RADAR KUDUS - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Kabupaten Kudus disuguhkan oleh tradisi tahunan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial dan budaya, yakni Tradisi Dandangan.
Dandangan merupakan tradisi budaya khas masyarakat Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang diselenggarakan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Tradisi ini memiliki keterkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Kudus, khususnya oleh Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), yang merupakan salah satu Wali Songo.
Jejak Sejarah Tradisi Dandangan
Tradisi Dandangan bukan sekadar pesta rakyat, melainkan memiliki nilai sejarah yang panjang. Tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun silam, tepatnya pada masa Sunan Kudus.
Berdasarkan literatur sejarah, dahulu para santri dan masyarakat berkumpul di sekitar Menara Kudus untuk menunggu pengumuman awal bulan Ramadhan.
Ketika Sunan Kudus menetapkan awal Ramadhan, bedug di menara ditabuh dan menimbulkan bunyi “dang-dang”. Dari bunyi inilah istilah “Dandangan” berasal.
Seiring waktu, masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Tengah turut berdatangan. Warga tidak hanya menunggu pengumuman awal Ramadan, melainkan juga melakukan berbagai kegiatan sosial dan ekonomi, seperti berdagang makanan (UMKM), mainan, dll.
Aktivitas ini kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan yang terus lestari hingga kini. Atas nilai sejarah dan budayanya, Tradisi Dandangan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2021.
Hiburan dan Wahana Permainan
Selain stan UMKM, Dandangan juga dimeriahkan berbagai wahana permainan yang tersebar di Alun-alun Simpang Tujuh.
Mulai dari wahana ramah anak seperti trampolin dan komidi putar, hingga wahana ekstrem seperti kora-kora, ontang-anting, bianglala, dan tong setan yang selalu menarik perhatian pengunjung.
Keberadaan wahana ini menjadikan Dandangan tak hanya sebagai tempat berbelanja, tetapi juga ruang hiburan keluarga yang lengkap.
Gemerlap lampu di malam hari semakin menambah daya tarik dan membuat suasana pusat kota Kudus kian semarak.
Adanya Tradisi Dandangan menjadi bukti kuat bahwa warisan budaya lokal tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. Selain menjaga nilai sejarah dan religius, Dandangan juga berperan penting dalam menggerakkan ekonomi rakyat. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Zainal Abidin RK