Ia tumbuh dalam keluarga yang peduli terhadap kesehatan dan sudah lama terdaftar sebagai peserta aktif Program JKN.
Ia tahu betul bagaimana program ini telah melindungi keluarganya dari berbagai risiko Kesehatan yang sewaktu-waktu datang.
“Sudah sejak lama saya terdaftar Program JKN, mungkin sekitar umur empat tahun hingga sekarang. Awalnya saya dan keluarga terdaftar ketika ibu saya didaftarkan oleh perusahaan sebagai peserta JKN segmen Pekerja. Dari situ kami baru mengenal program ini, dan sejak saat itu, jika berobat, kami selalu menggunakan JKN,” ujar Fania sambil tersenyum.
Fania tinggal di Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Dirinya merupakan anak kedua dari empat bersaudara, dengan total enam anggota keluarga yang semuanya terdaftar sebagai Peserta JKN.
Hampir setiap bulannya, selalu ada anggota keluarga yang memanfaatkan layanan kesehatan, baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun rumah sakit.
Beberapa hari yang lalu, Fania sempat mengalami penyakit kulit yang cukup mengganggu.
Orang biasa menyebutnya “dompo”, penyakit herpes zoster atau cacar ular yang membuat kulitnya melepuh dan berair.
“Awalnya cuma sedikit, tapi makin lama melebar. Kalau kena air atau kondisi lembap rasanya perih banget. Saya juga sudah mencoba pengobatan tradisional yang diberikan nenek semacam ramuan herbal agar cepat kering, tapi tiba-tiba badan saya demam tinggi,” ujarnya.
Kondisi Fania tidak kunjung membaik, akhirnya keluarganya membawanya ke dokter FKTP terdaftar miliknya untuk segera mendapatkan penanganan.
Namun beberapa hari setelah pemeriksaan dan konsumsi obat yang diberikan, demamnya tidak kunjung hilang, badannya juga mulai terasa nyeri dan lemas.
Akhirnya setelah tiga hari demam, dirinya yang berstatus anak sekolah itu izin sakit karena sempat mengalami pingsan.
“Waktu itu dokter bilang bahwa demam yang saya alami merupakan salah satu gejala utama yang bisa terjadi oleh pasien penderita dompo. Akhirnya dokter memberikan beberapa obat termasuk pereda nyeri dan penurun demam. Saya imbangi dengan pengobatan herbal dari nenek. Beberapa hari berlalu, saya masih demam ditambah badan nyeri dan lemas. Ibu sangat panik ketika saya pingsan, akhirnya keluarga kembali membawa saya ke dokter. Setelah pengobatan yang kedua, sekarang kondisi saya sudah membaik, tinggal mengobati bekasnya saja,” ujar Fania.
Tak hanya Fania, seluruh keluarganya pun aktif menggunakan layanan kesehatan menggunakan Program JKN. Sang Ibu rutin kontrol di RS Aisyiyah Kudus setiap dua minggu sekali karena batu ginjal.
“Sebenarnya ibu saya diminta untuk operasi oleh dokter karena ada beberapa batu hitam kecil di ginjalnya, tapi ibu saya masih takut untuk operasi. Akhirnya ibu berobat rawat jalan, berharap dengan obat, batu ginjalnya dapat luruh bersama urine dan nyeri yang dialami hilang,” ucap Fania.
Ibunya yang kerap kali mengakses layanan di rumah sakit menggunakan Program JKN menjadi semakin paham mengenai alur layanan yang lebih cepat dan mudah yaitu dengan menggunakan antrean online dari Aplikasi Mobile JKN.
“Kami awalnya direkomendasikan oleh rumah sakit, akhirnya sampai sekarang kalau berobat pasti ambil antrean online dulu, sampai di rumah sakit tinggal check in. Kalau manual sudah jelas menunggu lama banget,” ujar fania.
Selain ibunya, adiknya juga menggunakan Program JKN ketika membutuhkan layanan kesehatan ketika sakit ringan seperti demam dan batuk. Bahkan adik perempuannya sempat dirujuk ke poli penyakit dalam dan THT karena mengalami gangguan suara.
“Awalnya itu adik saya yang paling kecil tidak sengaja menelan kulit telur, suaranya jadi kecil tidak normal seperti dulu. Akhirnya berobat di FKTP kemudian di rujuk ke rumah sakit untuk kontrol dua minggu sekali,” kata Fania.
Dengan berbagai macam jenis penyakit yang diderita keluargaya, Ia bersyukur karena Program JKN bisa menjadi solusi ketika dibutuhkan, dan selama menggunakan JKN, Ia dan keluarganya tidak pernah ditarik biaya tambahan.
“Kami cukup menunjukan KTP atau KIS saja langsung segera ditangani. Pelayanannya juga cepat, tidak ada diskriminasi sama sekali. Dan menurut saya jika tidak punya JKN, pasti cukup berat ya. Sekali berobat bisa sekitar seratus ribu untuk biaya dokter dan obat, apalagi kalau sampai harus dirawat,” ujarnya.
Kini, setelah merasakan langsung manfaat JKN sejak kecil hingga remaja, Fania semakin yakin bahwa memiliki jaminan kesehatan adalah bentuk perlindungan yang sangat penting bagi setiap keluarga.
Menurutnya, Program JKN bukan sekadar bantuan saat sakit, tetapi juga wujud nyata dari semangat gotong royong bangsa.
“Saya bangga jadi bagian dari Program JKN. Program ini benar-benar membantu, apalagi untuk keluarga saya. Dengan adanya JKN, kami tidak takut lagi kalau tiba-tiba sakit, karena sudah ada perlindungan yang pasti,” tutup Fania dengan senyum lega penuh rasa syukur. (*)
Editor : Ali Mustofa