana.
Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan di setiap kelas. Hasilnya, jumlah siswa yang mengalami gejala berbeda-beda di tiap kelas.
Baca Juga: 112 Siswa SMAN 2 Kudus Dirawat, Dugaan Keracunan MBG Jadi Perhatian Pemkab
“Ada kelas dengan 35 siswa yang mengeluh, ada yang 17 siswa, ada juga sekitar 20 siswa. Datanya tidak sama,” katanya.
Melihat jumlah siswa terdampak cukup banyak, sekolah langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus serta puskesmas setempat.
Puluhan ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi siswa ke sejumlah rumah sakit di wilayah Kudus.
Dwiyana juga memaparkan data distribusi MBG di SMAN 2 Kudus.
Total makanan yang dibagikan mencapai 1.178 porsi untuk siswa serta 98 porsi untuk guru dan tenaga kependidikan dengan menu yang sama.
Ia menegaskan, siswa yang tidak mengonsumsi MBG tidak mengalami keluhan kesehatan.
“Yang tidak makan MBG kemarin, tidak terdampak,” tegasnya.
Baca Juga: Keracunan Massal di SMAN 2 Kudus Diduga dari MBG, Bupati Sam’ani Intakoris Ambil Langkah Cepat
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko, menyampaikan bahwa sejak Kamis pagi (29/1), siswa mulai merasakan berbagai gejala kesehatan.
“Keluhannya bermacam-macam, ada pusing, muntah, diare, sampai sesak napas. Bahkan satu hingga dua siswa sempat pingsan,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh siswa yang dirujuk ke rumah sakit telah mendapatkan penanganan medis.
Di lingkungan sekolah, siswa yang mengalami keluhan juga ditangani melalui ruang UKS.
“Alhamdulillah semuanya sudah dalam penanganan medis. Semoga segera pulih dan kondisinya membaik,” ujarnya.
Salah seorang siswa kelas X, Galang Arkana Farizki, mengaku mulai merasakan sakit perut disertai pusing sejak pagi hari.
Baca Juga: Usai Santap Menu MBG, Puluhan Siswa SMAN 2 Kudus Mengeluh Mual hingga Diare
“Sejak pagi perut saya sakit dan pusing. Kemarin waktu makan MBG masih biasa saja, tidak langsung terasa,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Dewi Aryani, siswi kelas XII. Ia mengatakan sempat mengalami sakit perut setelah mengonsumsi MBG sehari sebelumnya.
“Kemarin habis makan perut sempat sakit. Sekarang sudah agak reda, tapi masih lemas dan pusing. Menunya soto, malamnya baru diare. MBG hari ini belum datang,” katanya.
Keluhan juga dialami Travelina Trianova, siswi kelas XII lainnya. Ia mengaku mengalami diare sejak malam hari.
“Semalam BAB sampai tiga kali. Awalnya saya kira diare biasa. Ternyata pagi ini guru mendata siswa yang diare. Kemarin menunya soto, ada cambah dan sambal. Ayamnya menurut saya agak bau,” ujarnya. (dik)
Editor : Ali Mustofa