KUDUS – Suasana tempo dulu kembali terasa di Alun-alun Kulon Kudus melalui Pasar Kuliner Jadul bertema Menebar Energi Peradaban Auliya.
Kegiatan ini digelar selama tujuh hari, mulai 2 hingga 8 Januari 2026, setiap pukul 10.00–22.00 WIB, dan menjadi magnet bagi warga Kudus maupun peziarah yang rindu cita rasa kuliner masa lampau.
Pasar Kuliner Jadul merupakan bagian dari rangkaian Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus.
Selain wisata kuliner, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembukaan dan khotmil Quran, laku banyu panguripan, hingga ngaji bareng Gus Baha, sehingga memadukan unsur religi, budaya, dan ekonomi kerakyatan.
Ketua Panitia Pasar Kuliner Jadul, Hertanto Tri Saputro, mengatakan kegiatan ini bertujuan menggerakkan UMKM sekaligus melestarikan makanan tradisional yang kini mulai jarang ditemui.
Pasar kuliner jadul sendiri telah digelar secara rutin sejak 2017 dan selalu mendapat sambutan antusias dari masyarakat.
“Tahun ini kami membuka 21 stan. Pendaftarnya sekitar 40-an, padahal kuota terbatas. Seleksi dilakukan secara daring dengan syarat NIK, alamat, dan nomor telepon lengkap. Menu wajib kuliner jadul. Kalau tidak sesuai tema, kami tegas, langsung blacklist,” tegasnya.
Setiap stan dikenakan biaya sewa Rp1,4 juta yang sudah mencakup seluruh fasilitas.
Hertanto menyebut antusiasme pengunjung menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Beragam makanan khas tempo dulu tersaji di Pasar Kuliner Jadul, di antaranya awug-awug, sagu mutiara, meniran, sego goreng jadul, dawet, entho-entho, sego jagung, kinco bakar, wedang roti, nasi thiwul, hingga gethuk.
Aroma dan rasa khasnya menghadirkan nostalgia bagi pengunjung lintas generasi.
Salah satu pedagang, Melly, mengaku telah mengikuti kegiatan kuliner jadul selama lima tahun terakhir dan rutin berpartisipasi sejak 2021.
Ia menyebut penjualan selalu ramai setiap hari.
“Alhamdulillah selalu ramai. Paling sering habis itu roti maryam. Setiap hari saya siapkan sekitar 5 kilogram adonan, tiga kilonya bisa jadi sekitar 140 buah. Awug-awug juga masih banyak peminatnya,” ungkapnya.
Menurut Melly, pengunjung tidak hanya warga lokal, tetapi juga peziarah yang sengaja mampir untuk mencari kuliner tradisional.
Namun mayoritas tetap masyarakat Kudus dari berbagai kalangan usia.
Hal senada disampaikan Nabila Zahi (21), warga Tumpangkrasak, yang mengaku rutin datang setiap ada Pasar Kuliner Jadul.
Ia mengaku senang bisa menemukan makanan yang kini sulit dijumpai.
“Saya beli nasi thiwul. Baru kali ini nemu lagi karena sekarang jarang yang jual. Isinya ada sayur kangkung, tempe, teri, dan sambalnya enak. Acara seperti ini menarik, bisa mengenalkan jajanan jadul ke generasi sekarang. Kalau kangen jajanan lama, tinggal datang ke sini,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya