Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ekskavasi Situs Patiayam Fokuskan Penyelamatan Fosil untuk Edukasi Publik

Andika Trisna Saputra • Minggu, 23 November 2025 | 01:25 WIB
AMATI: Para profesor mengamati dan berdiskusi terkait lapisan tanah dan fosil temuan di Situs Ngasinan Patiayam Desa Terban, Sabtu (22/11). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
AMATI: Para profesor mengamati dan berdiskusi terkait lapisan tanah dan fosil temuan di Situs Ngasinan Patiayam Desa Terban, Sabtu (22/11). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Kunjungan sederet pakar arkeologi dan geologi internasional ke kawasan Patiayam pada Sabtu (22/11) menegaskan kembali tujuan utama ekskavasi tahap ketiga, menyelamatkan fosil purba dan membuka akses edukasi yang lebih luas bagi masyarakat.

Rombongan yang hadir meliputi Prof. Dr. Truman Simanjuntak (Ketua CPAS Indonesia), Prof. Dr. François Sémah (Muséum national d'Histoire Naturelle), Prof. Dr. Ir. Sri Mulyaningsih dan Prof. Dr. Ir. Sutikno Bronto (Universitas AKPRIND Indonesia), serta Ir. Ferry Fredy Karwur (Dekan FIK Universitas Kristen Satya Wacana).

Para profesor mengawali kunjungan di Museum Purbakala Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, untuk mengamati koleksi fosil dan berdiskusi mengenai temuan terbaru.

Mereka kemudian meninjau lokasi ekskavasi Ngasinan guna melihat langsung proses penelitian, kondisi lapisan tanah, serta titik penemuan fosil gajah purba (elephas).

Kegiatan berlanjut ke Waduk Gembong, Pati, yang menjadi bagian dari rangkaian identifikasi kawasan purba di lingkup Patiayam.

Koordinator lapangan CPAS, Devi Ayu Aurora Nasution, menegaskan bahwa tujuan utama ekskavasi yang berlangsung pada 4–24 November ini adalah penyelamatan fosil.

“Ini adalah rangkaian ekskavasi ketiga. Fokus kami bukan hanya menemukan, tetapi menyelamatkan elephas gajah purba agar terjaga keasliannya dan bisa disimpan secara aman di Museum Patiayam,” jelasnya.

Fosil asli yang diangkat akan digantikan replika di titik penemuan sehingga pengunjung tetap bisa memahami konteks temuan tanpa mengganggu konservasi.

Devi menambahkan, ekskavasi ini menjadi lanjutan penelitian sebelumnya pada 2024 dan pertengahan 2025, dengan arah lebih kuat pada konservasi.

Selain gajah purba, tim menemukan gigi rusa dan satu gigi lain yang masih dalam proses identifikasi.

“Tujuan besar kami adalah mengembangkan situs ini menjadi laboratorium lapangan yang edukatif, bukan hanya lokasi penggalian,” katanya. 

Ia berharap program konservasi bisa tuntas pada 2026 sehingga manfaat edukatifnya semakin terasa bagi publik.

Peneliti BRIN sekaligus anggota CPAS, Ruly Fauzi, menjelaskan bahwa misi pengangkatan fosil di situs Ngasinan juga diarahkan untuk membuka akses pengetahuan kepada masyarakat.

“Fosil yang diangkat akan diganti replika agar masyarakat bisa melihat posisi aslinya. Ini bagian dari pengayaan riset sekaligus pengembangan destinasi wisata edukasi prasejarah di Patiayam,” ujarnya.

Ruly menilai Patiayam memiliki kekayaan fosil yang penting untuk dikembangkan.

Kondisi fosil yang terawat baik dipengaruhi episode vulkanisme masa lalu di sekitar Gunung Muria.

Temuan utama berupa elephas diperkirakan berusia 800–600 ribu tahun, disertai fauna reptiodaktil meski dalam jumlah terbatas.

“Tujuan kami bukan hanya meneliti, tapi memastikan hasil temuan dapat dimanfaatkan publik dan mendorong Patiayam sebagai pusat edukasi prasejarah,” tegasnya.

Melalui ekskavasi berkelanjutan ini, CPAS, BRIN, dan para peneliti internasional menargetkan situs Patiayam berkembang sebagai kawasan penelitian sekaligus destinasi edukasi yang memberi manfaat pengetahuan bagi generasi mendatang. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#patiayam #peneliti #fosil #arkeolog #Temuan Fosil