KUDUS - Google Maps di Kudus terdapat tanda yang memicu kontroversi dengan tulisan "Perusak Alam Muria" di beberapa lokasi lereng Gunung Muria, menarik perhatian warga setempat dan aktivis lingkungan mengenai kegiatan penambangan ilegal yang merusak lingkungan.
Kejadian ini menjadi sangat populer di media sosial, yang terlihat bagaimana teknologi peta digital bisa digunakan untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan di Kudus dan sekitarnya.
Tulisan itu terdeteksi di area penambangan pasir serta penggundulan hutan di Gunung Muria, sebuah tempat yang seharusnya menjadi tujuan wisata untuk pendakian dan konservasi.
Kegiatan penambangan telah mengakibatkan banjir di Kudus dan Jepara karena hilangnya tanaman yang berfungsi menahan air, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya tanah longsor dan membahayakan habitat satwa liar.
Penduduk Jekulo dan komunitas setempat aktif memantau kondisi melalui Google Maps, membagikan bukti vandalisme seperti ukiran di pohon di grup Facebook untuk mendesak pemerintah mengambil tindakan.
Dinas Lingkungan Hidup Kudus telah melakukan razia, tetapi pengawasan masih merupakan tantangan.
Kerja sama warga dengan Google Earth diharapkan bisa memperkuat pemetaan pelanggaran, sedangkan promosi ekowisata seperti Puncak Natas Angin berpotensi menjadi solusi yang berkelanjutan.
Masyarakat di Kudus didorong untuk melaporkan masalah melalui aplikasi resmi demi menjaga kelestarian Muria. (Anita Fitriani)
Editor : Ali Mustofa