Permasalahan penumpukan sampah merupakan hal yang tengah terjadi di Kabupaten Kudus belakangan ini.
Kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tanjungrejo saat ini sudah mengalami overload. Dari data Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH), per hari sampah yang masuk ke TPA Tanjungrejo berkisar 170 ton. Baik organik dan anorganik.
Berkaca pada data tersebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Kudus berkolaborasi dengan gerakan Kudus Asik (Apik Resik) dan pengelolaan sampah organik yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) untuk meredam sampah sisa bahan masak dan MBG.
SPPG ingin mensukseskan program Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran, dan tidak ingin memperburuk permasalahan sampah di Kudus. Sampah-sampah organik di tiap SPPG tersebut diolah di Pusat Pengolahan Organik (PPO) Djarum Oasis untuk dijadikan pupuk kompos.
Menurut keterangan, Kepala SPPG Polres Kudus, M. Rafi’ Projo Al Jito operasional dapur MBG ini berlangsung enam hari kerja. Distribusi MBG ini dilaksanakan di 11 sekolah dan menyiapkan 3.544 porsi setiap harinya.
Jumlah porsi dan produksi makanan yang cukup besar itu menimbulkan sisa bahan masakan yang tidak terpakai menjadi sampah. Selain itu, pihak SPPG juga sering menjumpai sisa MBG yang tak termakan oleh siswa.
”Dampaknya cukup nyata ketika sampah sisa bahan masakan dan makanan tidak tertangani dengan benar, akan menimbulkan banyak lalat. Akibatnya lingkungan di SPPG tidak steril,” katanya.
Permasalahan sisa bahan masakan dan MBG tersebut telah ditangani cukup baik dan terukur. SPPG Polres Kudus bekerja sama dengan Kudus Asik untuk mengolah sampah organik tersebut.
Petugas PPO setiap hari mengambil sampah organik di SPPG Polres Kudus. Waktu pengambilannya berkisar pada pukul 10.00 atau 11.00 WIB. Sampah organik yang ditempatkan dalam tong berwarna biru tersebut diangkut dengan truk.
Setidaknya di SPPG Polres Kudus ada sebanyak 10 tong sampah organik. Menurut Projo sampah organik yang dihasilkan setiap harinya ini bisa mencapai 400 Kg.
”Berkat Kudus Asik masalah sampah sisa bahan masakan dan makanan ini bisa terbantu. Sampah organik ini diolah menjadi pupuk dan dibagikan kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, petugas Kudus Asik mengangkut sampah di semua SPPG setiap harinya. Jumlah volume sampahnya berbeda-beda besarannya. Sementara mitra SPPG saat ini mencapai 20 dapur dan akan terus berkembang ke depan.
Sampah Organik Menjadi Pupuk
BLDF berkomitmen mendukung pelestarian lingkungan dan pengelolaan sampah secara terpadu dan berkelanjutan dengan mendirikan PPO pada tahun 2018 silam.
Program Officer BLDF, Dhandy Mahendra menyampaikan, PPO didirikan merespon permasalahan sampah yang terjadi di Kabupaten Kudus. Lewat program Kudus Asik pengelolaan sampah organik ini, BLDF berperan untuk mengurangi suplai sampah yang masuk ke TPA Tanjungrejo.
Sampah organik dari hasil rumah tangga tersebut diolah di PPO Djarum Oasis. Setiap harinya, PPO mampu mengolah sampah organik sebanyak 50 ton. Sampah organik tersebut diperoleh dari 370 mitra yang terdiri dari pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), pasar tradisional, rumah makan, masyarakat, hingga korporasi di Kabupaten Kudus.
”Sampah organik ini diolah di PPO dengan mesin pencacah dan hasilnya pengolahannya menjadi pupuk organik,” katanya.
Dalam pengolahannya, sampah dicacah dengan ukuran diameter lima sentimeter. Sampah organik yang telah diolah kemudian dicampur dengan kotoran ayam dan arang.
Hasil pengolahan sampah organik tersebut menjadi pupuk organik yang akan dibagikan kepada masyarakat, serta untuk mendukung program penghijauan BLDF.
Konten Edukasi Pilah Sampah
Ajakan kepada masyarakat untuk memilah sampah secara mandiri di rumah gencar digaungkan oleh Kudus Asik lewat sosial media. Konten-konten edukasi disajikan untuk memilah dan memanfaatkan sampah organik di rumah.
Konten edukasi pilah sampah dari rumah berkolaborasi dengan Alumni MasterChef Indonesia, Isman Fajar Ridwansah. Melalui unggahan video di sosial media tersebut, Isman mengajak masyarakat memanfaatkan sampah organik menjadi barang yang bisa difungsikan kembali.
Isman sapaan akrabnya, memberikan contoh beberapa sisa bahan masakan yang tidak langsung dibuang ke tempat sampah. Sisa bahan masakan itu didaur ulang dan bisa dijadikan sebagai bumbu dapur atau fungsi lainnya.
”Salah satu contohnya tulang ayam yang saya proses dan keringkan. Tulang ayam itu bisa menjadi pupuk tanaman di rumah,” kata pria yang aktif sebagai pegiat lingkungan di Kudus Asik itu.
Isman memperkenalkan produk-produk olahan sisa bahan masakannya. Contohnya sisa kupasan kulit bawang yang tidak dibuang. Kulit bawang tersebut diproses dengan cara dicuci hingga bersih, selanjutnya disangrai, dan diblender. Alhasil proses pengolahan tersebut bisa digunakan untuk penyedap masakan.
Selain pendekatan lewat memasak, ia juga mengedukasi masyarakat dengan memanfaatkan botol-botol bekas minuman kemasan. Botol tersebut dipotong dan dibentuk sesuai dengan pola yang diinginkan.
Botol-botol tersebut disulap menjadi akuarium mini estetik oleh Isman. Selain itu, botol plastik tersebut dimanfaatkan untuk pot tanaman di rumahnya. Konten daur ulang sampah yang diunggah Isman di akun sosial medianya mendapatkan like hingga ratusan.
Lewat konten-konten pilah sampah itu, Isman ingin masyarakat bisa memulai memilah sampah organik dan anorganik dari rumah. Dengan menyortir sampah tersebut, maka sampah rumah tangga tidak seluruhnya masuk ke TPA Tanjungrejo dan bisa menjadi barang yang berguna. (gal)
Editor : Mahendra Aditya