KUDUS – Relokasi pedagang sayur dari kawasan depan atau tepi jalan Pasar Bitingan ke Pasar Saerah mulai direspons dengan sikap legawa oleh para pedagang.
Meski mengaku masih nyaman berjualan di lokasi lama, para pedagang menyatakan siap mengikuti kebijakan pemerintah demi penataan kawasan dan ketertiban kota.
Salah satu pedagang sayur, Kunarto, warga Desa Ploso, Kabupaten Kudus, mengaku telah berjualan di tepian Pasar Bitingan selama lebih dari 20 tahun.
Setiap hari ia mulai menggelar dagangan sejak pukul 22.00 WIB hingga sekitar pukul 07.00 WIB.
“Saya jualan sayur-sayuran di sini sudah 20 tahunan. Mulai jam 10 malam sampai jam 7 pagi. Kalau kesiapan pindah ya mau enggak mau, saya ikut pemerintah saja, tidak mau melawan, daripada makin ribut,” ujarnya.
Menurut Kunarto, berjualan di depan Pasar Bitingan selama ini dirasa masih cukup nyaman karena lokasinya terbuka dan mudah diakses dari berbagai arah.
Pembeli bisa datang dari kanan, kiri, depan, maupun belakang karena berada di pinggir jalan dengan arus lalu lintas yang ramai.
“Enaknya di sini banyak orang lewat. Jadi pembeli bisa merata, enggak lewat satu pintu saja. Kalau hujan ya paling pasang terpal,” katanya.
Meski demikian, ia menilai Pasar Saerah memiliki fasilitas yang lebih baik, terutama dari sisi bangunan yang sudah beratap sehingga pedagang tidak kehujanan.
Namun, ia menyoroti persoalan akses yang menurutnya masih perlu dibenahi.
“Kalau bisa di Pasar Saerah ditambah pintu masuk. Kalau cuma satu pintu, yang laku nanti pedagang depan saja, kasihan yang di belakang. Akses ini menurut saya masih jadi PR,” ungkapnya.
Terkait biaya, Kunarto menyebut total sewa kios di Pasar Saerah sekitar Rp 40 ribu per hari yang sudah mencakup retribusi, kebersihan, dan keamanan.
Ia juga menyadari ukuran kios di lokasi baru lebih kecil dibandingkan lapaknya di depan Pasar Bitingan.
“Lapak saya di sini 5x6 meter, kalau di Pasar Saerah kiosnya 3x3 meter. Saya pesan dua, satu lapak, satu kios. Tapi ya siap-siap saja, saya sudah dapat nomor undian kios,” tambahnya.
Ia mengakui pada masa awal pindah kemungkinan akan terjadi penurunan pembeli karena lokasi yang masih baru dan membutuhkan adaptasi.
Namun Kunarto berencana menyiasatinya dengan menghubungi pelanggan lama yang sudah memiliki kontak.
“Awal-awal pasti perlu penyesuaian. Tapi langganan yang sudah punya nomor bisa saya kabari,” ucapnya.
Sikap serupa juga disampaikan pedagang lain, Arip Purnomo.
Ia mengaku tidak keberatan dengan rencana relokasi selama pedagang tetap difasilitasi tempat berjualan oleh pemerintah.
“Saya juga ikut pemerintah saja, mas. Dipindah ya pindah. Toh masih dikasih tempat, bukan dilarang jualan,” ujarnya.
Menurut Arip, meski di awal kemungkinan pembeli akan sepi, hal tersebut dinilai wajar.
Ia justru menilai kondisi di Pasar Saerah akan lebih tertib dan aman dibandingkan berjualan di pinggir jalan.
“Kalau di sini enggak ada keamanan, ya jaga sendiri-sendiri. Tapi karena sudah sama-sama kenal, ya jalan saja,” katanya. (dik)
Editor : Ali Mustofa