JATI — Proses kepulangan pengungsi banjir di Kabupaten Kudus mulai berlangsung seiring genangan air yang kian menurun.
Sekitar 70 persen warga terdampak memilih kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi lingkungan dinilai relatif aman.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris meninjau sekaligus mengantar langsung pengungsi dari Posko NU Muslimat di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Minggu (25/1).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memastikan kepulangan warga berlangsung aman dan terkoordinasi.
Sam’ani menyampaikan bahwa keputusan kepulangan dilakukan secara bertahap setelah dilakukan pengecekan kondisi rumah dan akses jalan.
Meski masih terdapat genangan di beberapa titik, ketinggiannya dinilai tidak membahayakan.
“Kami mengantar warga yang sebelumnya mengungsi di Posko NU Muslimat Loram Kulon. Semua unsur terlibat, mulai dari pemerintah desa, TNI-Polri, BPBD, Banser, hingga relawan,” ujar Sam’ani.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, genangan air masih ditemukan di sejumlah ruas jalan dan rumah warga, namun berada di bawah lima sentimeter.
Pemerintah daerah tetap mendampingi warga yang memilih pulang dengan kesiapsiagaan penuh.
“Masih ada air di beberapa lokasi, tapi sudah rendah. Karena warga ingin kembali ke rumah, maka kami fasilitasi dengan pengawalan,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi peran aktif pemerintah desa yang sejak awal bergerak cepat dalam penanganan banjir, mulai dari evakuasi hingga pengelolaan pengungsian.
Di wilayah Loram Kulon dan sekitarnya, tercatat sekitar 453 warga terdampak banjir.
Menurut Sam’ani, meski sebagian besar pengungsi telah pulang, pemerintah daerah tetap mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.
Koordinasi lintas sektor pun terus dilakukan untuk menjamin keselamatan warga.
“Kami tetap siaga. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, desa dapat segera berkoordinasi dengan BPBD, puskesmas, dan kecamatan,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, keinginan warga untuk kembali ke rumah muncul karena faktor kenyamanan, meski kondisi belum sepenuhnya pulih.
“Banyak warga merasa lebih tenang berada di rumah sendiri. Namun kami tetap mengingatkan agar waspada jika terjadi hujan kembali,” katanya.
Terkait kondisi cuaca, Sam’ani menyebut intensitas hujan cenderung menurun meski hujan masih terjadi di wilayah hulu.
Genangan yang tersisa dipengaruhi oleh aliran Sungai Piji, Logung, Dawe, dan Gayam yang tertahan di tanggul serta kolam retensi.
Secara keseluruhan, sekitar 70 persen pengungsi banjir di Kabupaten Kudus telah kembali ke rumah, termasuk dari Posko NU Muslimat Loram Kulon dan sejumlah lokasi lain seperti Karangrowo.
Sebagian pengungsi masih bertahan karena kondisi genangan di wilayahnya belum sepenuhnya surut.
Sementara itu, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kudus Ahmad Munaji menyampaikan bahwa hingga kini masih terdapat 15 posko pengungsian aktif di berbagai titik terdampak.
“Jumlah pengungsi yang masih tercatat sebanyak 742 jiwa dari 284 kepala keluarga,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengungsi berasal dari berbagai kelompok usia sehingga penanganan difokuskan pada kelompok rentan seperti bayi, balita, dan lansia.
Di sisi lain, Kepala Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Sudirno, menyebutkan bahwa jumlah pengungsi yang tersentral di Posko NU Muslimat Loram Kulon mencapai 453 jiwa.
Namun, sebagian warga memilih mengungsi mandiri ke rumah kerabat di wilayah lain.
“Ada warga yang ke Loram Wetan, Jepang Pakis, hingga Megawon. Pemerintah desa setempat sudah berkoordinasi agar kebutuhan logistik tetap terpenuhi,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya