KUDUS – Hujan lebat yang tak ada jeda, orang Jawa Teruma sesepuh ini sering kali dikaitkan dengan fenomena dengan Dino Renteng.
Yakni, urutan hari dalam kalender Jawa memiliki jumlah nilai Neptu (angka perhitungan hari dan pasaran) yang sama atau berurutan secara spesifik.
Secara mitologis, kesamaan nilai ini dianggap menciptakan “getaran” alam yang serupa, yang dalam konteks cuaca sering kali memicu hujan lebat yang turun terus-menerus selama beberapa hari tanpa henti (intermiten).
Menurut keterangan dari Pengamat Budaya dan Sejarah Kudus Sancaka Dwi Supani, mengatakan Dino Renteng kalau orang zaman dulu terutama petani ini untuk mengingat datangnya musim.
”Istilahnya Ilmu Titen. Pekan ini mulai Jumat (kemarin, Red) sampai Minggu (18/1) 2026 masuk Dino Renteng dengan Neptu 13. Kalau orang zaman dulu memprediksi hujan masih terjadi selama tiga hari berturut-turut,” ujarnya.
Pani menjelaskan, sistem penanggalan Jawa menggabungkan siklus tujuh hari (Minggu-Sabtu) dengan siklus lim hari pasaran (Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi).
Dino Renteng biasanya merujuk pada rangkaian hari jumlah Neptunya mencapai angka tertentu yang dianggap “berat” atau “basah”.
Meskipun sering dikaitkan dengan mitos, fenomena ini biasanya jatuh pada mangsa (musim) tertentu dalam Pranata Mangsa, seperti Mangsa Kanem (Desember) atau Mangsa Kapitu (Januari).
Ia menjelaskan, minggu ini bertepatan dengan Dino Renteng. Jumat (16/1) adalah Jumat Pon itungan Neptunya 6+7=13, kemudian Sabtu (17/1) adalah Sabtu Wage itungan Neptunya 9+4=13 dan Minggu (18/1) adalah Minggu Kliwon itungan Neptunya 5+8=13. Kemungkinan akan terjadi lagi hujan selama tiga hari.
Pani menambahkan, Dino Renteng sebenarnya pengamatan leluhur Jawa terhadap sinkronisasi antara waktu dan gejala alam.
Meskipun zaman telah berganti dengan teknologi satelit meteorologi, istilah Dino Renteng tetap hidup sebagai pengingat harmonisasi antara manusia dan semesta.
Menurut Pani, iklim zaman dulu selalu tepat sesuai Ilmu Titen orang-orang kuno. Misalkan, Maret sampai September itu musim kemarau, ada istilah September itu “Sat Sumbere” (sumber airnya kering).
Kemudian, masuk Oktober dan November awal hujan meski intensitasnya sedikit. Pani menambahkan, disebut musim Laboh (pancaroba) lalu masuk Desember masuk musim hujan dengan intensitas tinggi.
Ia menyebutnya Desember itu “Deres-Derese Sumber” (Sumbernya deras). Lalu, masuk Januari disebutnya “Hujan Berhari-hari”.
Ia juga menjabarkan kembali, perlu ketahui Dino Renteng hanya terjadi pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Dan Tidak terjadi dalam hari lain, karena itu merupakan sebuah siklus.
Dalam 1 Bulan/Sepasar/ Selapan (35 Hari) terdapat dua kali Dino Renteng, yaitu Dino Renteng 13 yang jatuh pada hari Jumat Pon, Sabtu Wage, dan Minggu Kliwon dan Dino Renteng 14 yang jatuh pada hari Jumat Kliwon, Sabtu Legi, dan Minggu Pahing.
”Pekan depan ada Dino Renteng. Ya, sekarang ini cuaca tidak bisa dijadikan Ilmu Titen lagi, jadi petani banyak yang gagal panen, karena terkena banjir,” imbuhnya. (san)
Editor : Ali Mustofa