KUDUS – Banjir yang merendam Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, tak menghalangi niat sepasang pengantin untuk melangsungkan pernikahan.
Di tengah genangan air yang kembali naik pada malam hari, Rahmatul Ummah Fitriyani (28) dan Muhammad Firdaus Bagus Pratama (24) tetap menggelar akad nikah dan resepsi secara sederhana.
Pantauan lokasi, kondisi hujan dengan genangan air setinggi lutut orang dewasa menjadi latar digelarnya pernikahan sepasang insan tersebut.
Meja dan kursi berada di genangan tersebut.
Sebagian tamu yang datang menyingsingkan celananya agar tidak basah.
Sementara pengantinnya berjalan di atas kursi yang disusun menjalar di atas genangan.
Meski dalam kondisi hujan dan banir, prosesi pernikahan berjalan dengan lancar.
Akad nikah berlangsung di rumah mempelai perempuan yang berada di RT 2 RW 6 Desa Kesambi.
Sejak kemarin siang, wilayah tersebut sempat terendam banjir akibat hujan deras.
Meski air sempat surut, genangan kembali meninggi pada malam menjelang hari pernikahan, menggenangi akses jalan dan sebagian lingkungan sekitar rumah warga.
Rahmatul mengaku tidak menyangka banjir datang tepat menjelang hari bahagianya.
Menurutnya, sebelumnya tidak ada tanda-tanda atau perkiraan wilayah tersebut akan kembali tergenang.
“Belum kepikiran sama sekali. Sebelumnya memang tidak ada air,” ujarnya, Senin (12/1).
Kondisi banjir membuat seluruh persiapan pernikahan dilakukan secara seadanya.
Dekorasi dibatasi, konsumsi disesuaikan, dan penerimaan tamu dilakukan di area yang relatif aman dari genangan.
Sejumlah tamu bahkan harus menikmati hidangan sambil berdiri agar terhindar dari air yang menggenang.
Meski serba terbatas, pihak keluarga memutuskan untuk tetap melanjutkan acara.
Selain karena waktu yang sudah ditentukan, lokasi pernikahan juga sudah terlanjur tergenang sehingga sulit jika harus dipindahkan ke tempat lain.
“Kalau mau pindah juga sudah telat, airnya sudah ada,” ungkap Rahmatul.
Sementara itu, Muhammad Firdaus Bagus Pratama, mempelai pria yang berasal dari Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, menegaskan bahwa banjir tidak mengurangi makna sakral pernikahan mereka.
Ia bahkan harus menempuh perjalanan hampir dua jam lebih lama dari biasanya akibat sejumlah ruas jalan terendam dan mengalami kemacetan.
“Yang penting niat baik dan akadnya sah. Soal banjir, itu di luar kendali kami,” katanya.
Firdaus menambahkan, perjalanan menuju Desa Kesambi yang biasanya singkat menjadi lebih panjang karena harus mencari jalur alternatif.
Beberapa akses utama terendam cukup dalam sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.
Meski demikian, prosesi akad nikah tetap berlangsung khidmat, menjadi simbol keteguhan niat dan cinta di tengah bencana. (dik)
Editor : Mahendra Aditya