Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Kopi Street Kudus, Tren Nongkrong Anak Muda Kekinian

Andika Trisna Saputra • Minggu, 26 Oktober 2025 | 04:08 WIB
TAKAR RASA: Dua orang peracik kopi sedang membuat kopi pesanan pelanggan di salah satu street coffee di Jalan Jenderal Sudirman, kemarin. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
TAKAR RASA: Dua orang peracik kopi sedang membuat kopi pesanan pelanggan di salah satu street coffee di Jalan Jenderal Sudirman, kemarin. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Suasana malam di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Kudus, tampak ramai dengan deretan motor yang terparkir rapat di tepi jalan.

Kanan kiri ruas jalan itu kini menjadi pusat nongkrong anak muda, dipenuhi lapak penjual kopi jalanan atau yang akrab disebut street coffee.

Meski sempat diguyur hujan dan beberapa pedagang memilih tutup, sebagian lainnya tetap bertahan melayani pelanggan yang asyik menikmati malam.

Baca Juga: Ngeri! Pohon Tumbang Timpa Truk di Jalur Kudus-Pati

Di antara deretan lapak dan lampu temaram, tampak para pengunjung duduk santai menikmati kopi.

Ada yang sibuk mengobrol, bermain kartu, mabar (main bareng) game online, bermain catur, hingga sekadar menatap lalu lintas yang melintas di depan mereka.

Suasana santai dan harga terjangkau menjadi alasan lokasi ini digemari berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Salah satu pelaku usaha di kawasan ini, Albertus Adit Trianggoro, pemilik Sunday Street Coffee Kudus, menceritakan awal mula dirinya menekuni bisnis kopi jalanan tersebut.

“Dulu saya sering jalan-jalan di sepanjang Jensud, melihat anak muda yang kreatif membuka street coffee. Dari situ saya terinspirasi untuk ikut menjual kopi dan minuman premium lain, plus aneka snack untuk teman nongkrong,” ungkapnya.

Sunday Street Coffee buka setiap hari mulai pukul 19.00 hingga 00.00 WIB.

Saat hujan, Albertus menyiapkan perlindungan agar pelanggan tetap nyaman.

Baca Juga: DPRD Kudus Soroti Pembangunan GOR Lambat dan SD Negeri yang Kekurangan Siswa

“Kami sediakan lima payung besar dan satu parasut anti air ukuran 4x6 meter. Jadi meskipun hujan, konsumen tetap bisa menikmati suasana,” ujarnya.

Menurutnya, pengunjung datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pekerja muda, hingga keluarga.

“Biasanya mereka nongkrong sekitar satu jam. Yang paling laris tetap kopi, tapi banyak juga yang pesan matcha, es cendol, dan minuman nonkopi lainnya,” katanya.

Dalam sehari, Sunday Street Coffee bisa menjual sekitar 60 cup.

Baca Juga: New Posyandu Enam Bidang Desa Kedungdowo Wakili Kecamatan Kaliwungu Lomba Posyandu

Albertus menjelaskan bahwa bahan baku kopinya menggunakan biji robusta pilihan dan premium powder nonkopi, serta memanfaatkan kopi asli Muria sebagai ciri khas lokal Kudus.

Harga minuman dibanderol antara Rp8.000 hingga Rp18.000, sedangkan snack dijual mulai Rp10.000 hingga Rp20.000.

“Kami punya lebih dari 40 varian minuman dan 10 varian snack,” sebutnya.

Untuk melayani pelanggan, ia dibantu empat kru tetap, dan saat malam minggu jumlahnya bisa bertambah hingga enam orang.

Terkait ketertiban, Albertus mengungkapkan bahwa paguyuban Street Coffee Jensud sudah berkomitmen menjaga kenyamanan dan kelancaran lalu lintas.

“Kami pastikan parkir tetap tertata rapi dan tidak mengganggu pengguna jalan,” ujarnya.

Ia berharap ke depan Pemkab Kudus dapat terus bersinergi dengan para pelaku usaha muda.

“Kami ingin bisa bersama menciptakan lapangan kerja baru dan tetap menjaga hal-hal positif seperti kebersihan, ketertiban, dan ruang bagi pejalan kaki,” harapnya.

Sementara itu, Agnetha Najwa (18), warga Mlati Norowito, mengaku hampir setiap malam mampir ke kopi street.

Baca Juga: Desa Kedungdowo jadi percontohan Posyandu dengan 6 bidang layanan di Kecamatan Kaliwungu Kudus

Ia menikmati kopi sambil ngobrol dan bertukar cerita bersama temannya.

“Rasanya nyaman aja nongkrong di pinggir jalan sambil lihat kendaraan lewat. Biasanya saya datang bareng teman kerja, kadang sampai delapan orang. Saya kurang suka kopi, jadi pesan susu, taro, atau red velvet,” tuturnya sambil tersenyum.

Hal senada diungkapkan Nikmah (25), warga Jepara yang bekerja di Kudus.

“Kalau malam biasanya keluar ngopi bareng teman untuk refreshing. Setelah seharian kerja, nongkrong di kopi street bikin lebih santai,” katanya. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#kopi jalanan #Street Coffee #Kudus #nongkrong #anak muda