RADAR KUDUS - Pegunungan Muria dikenal sebagai kawasan yang kaya akan sejarah, budaya, dan keindahan alam.
Di balik bentang alamnya yang menawan, tersimpan kisah Sunan Muria, salah satu Wali Songo, yang meninggalkan warisan spiritual sekaligus kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kawasan Pegunungan Muria kini menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang mengancam kelestariannya.
Sunan Muria dikenal sebagai tokoh penyebar Islam di Jawa yang memilih Pegunungan Muria sebagai pusat dakwahnya.
Dalam menyebarkan ajaran agama, ia tidak hanya menekankan nilai spiritual, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga alam. Ajaran seperti rese alam, rese rogo (menjaga kesucian alam dan raga) menjadi filosofi hidup masyarakat sekitar.
Nilai ini menegaskan bahwa manusia harus mampu menata diri, menjaga hati, serta merawat alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual.
Namun, kondisi Pegunungan Muria mengalami perubahan signifikan, terutama akibat deforestasi dan alih fungsi lahan.
Di kawasan Patiayam, yang dulunya merupakan hutan lebat, penggundulan hutan pascareformasi berdampak pada hilangnya sumber air, rusaknya saluran irigasi, serta perubahan pola tanam masyarakat.
Sawah yang sebelumnya ditanami padi beralih menjadi lahan perkebunan tebu karena keterbatasan air. Dampak lingkungan pun semakin terasa, seperti meningkatnya suhu udara, berkurangnya debit air, dan degradasi tanah.
Pegunungan Muria juga menjadi habitat macan tutul Jawa, satwa langka yang kini terancam punah. Konflik antara manusia dan satwa mulai terjadi sejak 2018, ketika macan tutul turun ke permukiman dan memangsa ternak warga.
Kondisi ini dipicu oleh menyempitnya habitat alami akibat kerusakan hutan. Masyarakat dan aparat setempat kemudian melakukan upaya mitigasi konflik, salah satunya melalui sosialisasi perbaikan kandang ternak agar lebih aman dari serangan satwa liar.
Selain kekayaan hayati, Pegunungan Muria menyimpan jejak prasejarah yang penting. Kawasan Lereng Patiayam dikenal sebagai situs arkeologi yang menyimpan fosil-fosil berusia ratusan ribu tahun.
Secara geologis, wilayah Muria dan Patiayam dulunya merupakan pulau terpisah dari Pulau Jawa yang kemudian menyatu akibat aktivitas vulkanik dan pergerakan lempeng bumi.
Sayangnya, erosi dan penggundulan lahan membuat fosil-fosil kerap bermunculan ke permukaan, sehingga rawan disalahgunakan dan diperjualbelikan secara ilegal.
Sebagai respons atas berbagai ancaman tersebut, masyarakat bersama sejumlah pihak melakukan upaya konservasi.
Program reboisasi dan penanaman pohon buah menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga ekosistem sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Dukungan dari berbagai lembaga, termasuk Bakti Lingkungan Djarum Foundation, memungkinkan penanaman ribuan pohon keras dan buah-buahan di kawasan Patiayam. Upaya ini bertujuan menekan erosi, melindungi situs prasejarah, serta menjaga ketersediaan sumber air.
Di lereng Gunung Muria juga tumbuh tanaman khas bernama parijoto, buah berwarna ungu yang dipercaya memiliki berbagai khasiat dan nilai budaya.
Melalui pengolahan oleh UMKM lokal, parijoto kini menjadi produk bernilai ekonomi, mulai dari manisan hingga jamu.
Inisiatif ini tidak hanya menggerakkan perekonomian masyarakat, tetapi juga mencegah perluasan perambahan hutan dengan memaksimalkan potensi sumber daya yang ada.
Bagi masyarakat sekitar, melestarikan Pegunungan Muria bukan sekadar kewajiban lingkungan, melainkan juga bagian dari ibadah.
Filosofi bahwa hutan adalah amanah mendorong warga untuk terus menjaga alam demi keberlanjutan hidup generasi mendatang.
Kisah Sunan Muria pun menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara mengambil dan mengembalikan kepada alam adalah kunci keberlangsungan kehidupan.
Melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak, Pegunungan Muria diharapkan tetap lestari sebagai warisan alam, budaya, dan sejarah.
Menjaga Muria berarti menjaga kehidupan, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa