Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Wedang Coro, Dudoh Kemul, dan Cerita Hangat dari Wonosoco

Zainal Abidin RK • Senin, 27 Oktober 2025 | 14:37 WIB
Sri Muryati, 61, menuangkan bahan-bahan wedang coro yang telah mendidih di dapur rumahnya RT 5/RW VI, Desa Wonosoco, Kec. Undaan, Kudus
Sri Muryati, 61, menuangkan bahan-bahan wedang coro yang telah mendidih di dapur rumahnya RT 5/RW VI, Desa Wonosoco, Kec. Undaan, Kudus

KUDUS - Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, menyimpan warisan budaya dan alam luar biasa.

Asa kuliner, alam berbukit dengan bebatuan kapur, mata air, serta cerita budaya yang erat dengan sejarah terbentuknya desa itu.

Tim Redaksi Jawa Pos Radar Kudus melakukan perjalanan ke Desa Wonosoco dari kantor Radar Kudus di Jalan Lingkar Utara Nomor 17, Bacin Kudus, mulai pukul 18.30-an WIB, Sabtu, 24 Oktober 2025.

Rombongan terdiri dari dua orang Luthfi host Jawa Pos TV  dan Zainal Wartawan Radar Kudus. Sejak sore hingga petang itu, langit Kudus diselimuti mendung.

Awalnya Tim Redaksi terlebih dahulu menjemput rekan kameramen Jawa Pos TV, Faris, di area Museum Kretek.

Faris inilah yang awalnya diandalkan tentang desa itu. Karena asli Kudus. Ternyata dia sama sakali belum pernah ke sana.

Karena sama-sama takt ahu, ketiganya mengandalkan map Google.

Cuaca semakin dingin dan petang, karena cuaca saat itu mendung. Cahaya kilatan langit saat itu terlihat sangat jelas.

”Semoga tidak hujan,” celetuk Luthfi.

Karena sama-sama tak tahu lokasi lokasi wisata desa itu, kami andalkan map google.

Saya melirik google map yang dilihat Luthfi, perjalanan dari lokasi pertama ke lokasi tujuan sekitar 45-an menit.

Perjalanan dari Kudus sampai sekitar Undaan, SPBU terdekat Babalan, Kudus, kami masih tidak khawatir.

Perjalanan kami tersendat karena perbaikan jalan. Sehingga waktu perjalanan molor sekitar setengah jam.

Sebelum SPBU Undaan, kami oleh google diarahkan masuk gang. Perjalanan saat itu masih kami anggap biasa. Karena terdapat lampu penerangan cukup.

"Tersisa 15-an menit," ujar Luthfi sambil melihat google map.

Sampai pada tugu batas Pati-Kudus yang berdekatan dengan SMK 3 Kudus, kami diarahkan untuk belok kiri. Lima menit dari lokasi itu sangat gelap. Tidak ada penerangan.

Satu-satunya penerangan Adalah lampu mobil yang menyorot jalan utama. Kanan dan kiri jalan sangat gelap.

Dari penerangan itu sempat ragu apakah memang jalan itu atau kami tersasar.

”Jalannya memang ini,” ucap Luthfi menyakinkan saya.

Dari sorotan lampu kendaraan itu, kanan dan kiri terlihat pucuk daun padi. Di bawahnya gelombang air. Ternyata itu air banjir.

Bagian kanan airnya peres dengan jalan utama. Sementara bagian kiri, di bawah jalan.

Jika pengendara tidak konsentrasi, belok kanan atau kiri, bisa saja tercebut.

Jika mengendarai malam hari, lewat jalan itu, pengendara harus ekstra hati-hati.

Keraguan kami, sempat muncul lagi. Karena di Tengah jalan air bagian kanan jalan meluap ke kiri jalan. Arus air sangat deras.

”Kalau mengendarai motor, bisa terpeleset lawan arus,” ujar luthfi lagi.

Setelah melewati lokasi luapan air sekitar lima meteran, kami berpapasan dengan warga yang mencari ikan. Kami beranikan tanya.

”Desa wonosoco masih lurus terus. Anda tidak salah jalur.”

”Banjir hanya di lokasi itu. Setelahnya tidak ada lagi,” tandas Paino, 50.

Persawahan itu jika musim kemarau atau hujan normal tidak banjir. Jika cuaca hujan lebat di area Grobogan dan sekitarnya, maka area itu banjir. 

Kami melanjutkan perjalanan sampai tiba di lokasi sekitar pukul 08.30. Kami disambut Gunodo Santoso, gaet kami selama di desa tersebut.

Kami tidak sendiri, sudah ada tim lain yang di lokasi itu. Yaitu rombongan mahasiswa Prodi IPS UIN Sunan Kudus dan tim selebgram Budi Gabut.

Wedang coro dan dudoh kemul jadi sajian khas desa itu yang dihidangkan ke kami.

Setelah ngbrol beberapa menit, malam itu pukul 20.30 juga kami diajak keliling ke pembuat wedang coro, dudoh kemul, dan utri bernana Sri Muryati. Serta pembuat jajan dari telekependem Ulin Intan Safitri.

Dari lokasi TIC Wonosoco kami susuri gang warga. Yang bikin cukup terpukau Adalah kondisi gang dan rumah desa itu yang bersih. Jalan dengan pagar warga juga tertata.

Tiap rumah dan fasilitas lainnya tersedia tempat sampah. Sehingga jika pengunjung membuang sampah tak kesulitan.

”Pengelolaan sampah di desa sini di tangani pemdes,” ujar Santoso.

Warga yang kami temui di sepanjang jalan juga ramah-ramah. Sapa-menyapa di antara kami sepanjang perjalanan.

Sampai di rumah Sri Muryati, kami diarahkan masuk ke dapur. Bentuk rumah joglo tetapi sudah dimodifikasi dari tembok berlantai keramik untuk ruang teras dan tamu.

Sementara dapur dinding masih kayu dan berlantai pelur semen. Tetapi tetap terlihat bersih.

Terdapat dua tungku atau pawon. Perapian tidak gunakan gas, tetapi kayu bakar. Masing-masing tungku digunakan untuk memasak wedang coro. Dengan wadah di atasnya dandang ukuran sekitar 10 liter.

Keahlian Muryati dalam membuat wedang coro diperolehnya dari para simbah-simbah terdahulu.

Dia belajar memasak dari simbah yang dulunya menyediakan wedang coro untuk para pencari ikan di rawa yang pulang.

”Sehabis mencari ikan dari rawa malam hari, mereka akan meminum wedang coro ini,” jelas Muryati.

”Sebagai penghangat badan.”

Bahan wedang coro itu sendiri terdiri dari tepung beras, mrica, jahe, kayu manis, serai, dan gula jawa.

Cara membuatnya, lanjut Muryati, merico, jahe, kayu manis, serai, gula jawa, air secukupnya direbus. Perebusan sampai bahan-bahan itu menyatu.

“Karena penyajian wedang coro besok pagi (Minggu, saat Pasar Sarwono, Red), tepung beras dan santan akan saya tuangkan di saat subuh.”

Karena hasil olahan itu akan dijual saat Pasar Sarwono pagi harinya. 

”Tujuannya agar tidak basi dan tetap hangat untuk dihidangkan.”

Muryati menceritakan, orang terdahulu pencaharian utamanya adalah mencari ikan di rawa. Lokasi rawa berada di batas utara-barat desa. Saat menuju desa itu kami lewati.

”Sebelumnya belum ada jalan tembus,” terangnya.

Kalau dulu saya sekolah, bukan di Kudus tetapi ke Grobogan. Karena lokasi terdekat Grobogan. Jalannya tidak lewat jalan tembus itu, tetapi jalan melewati pegunungan Kendeng ke arah timur.

Selesai mencari ikan pada malam hari itulah, tubuh biasanya kedinginan karena suhu malam hari dan basah kuyup air rawa. Badan butuh asupan hangat.

Wedang coro inilah yang kemudian disajikan. Serai, merica, dan jahe sebagai penghangat badan. Dan tepung beras sebagai sumber karbohidrat tubuh.

”Bahan seperti serai, merica, dan jahe itu sebagai penghangat badan. Untuk menghilangkan hipotermia dalam tubuh. Sementara tepung besar sebagai sumber energi. Jadi selain segar untuk badan juga membuat kenyang,” tandas salah satu tim pendamping desa dari Djarum Foundation.

Editor : Zainal Abidin RK
#desa wonosoco #wedang coro #Kudus #desa wisata