Namun, yang bisa dilakukan adalah menjaga pola hidup sehat dan memastikan diri terlindungi oleh jaminan kesehatan.
Dengan begitu, saat sakit datang, kita tidak perlu cemas karena sudah ada perlindungan yang membantu meringankan.
Salah satu bentuk perlindungan tersebut hadir melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.
Program ini hadir untuk memastikan seluruh masyarakat Indonesia baik yang mampu maupun kurang mampu tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan yang mudah, cepat dan setara.
Prinsip gotong royong dalam JKN membuat setiap peserta saling membantu, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran “orang tidak mampu dilarang sakit”.
Hal inilah yang dirasakan oleh Natasya Angelia Putri (17), siswi SMK NU Ma’arif Kudus. Sejak kecil, ia sudah menjadi Peserta JKN dan mengaku sangat merasakan manfaatnya.
“Dari awal adanya Program JKN, keluarga kami sudah terdaftar sebagai peserta. Awalnya sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI), lalu setelah ibu bekerja, kami menjadi peserta Pekerja Penerima Upah (PPU). Menjadi peserta PBI maupun yang ditanggung Perusahaan sama-sama mendapatkan pelayanan yang baik, tidak dibedakan,” tutur Natasya sambil tersenyum.
Keluarga Natasya sudah beberapa kali memanfaatkan layanan Program JKN ketika sakit.
Belum lama ini, ibunya mengalami demam dan batuk yang tak kunjung sembuh akibat cuaca yang tidak menentu
“Awalnya ibu mencoba pengobatan herbal di rumah, tapi karena belum sembuh, akhirnya saya ajak berobat ke dokter keluarga di FKTP. Pelayanannya cepat dan ramah. Ibu dicek tensinya, ditimbang berat badannya, lalu diperiksa langsung oleh dokter. Setelah diberi obat, kondisinya berangsur membaik,” jelas Natasya.
Selain sang ibu, ayahnya merupakan peserta yang rutin kontrol di RS Islam Sunan Kudus karena memiliki riwayat penyakit paru-paru.
Awalnya, sang Ayah berobat di Puskesmas Gribig, sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit untuk rawat jalan rutin.
Namun, pernah suatu ketika kondisi ayahnya tiba-tiba drop dan harus segera mendapatkan perawatan padahal tanggal kontrolnya masih lama.
“Tiba-tiba ayah merasakan sesak nafas yang membuatnya kesakitan, tanpa pikir panjang, ayah langsung dibawa ke IGD. Sembari ayah saya ditangani dan menunggu dapat kamar rawat inap, kami mengurus administrasinya dan sangat mudah sekali, cukup menunjukkan KTP dan mengisi biodata semua beres. Ayah saat itu dirawat selama empat hari, dan tidak ada biaya tambahan sama sekali,” ungkap Natasya.
Natasya juga membantah adanya anggapan bahwa peserta JKN hanya dijamin tiga hari saat rawat inap.
Menurut pengalaman saat ayahnya dirawat, kesembuhan pasien tetap yang utama. Selama masih membutuhkan perawatan, tentu pasien tidak dipulangkan.
“Kenyataannya dengan kondisi ayah saya saat itu ternyata membutuhkan perawatan selama empat hari, dan semua tetap ditanggung penuh. Perawat dan dokter juga sangat ramah, tidak ada pembedaan antara pasien JKN dan umum,” tambahnya.
Bagi Natasya, JKN bukan sekadar kartu berobat, melainkan bentuk perlindungan dan solidaritas antar warga negara.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang sadar dan mau menjadi Peserta JKN.
“Saya harap semua orang bisa terdaftar kepesertaan Program JKN. Karena berkat iuran peserta, baik yang sehat maupun yang sakit, banyak orang yang terbantu dan bisa berobat tanpa takut biaya. Program ini benar-benar wujud nyata gotong royong untuk sesama,” tutupnya penuh rasa syukur. (*)
Editor : Ali Mustofa