KUDUS – Ribuan warga mengikuti prosesi Laku Banyu Penguripan yang menjadi rangkaian peringatan Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Sabtu (3/1).
Kegiatan sakral bernuansa budaya dan religi itu secara resmi dilepas Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dari Pendapa Kabupaten Kudus dan berakhir di kawasan Menara Kudus.
Sejak awal prosesi, suasana khidmat terasa kuat.
Para peserta mengenakan busana putih, bersarung, serta beriket kepala atau blangkon.
Mereka berjalan beriringan sambil membawa obor dan kendi berisi air, diiringi banner serta bendera.
Cahaya obor yang menyala di tengah gelapnya malam menciptakan pemandangan artistik dan sarat makna spiritual.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan tersebut.
Ia menyinggung hujan gerimis yang sempat turun saat Maghrib namun reda menjelang prosesi dimulai.
“Tadi Maghrib gerimis, Alhamdulillah sekarang sudah reda. Ini pertanda bahwa kegiatan ini diridai oleh Allah,” ujar Sam’ani di hadapan peserta.
Menurutnya, Laku Banyu Penguripan tidak sekadar ritual tahunan, tetapi memiliki nilai penting dalam menjaga warisan budaya dan religi Kudus.
Tradisi ini juga dinilai mampu memberi dampak positif bagi penguatan identitas daerah.
“Semoga kegiatan hari ini berjalan baik dan lancar, serta menjadi kekuatan destinasi pariwisata dan budaya di Kabupaten Kudus,” lanjutnya.
Sam’ani menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kudus untuk terus mendukung pelaksanaan tradisi tersebut.
Laku Banyu Penguripan tercatat telah digelar untuk kelima kalinya dan terus mendapat antusiasme masyarakat.
“Pemkab Kudus mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini. Ini sudah pelaksanaan yang kelima kali, dan akan terus kita uri-uri,” tegasnya.
Ketua Panitia Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Abdul Jalil, menjelaskan bahwa prosesi Laku Banyu Penguripan merupakan upaya menghayati kembali perjalanan spiritual Sunan Kudus dan para santrinya saat merintis Kota Kudus ratusan tahun silam.
“Kita sedang memprosesikan situasi 491 tahun yang lalu, menghayati apa yang dilakukan oleh Sunan Kudus dan para santrinya. Pilihan kata ‘laku’ menggantikan ‘kirab’ menunjukkan bahwa lahirnya Kudus didasari oleh laku batin, tirakat, dan doa,” jelasnya.
Ia menambahkan, air yang dibawa peserta memiliki simbol persatuan dan keberkahan.
Air tersebut dihimpun dari berbagai sumber yang sarat nilai historis dan spiritual.
“Air berasal dari 554 punden dan belik se-Kabupaten Kudus, ditambah air dari Wali Songo, Sultan Fatah, Ibrahim Asmorokondi, dan disempurnakan dengan air zamzam,” ungkap Jalil.
Sementara itu, penggunaan obor dalam prosesi disebut bukan sekadar elemen visual, melainkan simbol pengharapan bagi masa depan Kudus.
Obor dimaknai sebagai cahaya petunjuk sebagaimana kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an.
“Dari titik api atau obor yang dibawa peserta, kami berharap Kudus yang lebih baik akan muncul, penuh cahaya, nilai spiritual, dan kebersamaan,” katanya. (dik)
Editor : Ali Mustofa