KUDUS – Meski mengalami penyusutan lahan pertanian pangan dalam lima tahun terakhir, Kabupaten Kudus tetap mampu mempertahankan swasembada beras.
Hal ini berkat produktivitas petani yang meningkat serta dukungan infrastruktur irigasi yang memadai.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus, Muhamad Isnuroso, menyebutkan bahwa luas lahan pertanian pangan di Kudus pada tahun 2025 mencapai sekitar 16 ribu hektare.
Baca Juga: Pengguna Jalan bakal Full Senyum, PUPR Kudus Perbaiki Jalan R. Agil Rp12 Miliar
Angka ini menurun dibanding lima tahun sebelumnya yang masih mencapai 21 ribu hektare.
“Namun untuk produktivitas padi di Kabupaten Kudus tetap terjaga. Bahkan beberapa tahun terakhir Kudus mampu swasembada beras,” ujar Isnu di ruang kerjanya, Rabu (5/11).
Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari kemampuan sebagian wilayah pertanian di Kudus yang bisa menanam dan memanen padi hingga tiga kali dalam setahun.
Selain faktor kesuburan lahan, keberadaan Bendungan Logung serta fasilitas sumur dalam dan sumur dangkal menjadi kunci keberhasilan para petani menjaga produktivitas.
Isnu menjelaskan, terdapat lima sumur irigasi yang aktif dimanfaatkan oleh kelompok tani di Kudus.
Tiga sumur berada di Kecamatan Kaliwungu, satu di Kecamatan Jati, dan satu lagi di Kecamatan Gebog.
Air dari sumur disedot menggunakan pompa listrik PLN untuk mengairi sekitar 10 hektare sawah per sumur.
"Sebelumnya petani hanya mengandalkan irigasi Waduk Kedungombo dan tadah hujan, sehingga tanam padi maksimal dua kali, bahkan ada yang hanya sekali dalam setahun. Sekarang, dengan bantuan listrik PLN untuk pompa air, petani bisa menanam hingga tiga kali dalam setahun,” jelasnya.
Isnu menambahkan, rata-rata satu hektare sawah di Kudus mampu menghasilkan tujuh ton gabah.
Dengan luas sawah sekitar 16 ribu hektare, produksi gabah Kudus mencapai sekitar 112 ribu ton per tahun.
Jumlah tersebut jauh melebihi kebutuhan konsumsi lokal.
“Dengan penduduk sekitar 800 ribu jiwa dan sebagian lahan yang bisa ditanami tiga kali, Kudus selalu surplus produksi gabah. Kondisi ini menjadikan Kudus sebagai daerah yang mandiri dan berdaya dalam ketahanan pangan,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya